
Parta mengisahkan cerita yang didengarnya langsung dari penjaga depot di Punca Birat tentang ramalan Ki Ageng Suryodirejo perihal lelaki berweton Selasa Pahing yang akan menjadi penjaga Cagar Alam Talidjiwo dan Kawah Melir di Gunung Goro-Goro.
"Yang menjadi masalah adalah terbunuhnya lelaki tersebut di puncak Gunung Goro-Goro karena melarikan istri seorang pengusaha..." pungkas Parta tak meneruskan tuturnya karena menatap Laras yang menyunggingkan senyum getir ditengah kedua matanya yang basah dengan cairan lakrimasi.
"Apa dia penduduk desa ini?" pancing Lastri. Janda kembang disisinya itu menggeleng.
"Lelaki itu bukan penduduk desa ini. Dia berasal dari Gorontalo dan mengunjungi sahabat masa kuliahnya, seorang terapis herbal yang menjalankan praktik pengobatan alternatifnya disini," tutur Bu Mintarsih, menoleh iba pada putrinya, "Laras saat itu telah berstatus sebagai istri dari seorang bernama Mahendra Danuraga, dalam adat nikah gantung."
"Siapa nama mereka berdua?" tanya Parta tiba-tiba.
"Mereka berdua?" gumam Bu Mintarsih.
"Itu, yang ngekost dirumah ini," tambah Parta.
Bu Mintarsih tersenyum, menangkap aura kecemburuan yang terpancar dari raut wajah lelaki itu. Parta akhirnya menyadarinya dan merutuki dirinya habis-habisan dalam hati.
"Sadewa Sudamala, dia seorang dokter spesialis integratif dan..." ujar Laras terdiam, tak sanggup menyebut nama lelaki yang telah mencuri hatinya itu. Lastri kembali memijit pundak wanita itu, memberinya penguatan moril.
"Jenar Anggara, mahasiswa tingkat akhir dari IAIN Sultan Amai Gorontalo," sambung Bu Mintarsih menatap lekat Parta, menemukan secercah kilatan cemburu didalam tatapan lelaki itu. Parta langsung melengos menyembunyikan kecamuk hatinya. Lastri justru tersenyum geli melihat suaminya dipermainkan perasaannya.
"Kamar yang kalian tempati dulunya adalah kamar mereka berdua," tambah Bu Mintarsih menguji respon lelaki itu. Parta langsung meneguk salivanya. Wanita parobaya itu kemudian menunjuk sebatang pohon mangga muda yang menjulang disudut kiri pagar hidup, "tanaman itu, benihnya dipetik langsung oleh Jenar Anggara di Hutan Alas Talidjiwo yang terkenal angker."
"Setiap lelaki moderen mungkin saja tidak mempercayai hal-hal bersifat takhayul. Tapi, setiap kamu menyanggah... Ibu malah kepikiran dengan Jenar Anggara. Kalian berdua agak mirip," sambung Bu Mintarsih lagi, membuat Lastri tercekat.
"Tapi suamiku nggak petantang-petenteng disini. Juga nggak pernah mengolok-olok tradisi dan adat istiadat di desa ini Bu," sanggah Lastri lalu menatap Parta, "iya kan, Ta?"
"I-iya," jawab Parta, gagap.
Bu Mintarsih hanya tersenyum menatap Lastri, "kan Ibu hanya mengungkapkan beberapa kemiripan. Yang jelas suamimu bukanlah Jenar Anggara yang amat pemberani memasuki Hutan Alas Talidjiwo sendirian hanya untuk menyelamatkan Laras yang tersesat sendirian disana. Dek Parta juga bukan Jenar yang mampu berdiskusi dengan Mbah Sihung Ireng dan membangkitkan amarah Kawah Melir, meski mahasiswa skeptis itu tak pernah mempercayai peristiwa-peristiwa mistis yang melingkupi dirinya," kilahnya pada jilbaber itu.
"Siapa Mbah Sihung Ireng?" tanya Lastri.
"Seekor macan kumbang, penguasa Hutan Alas Talidjiwo. Aku menyaksikan sendiri... Mas Jenar..." ujar Laras seakan berat menyebut nama itu, "...berdikusi dengannya,"
"Tapi orangnya sudah mati sekarang," sahut Lastri, ikut termakan cemburu.
"Mbakyu," tegur Laras, pias kemudian menggelengkan kepalanya beberapakali meminta jilbaber itu untuk menahan lidahnya.
"Maaf, Jeng... aku kelepasan omong," sesal Lastri.
"Mbakyu, tolong jangan sebut-sebut namanya lagi. Aku takut..." pinta Laras memelas.
"Kenapa Jeng?" tanya Lastri.
"Kematiannya membawa peristiwa yang mengerikan, menimpa Dukuh Kinasih dan dua desa disekitar lereng Gunung Goro-Goro. Selain penampakan mega abang yang dipenuhi bledek di Kawah Melir, wilayah lereng gunung ini dihantam angin lesus selama tiga hari disusul gempa yang mengguncang wilayah Malang dan sekitarnya," tutur Lastri lirih dan gemetar.