
Pagi dipertengahan wayah byar, seorang bujang muncul dari seketheng tiba di gandhok kiwo dimana Bu Mintarsih duduk santai di dingklik sambil membatik kain yang membentang diatas gawangan, dibantu Laras yang memanaskan lilin dalam wajan yang dipanaskan di kompor. Canting yang bergerak melukis kain itu berhenti ketika penggenggamnya menoleh ke arah bujang tersebut.
"Ono opo?" tanya Bu Mintarsih.
"Nyai Endah Gumelar wis dumigil rawuh, Bu," jawab bujang itu.
"Oh ya?" seru Laras, kemudian menatap sejenak pada ibunya. Bu Mintarsih mengangguk dan wanita itu langsung bangkit dan berlari kecil ke seketheng disusul oleh bujang tadi. Tiba di pelataran, Laras melihat seorang wanita parobaya mengenakan kebaya gaya sunda dan jarik motif kawangan berdiri didepan gerbang.
"Uwa Endah!" seru Laras girang dan berlari-lari mendekati wanita parobaya itu.
"Ehhh, Cah Ayu," sambut Nyai Endah Gumelar mengembangkan tangannya dan keduanya berpelukan erat melepas rindu.
"Aku kangen lho, Wa!" seru Laras, bermanja-manja.
Nyai Endah Gumelar tersenyum dan mencubit gemas hidung ponakannya yang bangir itu. Keduanya kemudian menyeberangi pelataran langsung ke gandhok kiwo. Bu Mintarsih sendiri meletakkan canting pada tatakan kemudian bangkit menyambut kakak sulungnya.
"Piye kabare, Neng?" sapa Nyai Endah Gumelar saat memeluk adik bungsunya.
"Apik tenan, " sahut Bu Mintarsih, "Teh Endah mah katingal panggeulisna,"
"Ah, bisa waé maneh," balas Nyai Endah, memperhatikan payudara Bu Mintarsih yang dibalut kebaya, "maneh mah nu makin seksi, éta susuna makin padet waé," godanya kemudian menyentuh dan meremas bongkahan padat itu. Bu Mintarsih tertawa kemudian membawa kakak sulungnya itu duduk di bangku risban.
"Bagaimana kabar Kang Galih?" tanya Bu Mintarsih, langsung membuat wajah ceria Nyai Endah Gumelar memudar berganti raut sedih.
"Nggak usah sebut nama jalma nu baragajul itu," jawab Nyai Endah Gumelar agak ketus dan melengos. Bu Mintarsih menyunggingkan senyumnya, memahami perasaan kakak sulungnya tersebut. Dibelainya pundak perempuan itu.
"Kelihatannya, gaya cunihilnya nggak ilang-ilang ya?" komentar Bu Mintarsih kemudian menatap putrinya, "Laras, coba kamu tengok gandhok tengen, lihat apa mereka sudah bangun,"
"Nggih, Bu," sahut Laras kemudian berbalik pergi.
"Eh, kenapa anak kita itu? Dia agak maksa lho pengen ketemu. Kangen mah alasannya tuh," celetuk Nyai Endah Gumelar.
"Mungkin saja dia lagi kesemsem sama seseorang, Teh," jawab Bu Mintarsih.
"Haaaah? Siapa atuh Asih? Bejaan kuring," respon Nyai Endah Gumelar langsung gembira, menepuk paha adiknya.
"Laras belum bilang. Nanti tanyakan saja padanya," sahut Bu Mintarsih.
"Kapan Dian kemari Asih?" celetuk Nyai Endah Gumelar menerawang sejenak.
"Wah, Dian mah sudah senang hidupnya di Mertojoyo. Buat apa dia kemari?" Sahut Bu Mintarsih mengulum senyumnya.