
Laras Prabatmi menemani pasangan suami istri itu menikmati makan pagi mereka yang kesiangan. Wanita itu tersenyum-senyum sambil menikmati olahan rujak pepaya berkuah cuka manis, sedikit pedas.
"Habis ini, aku jadi pemandu turis kemana nih?" pancing Laras.
Lastri sejenak menelan makannya, kemudian mengangkat wajahnya menatap wanita dihadapannya, "menemui Nini Kanthi."
"Serius nih?" tukas Laras, meletakkan mangkuk yang sudah kosong.
Jilbaber itu mengangguk, kemudian menatap suaminya. Parta menghela napas sejenak sambil membersihkan jemarinya di kobokan, lalu menyambung, "Lastri berpikir bahwa Nini Kanthi ada sedikit hubungannya dengan ini."
"Kalau begitu, kita memerlukan senjata," respon Laras, serius.
"Senjata? Untuk menghadapi nenek itu, kita memerlukan senjata?" tukas Parta lalu terkekeh sejenak menatap Lastri, "yang benar saja."
"Ikuti saja kata Laras, Ta," usul Lastri, membenarkan pendapat Laras.
"Kamu juga?" cemooh Parta.
"Mas Parta, kamu boleh saja menganggap Nini Kanthi hanya seorang nenek renta, jalannya bungkuk dan butuh pertolongan," sela Laras kemudian menatap Lastri, "tapi dia bukan perempuan sembarangan! Hanya kalian berdua yang nggak tahu seberapa saktinya nenek itu."
"Kalau nenek itu macam-macam, aku akan menghajarnya pakai ini!" tandas Parta memperlihatkan kedua tinjunya. Lastri melengos dan mencelupkan jemari-jemarinya ke kobokan.
"Kalau menghadapi preman-preman biasa, aku tak sangsi dengan kedua tinjumu Mas. Tapi ini..." tekan Laras kemudian mendesah dan melengos, "ah, sudahlah..." ujarnya kemudian bangkit dan berbalik pergi, "tunggu aku di pelataran depan," pesannya sebelum masuk ke omah jero.
Pasangan suami istri itu menyelesaikan kegiatan makannya dan pamit kepada emban yang mendampingi mereka. Keduanya memasuki gandhok tengen terus menelusuri selasar yang mengarah ke seketheng depan.
"Ada baiknya ikuti saran Laras, ta," ulang Lastri lagi.
"Sudah berapa kali kubilang? Tinjuku sudah cukup membungkam mulut cerewet nenek itu kalau dia tidak mampu mengerem lidahnya," tampik Parta, datar.
Mereka tiba di pelataran. Disana, Laras sudah berdiri menyandang gandewa ditangan kirinya sedang ditangan kanannya tergenggam sebilah belati khas Gurkha yang tersarung. Endhong berisi anak-anak panah tergantung dipunggung. Ketika pasangan suami istri itu mendekat, Laras langsung menyodorkan belati ditangannya pada Parta.
"Apa ini?" tanya Parta.
"Ya Allah, Ta. Nggak lihat kalau itu belati? Emangnya pisau dapur? Kita kan nggak ngupas buah?" sahut Lastri, kesal dengan suaminya.
"Ya, aku tahu itu kukri. Tapi buat apa?" tukas Parta.
"Nggak usah ndablek, Mas!" gerutu Laras langsung meletakkan senjata tikam itu ditelapak tangan Parta. Terpaksa lelaki itu menggenggam kukri tersebut dan menyelipkannya dibalik pinggangnya.
"Ada juga pistol di dasbor mobil," pancing Parta, yang agak kesal.
"Ah, itu juga perlu," seru Lastri hendak berbalik menuju Toyota Kijang Innova yang terparkir namun suaminya langsung mencekal lengan jilbaber itu.
"Malu-maluin saja bawa-bawa pistol," omel Parta kemudian menatap Laras, "kita bukan mau berburu hewan buas, kan?"
"Dialah hewan buasnya, Mas!" tandas Laras kemudian pergi mendahului Parta. Lastri tertawa dan langsung mengejar Laras sambil memanggil suaminya.
"Mission start, Ayank Beb!" seru Lastri. Parta mendesah kasar lalu menyusul keduanya.
"Aku nggak nyangka kamu nyimpan belati," sindir Parta saat dirinya berada dibelakang dua perempuan itu, menelusuri jalanan desa yang dibalut balok-balok paving block.