
Lastri dan Parta terhenyak kaget dengan penuturan Laras. sesaat kemudian terdengar lagi tawa milik Nini Kanthi yang melengking mengingatkan sepasang suami istri itu akan tawa ikonik seorang tokoh penyihir yang hidup di era Kesultanan Mataram Islam.
"Tawanya mirip Mak Lampir," desis Lastri, langsung diiyakan oleh suaminya.
Nini Kanthi kemudian menatap tajam pasangan suami-istri itu. Telunjuknya terarah pada Lastri, "kau! Krosak Balung Kuning!!! Bawa segera Kembang Bahu Laweyan ini bersamamu!"
Lastri langsung merasakan seluruh bulu kuduknya meremang dan wajahnya mulai memucat. Parta memperhatikan istrinya kemudian menatap geram ke arah Nini Kanthi.
"Anda bilang istriku, cengkaruk?" pekik Parta marah lalu melengos kesana-kemari, "waaah, kurang ajar juga mulutmu ya, Nek?"
"Rupanya kau tidak mengenali sisi lain istrimu? Payah!!!" sergah Nini Kanthi tiba-tiba melesat maju ke arah pasang suami istri itu.
Swiiiiinggg... tap!!!
Laras dengan sigap menyentakkan tali sendhengnya menyebabkan anak panah yang terpasang disana seketika terlontar cepat. Nini Kanthi tiba-tiba menahan langkahnya dan jemarinya yang cekatan terulur cepat menangkap proyektil itu.
"Ahhh..." seru Parta, kaget.
Nini Kanthi tertawa dan menggoyang-goyangkan anak panah itu ke hadapan Laras, "kau terlalu meremehkanku, Nduk!" cemoohnya, tiba-tiba merubah arah serangan menuju ke arah wanita berambut pendek shaggy bob itu.
"Laras!!!" seru Parta, memperingatkan. Namun Laras terlambat menanggapi serangan itu.
Dugh!!! Auw!
Ayunan tongkat bercabang dari kayu ulin itu dihantamkan ke lengan Laras, membuat genggamannya pada cengkolak terlepas dan busur tradisional itu jatuh ke tanah.
Prak!!! Auw!!!
Belum sempat Laras bertindak, batang tongkat kembali dihantamkan Nini Kanthi ke pinggang Laras, membuat perempuan itu terjejer ke belakang sambil mengaduh kesakitan.
"Hentikan, Nek!!!" seru Parta maju sembari menghunus kukri kemudian menyerang Nini Kanthi. Nini Kanthi langsung berbalik menyerang Parta. Lelaki itu segera menyilangkan kedua tangannya.
Buagh!!! Uuuuhhh...
Hantaman tongkat membentur titik ditengah silangan tangan. Parta melenguh kesakitan dan tubuhnya luruh ke tanah dalam sikap setengah berlutut. Rahang lelaki itu mengencang dan kedua tangannya gemetar menahan daya tekan tongkat yang dipukulkan Nini Kanthi padanya.
"Aku tidak membawa niat buruk padamu, Nek. Kenapa kau menyerang kami?" erang Parta menahan nyeri dikedua lengannya.