
Lastri yang dirasuki ruh Jenar Anggara kemudian menurunkan Laras setelah itu menatap suaminya, "kamu tolong jaga dia ya?" pinta jilbaber itu kemudian menatap Nini Kanthi dan melangkah maju sambil meremas-remas jemarinya, menimbulkan bunyi gemeletuk, "aku mau menasihati perempuan itu."
Parta hanya bisa terpaku bersama Laras yang terkesima saat jilbaber itu melangkah gagah hingga berdiri dalam jarak dua meter dihadapan Nini Kanthi. Penyihir tua itu terkekeh menatap perempuan berjilbab yang menatapnya dengan sorot dingin mengintimidasi.
"Lucu melihatmu dalam bentuk perempuan, Jenar," ejek Nini Kanthi.
Lastri mengamati tubuhnya sendiri lalu mendesah sejenak dan terkekeh, "yaaa... kau benar. Tapi aku akan membiasakan diri," ujarnya kemudian menudingkan telunjuknya ke arah Nini Kanthi, "lagipula, aku sudah cukup bersabar dengan apa yang kau lakukan. Terlebih lagi, kau benar-benar melecehkan harga diri seorang bangsawan dari Pakuan Utara. Apa pikiranmu lagi meng-meng?" ejek Lastri memutar telunjuknya di pelipis.
Nini Kanthi mendengus, "semestinya kau menikmati sanjungan dan penghormatan para pengalasan di Punca Birat. Bukankah kau sekarang menjadi dewa pelindung mereka?"
"Aku nggak berbakat jadi tuhan, Nini Kanthi. Itulah sebabnya aku disini, sekarang!" seru Lastri kemudian memasang postur kamae-te. Parta terkejut menatap istrinya yang menggunakan gaya bertarung ala praktisi Karate-Dō.
"Majulah Jenar!!! Aku mau lihat bagaimana kehebatanmu setelah menjadi danyang penunggu Hutan Alas Talidjiwo dan Kawah Melir! Kemarilah!!!" balas Nini Kanthi lantang.
"Okney! Ngana yang minta, yeeee?" seru Lastri yang dirasuki itu langsung berlari menerjang Nini Kanthi dan melayangkan tendangan mae tobi geri mengincar dagu Nini Kanthi. Gelagapan nenek itu menarik wajahnya menjauh, tak menyangka jilbaber itu menjadi lincah gerakannya saat dirasuki sosok astral.
"Jancuk!!!" umpatnya jengkel.
Tidak berhenti disitu, Lastri kembali melompat ke depan berpusingan melayangkan ushiro tobi geri dan berhasil menyodok dada Nini Kanthi membuat nenek sakti itu terjengkang ke belakang. Parta jadi takjub dan kagum menyaksikan betapa lincahnya sang istri yang dirasuki oleh Jenar Anggara. Sifatnya yang begitu anggun dalam feminitasnya, semakin elegan dengan gaya maskulinnya saat melancarkan teknik-teknik pukulan dan tendangan karate itu.
Nini Kanthi berulangkali melayangkan tongkatnya, memukul kesana kemari. Lastri begitu tangkas menangkis dan balas menyerang. Jilbabnya yang panjang itu berkibar bagai bendera perang. Tatapan matanya garang dan tajam identik dengan tatapan seorang petarung yang sementara berlaga di matras pertandingan.
"Jenar Anggara seorang karateka ya?" tanya Parta.
"Kayaknya... entahlah," jawab Laras sembari menyusuti airmata yang sempat jatuh membasahi pipinya. Parta kembali menatap ke pertarungan yang berlangsung.
"Lastri jadi kelihatan garang. Kelembutan dan keceriaannya hilang," komentar Parta lalu tertawa geli. Laras sendiri hanya tersenyum.
"Biarkan saja Mas," sahut Laras. Lelaki disampingnya hanya menggaruk kepalanya sambil manggut-manggut.
Kembali ke pertarungan. Nini Kanthi benar-benar terpojok! Keangkuhannya hilang. Tubuh renta Nini Kanthi terlempar lagi berguling-guling ditanah. Lastri menjejak tanah dengan bagus dan melompat-lompat pelan membuang lelahnya. Sementara itu, Nini Kanthi bangkit dengan gemetar, bibirnya yang berlumur darah itu gemetar, kelihatnnya merapal sesuatu.
"Lanjuuuut!!!" sergah Lastri maju menerjang lagi. Tiba-tiba tiba-tiba gerakannya tertahan dan seketika tubuh jilbaber tersebut jatuh ke tanah dan kelojotan. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang seakan mau pecah sementara kedua mata lentiknya melotot.
"Arrrrrggghhh! Aaaarrrgghhh!" erang Lastri, kesakitan. Didepannya, Nini Kanthi terkekeh-kekeh mengarahkan telapak tangannya yang membuka ke arah Lastri.