
Senja melewatkan waktu ashar endhok. Dinding senthong itu meredam senja dalam sekat-sekat kayu yang menua. Cahaya jingga merayap lemah dari celah genting, membiaskan debu yang menari lambat di udara. Siluet tubuh Laras jatuh di atas kasur, tak bergerak, bagai lukisan yang kehilangan pelukisnya. Tiap embus napasnya terdengar lamat, berkejaran dengan suara detik jam dinding yang berdetak nyaring, sedang tatapan matanya mengarah ke satu titik kosong
Bayangan peristiwa tadi berkelebat kembali dalam benaknya. Laras benar-benar menyesali sekaligus merutuk dalam hati saat membayangkan pertempuran mereka pertarungan itu. Jika saja Lastri tidak dirasuki oleh ruh Jenar Anggara, bisa jadi mereka bertiga tidak pulang selamat saat ini. Semua ini adalah keajaiban yang kebetulan saja.
"Kau! Krosak Balung Kuning!!! Bawa segera Kembang Bahu Laweyan ini bersamamu!"
Sepasang kejora dikelopak mata perempuan berambut pendek shaggy bob itu memicing, memikirkan ucapan Nini Kanthi perihal Balung Kuning.
"Hmmm... rupanya seperti itu," gumam Laras menyimpulkan.
Sulastri Puspawicitra adalah satu dari sekian orang-orang langka yang menyandang predikat tulang wangi. Dalam pembuluh darahnya mengalir darah manis yang disukai kaum dedemit. Bisa jadi, itulah yang membuat dirinya mampu dirasuki oleh sosok astral karena hakikatnya penyandang tulang wangi itu memiliki kepekaan batin yang tinggi terhadap eksistensi gaib dan selalu lekat dengan peristiwa-peristiwa gaib seputar Malam Satu Suro.
"Keur ngahuleng naon, Neng?" celetuk seseorang, membuat Laras terhenyak kaget dan langsung menatap ke tirai pintu senthong yang tersibak. Nyai Endah Gumelar berdiri disisi pintu dan mengulas senyumnya. Ditangannya tergenggam sebuah kotak, agak panjang terbuat dari kayu ulin yang berukir motif bunga matahari.
"Wa Endah, bikin saya kaget saja," rutuk Laras.
Nyai Endah Gumelar tertawa dan masuk kemudian duduk disisi ponakannya di pinggir ranjang itu. Keduanya bertatapan sejenak dan perempuan bersanggul gaya cepol itu kemudian membelai untai-untai galer disisi telinga Laras.
"Melamun apa, Neng geulis? Lalaki?" todong Nyai Endah Gumelar sembari meletakkan kotak berukir itu disisinya.
Laras tersenyum dan menggeleng lalu menjawab, "sejak pernikahan itu, saya tidak sedikitpun memikirkan lelaki, Wa."
Nyai Endah Gumelar manggut-manggut. Setelah menarik napas sejenak, wanita parobaya itu kemudian mengujar, "kau tidak sepenuhnya bersalah, Laras. Perjodohanmu dengan Mahendra bukan didasarkan atas rasa suka dan cinta. Wajar jika kamu masih memiliki ketertarikan kepada lelaki lain. Hanya saja, dari segi agama... hal itu merupakan tindakan yang amat tercela."
"Saya paham, Wa," sahut Laras.
"Tapi, dua tahun tinggal bersama bulikmu. Apakah tidak ada sedikitpun pemuda atau bujang lapuk di Mertojoyo itu yang menarik hatimu?" selidik Nyai Endah Gumelar.
Laras tertawa, "saya masih ingin menikmati hidup, Wa."
"Eh, jangan-jangan kamu sudah ketularan Bulikmu itu? Sampe sekarang nggak kedengaran atuh si Dian kawin jeung lalaki di ditu," tukas Nyai Endah Gumelar.
"Nggaklah, Wa. Suatu saat, aku pasti akan menemukan lelaki pilihanku sendiri," tandas Laras, mantap. Nyai Endah Gumelar kembali manggut-manggut. Tebersit sesuatu dalam ingatannya. Ditepuknya lagi paha ponakannya itu.
"Eh, kamu kenapa suruh Uwa kemari? Kalau bahasa kangen mah, Uwa nggak percaya!" cecar Nyai Endah Gumelar lagi. Laras menghela napas panjang menimbang-nimbang, apakah hal ini harus disampaikan secara jujur kepada bibinya ataukah memendam saja yang akan membuatnya terus didera rasa penasaran.
"Wa... janji dulu, kalau Uwa nggak akan marah," pinta Laras, sungguh-sungguh.