
Hari memasuki tibralayu. Parta masih betah duduk disisi ranjang trundle itu, menjagai istrinya yang tergolek sampai saat ini belum tersadar dari pingsannya. Matanya menatap Lastri lekat-lekat. Ketika angin malam mulai membisiki lelaki itu mengulas peristiwa dimana Lastri berhasil mempecundangi Nini Kanthi, bahkan mengakhiri kedurjanaan penyihir itu menyadarkan Parta bahwa wanita yang ia cintai selama ini ternyata hidup di dua dunia yang berbeda.
Parta terdiam kaku, menekuri lantai. Kaki-kakinya terasa goyah. Kenyataan yang selama ini dia bantah kini terpampang didepan mata. Dulu, ketika Lastri sering bicara tentang entitas gaib yang ada dirumah mereka, Parta menganggap istrinya hanya bercanda, bahkan sengaja mengolok dan mencemooh ketika istrinya berkata sering mendengar suara-suara lembut dari balik pepohonan tua dan batu-batu nisan bisu di pemakaman umum Merjosari. Namun setelah peristiwa tadi siang, Parta dipaksa menerima kenyataan kalau Lastri memang eksis di antara realitas dan misteri yang tak kasat mata. Istrinya itu tidak sendiri.
Ada rasa takut merayap di dada Parta, berbalur dengan rasa kagumnya terhadap sigaraning nyawanya itu. Kekasihnya itu anggun berdampingan dengan bayangan dan angin. Bahkan ketika dirinya dirasuki oleh penguasa Hutan Alas Talidjiwo yang menjagai Kawah Melir, sang istri tetap menampakkan keanggunannya sebagai seorang wanita bermartabat dibalik pembawaan Jenar Anggara yang amat maskulin.
"Tri, nggak kusangka... duniamu terlalu luas dan dingin untuk digapai oleh manusia biasa sepertiku," gumam Parta, merasa kecil pada dirinya sendiri.
"Bagaimana aku bisa melindungimu dari entitas-entitas tak berwujud itu? Bagaimana kalau ruh Jenar Anggara atau yang lainnya menguasaimu, membuatmu menjadi sosok lain yang tidak kukenal?" erang Parta lirih dan meremas rambutnya sendiri. Di ujung rasa takutnya, Parta menyadari sesuatu hal. Ia tidak ingin pergi. Ia harus menjadi sauh bagi jiwa Lastri yang liar di alam gaib. Dia adalah lelaki yang paling tepat untuk itu.
Parta merunduk dan mengamati wajah istrinya. Senyum lelaki itu tersungging. Dia mendekat dan membisik ditelinga Lastri, "maafkan aku yang selama ini selalu menyangkal kenyataan unik dalam dirimu, Sayang."
Lastri masih diam. Parta melanjutkan lagi, "aku janji, setelah ini... aku akan menerima keseluruhan dirimu."
"Makasiiiihhh Taaaa..." erang Lastri lirih, tiba-tiba mengejutkan Parta, membuat lelaki itu langsung menegakkan dirinya menatap sang istri dengan nanar. Perlahan Lastri membuka mata dan menyunggingkan senyumnya.
"Tri..." panggil Parta, tercekat.
"Aku senang mendengarnya, Ta. Ulangi lagi dong, supaya aku yakin," ujar Lastri, manja.
Seketika Parta langsung menyerbu bibir istrinya. Lastri sejenak kaget, namun pada akhirnya dia menerima perlakuan tulus kekasihnya itu. Diranjang itu keduanya berpelukan, saling mendekap dan menguatkan hati.
"Kau membuatku cemas, Tri," bisik Parta.
"Tentang apa?" tanya Lastri, melepaskan pelukan suaminya.
"Kamu nggak sadar kejadian saat kau dirasuki Jenar Anggara di Alas Sanggrahan saat kita menghadapi Nini Kanthi?" bisik Parta lagi. Seketika Lastri langsung teringat dan wanita itu langsung bangun, seakan tubuhnya tiada lagi merasakan pegal. Dia duduk bersila didepan Parta.
"Iya! Eh, gimana itu Nini Kanthi? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lastri, penasaran.
"Kita mengalahkannya, Tri. Kita bertiga mengalahkannya!" jawab Parta, tersenyum.
"Wah! Itu bagus sekali! Sekarang dimana nenek itu?" tanya Lastri lagi.
Parta terdiam sejenak kemudian menghela napas lalu menjawab, "tewas, Tri. Dia sudah dimakamkan tadi siang di pemakaman umum."
Mata Lastri membulat dan tangannya langsung membekap mulutnya. Parta mengangguk saja. Tiba-tiba perempuan berambut panjang bergelombang sepinggul itu bangkit turun dari ranjang trundel dan mondar-mandir diruangan itu.