PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #24

TUNTUTAN DI TENGAH JALAN


Sedan Timor S515 telah melewati Talang Geni dan sekarang menyusuri hutan konservasi di Punca Birat. Di jok belakang itu, Galih Sungkai duduk santai dan sesekali melirik sembunyi ke arah garwa padminya yang memilih menatapi kegelapan yang tersaji dari balik jendela mobil.

"Nyai," panggil Galih Sungkai.

Nyai Endah Gumelar yang semula asyik mengamati pemandangan malam ngisa dari balik jendela mobil kemudian menoleh menatap suaminya. Galih Sungkai menghela napas sejenak kemudian jemarinya terulur hendak menyentuh dagu istrinya.

Tap!!! Hmmm!!!

Galih Sungkai tertegun ketika pergelangan tangannya langsung dicekal oleh istrinya. Perempuan disisinya itu mengulas senyum dingin.

"Nggak usah berbasa-basi lagi Galih. Apa sebenarnya maumu?" tanya Nyai Endah Gumelar, dingin menatap suaminya. Senyum miring terbit dibibir lelaki itu. Lelaki itu menyentakkan lengannya membuat cengkraman Nyai Endah Gumelar pada pergelangannya terlepas. Wanita itu mendengus ketus.

"Sudah hilangkah rasa cintamu padaku, Nyai?" sindir Galih Sungkai menatap sinis ke istrinya, "hilang dalam tiga hari kamu meninggalkan Lembur Tumuwun?"

"Untuk apa kamu menanyakan perasaanku, Galih? Ada Euis yang bisa melapur perasaanmu itu. Aku sengaja pergi agar kamu bisa tenang dan bahagia didampingi olehnya. Untuk apa repot-repot menjemputku ke Dukuh Kinasih?" cemooh Nyai Endah Gumelar tersenyum dingin.

Galih Sungkai memicingkan matanya. Nyai Endah Gumelar melanjutkan lagi, "kamu pikir dengan beramah-ramah dihadapan Asih, kamu bisa menipunya? Asih memiliki ilmu titen lebih tinggi dari kami, tiga bersaudara. Dia bisa mengetahui kemana tatapan matamu saat berbasa-basi dengannya tadi."

"Apa yang kau bicarakan ini? Aku datang untuk menjemputmu, bukan beramah-tamah dengan Asih! Aku..." kilah Galih Sungkai.

"Jujur sajalah, Galih. Kamu kira aku tidak memperhatikanmu tadi? Panon sia kerenghéng melong nenen na nu nongendil kitu!" serang Nyai Endah Gumelar, ketus.

"Itu pembawaan alami setiap lelaki, Endah!" tangkis Galih Sungkai.

"Sudahlah, Galih! Aku capek! Aku sudah memutuskan untuk berpisah denganmu! Setelah ini silahkan kau lanjutkan kehidupan bebasmu itu dan jangan pernah berurusan denganku lagi," sergah Nyai Endah Gumelar.

Galih Sungkai terdiam mendengar pernyataan istrinya itu. Berkali-kali lelaki itu menghela napas dan mengencangkan rahangnya. Setelah agak lama, dia manggut-manggut dan tersenyum.

"Jika memang seperti itu, yah... apa boleh buat," gumamnya kemudian merubah gaya duduknya makin santai di jok itu.

"Bagus, kupikir kamu cerdas," sahut Nyai Endah Gumelar.

"Kalau begitu, aku meminta bagianku," tuntut Galih Sungkai.

"Bukankah bagianmu telah kuberikan?" tampik Nyai Endah Gumelar, mengerling sinis.

"Belum semuanya Endah!" sanggah Galih Sungkai.

Nyai Endah Gumelar terdiam, mulai memahami apa yang diinginkan oleh lelaki itu. Namun, dia berupaya bersikap biasa.

Lihat selengkapnya