
Jalu Wisesa, pengawal pribadi dari Galih Sungkai itu, kini melaksanakan tugas terakhirnya menuju kediaman Keluarga Candranegara. Perintah untuk merampas kujang Pélong Pakwan, milik Sanghyang Arka Panonpoé yang dititipkan Nyai Endah Gumelar kepada Nyi Asih Mintarsih, janda dari mendiang Arya Prabu Candranegara di Dukuh Kinasih. Hadiahnya tidak tanggung-tanggung! Lelaki itu boleh memperistri Nyai Sekar Sabrang ketika sang majikan telah menceraikannya.
Jalu Wisesa tidak pernah menyangka jejak perselingkuhan yang dilakukannya bersama Nyai Sekar Sabrang bisa terendus oleh sang majikan. Padahal mereka berdua benar-benar lihai menyembunyikan aib tersebut. Langkah kaki sang centeng terus terayun menyusuri jalanan desa yang dilapisi paving block. Malam telah memasuki tibralayu dan kenangan tentang peristiwa sial itu terkenang lagi.
***
Senja beralih malam ketika surup menjelang. Setengah jam suara dengus napas yang memburu berpadu lenguh penuh birahi sayup-sayup terdengar dari ruang mah bangunan bergaya jalopong itu. Suara heboh tak beraturan ketika Jalu Wisesa penuh nafsu menggenjot tubuh Nyai Sekar Sabrang sambil menjambak rambut sang betina. Jemari kekar Jalu yang lainnya sibuk meremas dua bongkah bulat yang sekal didada selir majikannya itu. Pinggul lelaki itu sibuk menggenjot naik turun.
"Aahh... ahh... egghh! Jaluuu... ulah ngagogog teuingggg... ayuena... ayuenaaa... kuring hayang kaluar deuiiii...." rengek Nyi Sekar Sabrang yang sudah kelelahan.
Jalu tidak peduli, lelaki itu terus memutar-mutar pantatnya hingga batang kelelakiannya makin ganas mengobel-ngobel lubang kewanitaan yang sempit milik Nyi Sekar Sebrang.
"Aing... heunceut maneh masih kénéh ngémol-ngémol péler aing kieu kénéh waé... nih, rasainnn," erang Jalu terus menghujamkan benda keperkasaannya. Tidak sampai semenit, Nyi Sekar Sabrab merasakan sensasi gatal yang hendak meledak disekujur selangkangannya. Wanita itu melenguh nikmat.
"Mmmmhhhh.... huuaagghhhh... euuuhhh.... ngentuuu..." lenguh Nyi Sabrang kelojotan, kepalanya mendongak disertai tubuh mengejang.
"Gimana rasanya, Nyai?" celetuk Jalu memelankan gerakan pinggulnya.
"Setan sia teh! Gila! Aku sampei melengkung gara-gara kalelenger," sahut Nyi Sekar Sabrang megap-megap.
"Tapi enak, kan?" goda Jalu lalu tertawa.
Nyi Sekar Sabrang hanya bisa mengangguk, namun wanita itu tersadar bahwa kelamin jantan milik Jalu masih mengganjal dalam liang peranakannya.
"Eh, kamu belum muncrat?" tukas sang selir mengamati benda panjang si pengawal pribadi yang masih maju-mundur mengebor sumur kesuburannya,
"Sedikit lagi, Nyai," ujar Jalu sambil memasukkan lingga kelelakiannya kedalam yoni kewanitaan Sri Sekar Sabrang.
"Hiyaaaa... cepetan, Jalu!" desah Nyai Sekar Sabrang, agak ketus.
Kini Jalu Wisesa memutar tubuh istri muda majikannya, menginginkan si betina dalam posisi mirip anjing kawin. Sambil memeluk guling, Nyai Sekar Sabrang mengangkat pantatnya yang bulat sekal itu tinggi-tinggi sambil membuka pahanya lebar-lebar. Jalu Wisesa menyengir, menatap lubang senggama Nyi Sekar Sabrang yang telah basah kuyup dan warna merah jambunya makin semburat. Pejantan itu langsung membenamkan sebagian tonggak kawinnya memasuki lubang duduk dengan kecepatan linggi.
Slep! Slep! Slep!!! suara kecipak cairan birahi dario liang wadon itu hanya ditutupi oleh lenguhan Nyai Sekar Sabrang yang tensinya naik lagi.