PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #26

SAKSI BISU ALAS TALIDJIWO


Jalu Wisesa tertawa lantang. Kata-kata Bu Mintarsih itu sebuah undangan langsung bagi lelaki itu untuk membuktikan dia pantas memiliki apapun yang dia inginkan.

"Tentu saja aku punya nyali untuk itu," sahut Jalu Wisesa kemudian memiringkan kepala sambil bercakak pinggang, "tapi, apa Teteh pikir, saya bodoh?" ejeknya kemudian menganggukkan dagu ke kotak itu, "tidak ada sama sekali benda pusaka disitu!"

Senyum Bu Mintarsih luntur seketika. Perlahan dia bangkit dan berdiri dalam sikap yang amat anggun, makin membuat hasrat birahi dalam dada Jalu Wisesa meletup kuat. Wanita itu mengerling sinis, namun bagi lelaki itu terlihat amat menggoda.

"Terus untuk apa kamu masih disini, Jalu? Carilah sendiri pusaka itu," usir Bu Mintarsih, datar. Jalu Wisesa tertawa lagi dan melangkah maju.

"Masih banyak waktu untuk memburu kujang Pélong Pakwan. Tapi, aku masih ingin menikmati malam ini bersamamu, Teh Asih," geram Jalu Wisesa penuh birahi. Kedua tangannya terulur hendak meraih kerah kebaya wanita parobaya dihadapannya, ingin segera menguak agar bisa mengintip bongkahan bulat indah yang selama ini selalu menjadi mimpi dalam tidurnya. Namun...

Bletagh!!!  Uukhhh...

Birahi yang menyelimuti diri, membuat tubuh kehilangan kewaskitaan. Sebuah telapak kaki langsung menempel di pipi Jalu Wisesa tanpa sempat ditangkis oleh lelaki itu. Dia terlempar jauh keluar pendopo dan mendarat di pelataran. Dipenuhi amarah, Jalu langsung bangkit dan menatap ke depan.

"Mang Jalu," sebut seorang pemuda dewasa, mengenakan kemeja gothil hitam dan celana kombor yang warna senada diikat oleh sabuk othok dan tali kolor yang menjuntai ke betis. Ikat kepala odheng menghias kepalanya. Sebilah mothik gaya irungbuto tersampir disisi kirinya. penampilannya mengingatkan pada sosok warok jaman silam.

Jalu Wisesa menautkan alis, berusaha mengingat-ngingat, "Dancaka?" tebaknya.

Dancaka, putra sulung Bu Mintarsih tersenyum, "ternyata masih ingat ya?"

Jalu Wisesa tertawa lantang lalu mengujar, "tentu saja kuingat anak kecil yang sering kupukuli karena mengadukan perbuatanku pada ibunya. Bagus, sudah besar kau sekarang ya?"

"Ya, sudah cukup untuk menghajar lelaki mbedhang sepertimu," timpal Dancaka kemudian melangkah maju meninggalkan pendopo.

"Kau dengar tadi, apa yang kupertaruhkan untuknya?" pancing Jalu, menghasut agar Dancaka tersulut emosinya. Namun pemuda itu tetap datar menuruni tangga pendopo dan tiba di pelataran berhadapan langsung dengan lawannya.

"Aku tidak pernah melarang Ibu untuk kawin lagi. Tapi bukan denganmu," ujar Dancaka kemudian memasang sikap bertarung.

"Bagaimanapun, ibumu akan jadi milikku!" seru Jalu langsung menerjang dan menyerang dengan teknik-teknik penca gaya Cimande. Dancaka meliuk-liuk dalam gerak konclangnya menghindari setiap pukulan dan tendangan yang dilayangkan Jalu. Bu Mintarsih kembali duduk si kursi risban, mengamati pertarungan itu. Wukiran muncul dari pringgitan dan berdiri disisi ibunya.

"Mbakyu sudah pergi ke Alas Talidjiwo bersama dua konconya," lapor Wukiran.

Lihat selengkapnya