
Pendatang itu, memang Ki Argya Resik, pimpinan para pangalasan yang menjagai kawasan konservasi cagar alam Alas Sanggrahan dan Alas Talidjiwo. Dia mendekat santai sampai akhirnya jarak mereka hanya terpisah tiga meter saja. Dibawah temaram rembulan, mereka mengamati seragam yang dipakai lelaki parobaya itu. Kaos oblong hijau muda dan celana kargo lapangan hijau tua diikat oleh sabuk kopel. Sepatu lars membalut kakinya.
"Ki Argya Resik, kenapa kau berada disini?" selidik Parta, curiga.
"Aku penjaga kawasan ini, Partawijaya. Hal itu sudah kuberitahu padamu, kan?" tangkis Ki Argya Resik, mengulum senyum. Laras menyentuh bahu Lastri, membuat jilbaber itu menoleh padanya.
"Sebelum ke Dukuh Kinasih, kami berdua berjumpa dengan sekelompok pangalasan yang dipimpin Ki Argya Resik. Kupikir dia seorang pangalasan biasa. Nyatanya..." jawab Lastri, tak meneruskan ucapannya. Penampilan si penjaga hutan itu sudah menjawab segala hal. Jilbaber itu kemudian maju.
"Ki Argya Resik, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Lastri.
Lelaki berseragam PDL Jagawana itu sejenak menatap jilbaber tersebut kemudian mengangguk, "silahkan, Nduk."
"Jangan tersinggung ya, Pak. Ini... yang taruh kerangka Mas Jenar disini... sampeyan?" tanya Lastri, hati-hati. Senyuman teduh kembali terbit dibibir Ki Argya Resik.
"Kamu pasti tahu dari Nini Kanthi," tebaknya.
"Ya, dan sekarang nenek itu sudah tewas," sahut Parta, membuat sepasang mata Ki Argya Resik melebar. Sejenak kemudian, alisnya berkerut.
"Tewas? Terbunuh?" tukas Ki Argya Resik.
"Ya!" jawab Parta, mantap.
"Siapa yang membunuhnya? Apakah kamu?" tuding Ki Argya Resik pada Parta.
"Bukan," sanggah Parta kemudian melirik istrinya. Tatapan Ki Argya Resik menghujam ke arah Lastri dan Laras.
"Diantara kalian berdua, siapa yang membunuh Nini Kanthi?" desak Ki Argya Resik.
Lastri baru saja hendak menjawab ketika Laras langsung mendahului, "saya! Saya yang membunuhnya!"
"Kau? Kembang Bahu Laweyan?" tukas Ki Argya Resik, tajam menantang.
"Ya! Saya yang membunuhnya! Dengan sembilan batang panah yang menancap ditubuhnya," jawab Laras, langsung meledakkan tawa Ki Argya Resik.