PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #28

UJI NYALI PARA LELAKI


Semasa muda, Dancala diambil sebagai gemblak oleh seorang warok dan menggembleng anak itu dalam norma-norma patrap[1] yang amat berat. Meskipun pada usia 25 Tahun, Dancala meninggalkan kehidupan waroknya dan menikah, namun berbagai olah kanuragan warisan gurunya masih melekat, tidak hilang sama sekali.

Dihadapan putra sulung Bu Mintarsih itu, berdiri jawara pakar penca Cimande. Jalu Wisesa merupakan satu dari sekian pendekar Sunda, namun tersesat pada arah yang salah. Lelaki itu diusir dari padepokan karena terlibat dalam affair istri dari gurunya sendiri, seperti yang dilakoninya sekarang, menyelingkuhi istri majikannya sendiri.

"Kelihatannya, pertarungan ini akan lama," gumam Jalu Wisesa melengos dan tertawa sejenak kemudian kembali menatap Dancala, "baiklah... kelihatannya aku terpaksa menggunakan warisan dari guruku sendiri."

Setelah berkata begitu, Jalu menghunus sebilah parang gaya pamugeulan dari sarungnya dan memamerkan bilah bedhognya pada Dancala. Tak mau kalah, Dancala juga ikut menghunus mothik gaya irungbutonya dari sarungnya. Keduanya kini saling memegang senjata tajam, membuat suasana makin mencekam. Tatapan keduanya mencorong saling lekat seperti bergulat untuk menguji nyali sendiri.

Tanpa sadar Wukiran menahan napasnya sementara Bu Mintarsih memicingkan sepasang mata kejoranya. Kedua petarung itu mulai memasang sikapnya. Akan nyata disini nyali siapa yang lebih kuat!

"Dancala!!! Hadapilah aku!!!" seru Jalu Wisesa, bersamaan dengan itu tubuhnya tiba-tiba memecah diri menjadi beberapa tubuh Jalu Wisesa lain yang serupa.

"Ajian Belah Raga!!!" seru Wukiran tanpa sadar, dan sejenak kemudian pemuda tanggung itu terhenyak, melirik sembunyi ke arah ibunya yang masih diam memperhatikan.

Dancala langsung waspada ketika tubuh-tubuh Jalu Wisesa mengurung dan mengepungnya. Pendekar penca aliran Cimande itu tertawa-tawa. Dari jauh, para warga yang menonton dari halaman rumahnya itu menatap khawatir pada pemuda itu.

"Hei, Dancala! Kenapa denganmu?" ejek Jalu Wisesa.

Dancala berusaha tidak terpengaruh oleh ucapan dan tawa lawannya. Itu adalah satu dari sekian trik untuk memecah konsentrasi lawan, sebab ajian yang digunakan Jalu Wisesa memang memiliki karakteristik penuh tipu daya.

"Ibumu adalah milikku!" tambah Jalu Wisesa, mengejek lagi.

Wukiran yang mendengar kalimat lelaki yang memperbanyak diri itu, tanpa sadar mendengus. Kecemburuannya muncul mendengar ada lelaki selain ayahnya yang berhasrat terhadap ibunya. Bu Mintarsih sendiri hanya tersenyum datar dan menggelengkan kepalanya berkali-kali saat mendengar ujaran pongah lelaki dari Desa Palungalau itu.

Dancala tersenyum mendengar kalimat penuh kesombongan Jalu Wisesa. Pemuda dewasa itu mengangguk, "jika kau punya nyali untuk itu, Mang Jalu. Silahkan saja!"

Tiba-tiba keseluruhan tubuh-tubuh Jalu Wisesa melesat maju menyerang Dancala, dengan pola-pola tertentu secara berkesinambungan. Lelaki berusia 27 tahun itu dengan gesit berkelit ke sana kemari menghindari sabetan bedhog yang diayunkan Jalu Wisesa. Sementara Wukiran yang cemas memikirkan keselamatan kakak sulungnya itu menatap ibunya.

"Bu, Kakang pembarep kelihatannya kewalahan," lapor Wukiran.

Bu Mintarsih menghela napas. Pikirannya menerawang kemana-mana memikirkan pertarungan yang tersaji didepannya dan keadaan Laras yang entah tiba di Ngarè Sangsam atau tidak. Berkali-kali wanita parobaya itu merubah-rubah gaya duduknya karena didera gelisah.

"Asih! Lihatlah anakmu!!!" ejek Jalu Wisesa lagi ditengah serangannya yang membabi buta namun terencana baik. Dancala memang kewalahan, namun masih bisa menangkis setiap ayunan senjata musuhnya dengan mothik irengbutonya.

"Bagaimana mengalahkan ajian ini?" desis Wukiran cemas.

Lihat selengkapnya