
"Ki Argya Resik kenal dengan pusaka ini?" selidik Laras, agak curiga.
Lelaki itu tersenyum dan berkata, "dikalangan orang-orang penganut ajaran leluhur, siapa yang tak mengenal Kujang Pélong Pakwan milik Sanghyang Arka Panonpoé?"
Laras sejenak menatap Lastri dan Parta, kemudian menatap lagi kepada Ki Argya Resik seakan meminta keterangan. Lelaki parobaya berseragam jagawana itu menghela napas sejenak lalu menutur lagi.
"Kalian pasti masih ingat sejarah runtuhnya Kerajaan Pajajaran," pancing Ki Argya Resik.
"Ya," jawab Parta.
Ki Argya Resik manggut-manggut kemudian menutur, "ketika terjadi intrik dalam trah Siliwangi yang berujung pada Perang Sunda-Islam, Prabu Surawisesa memanggil kerabatnya yang bernama Sanghyang Arka Panonpoé untuk menyelamatkan harta dan pusaka keluarga dan menyembunyikannya di salah satu tempat di wilayah Jawa Barat."
Ki Argya Resik sejenak menghela napas lalu menyambung lagi, "Kalian masih ingat letak ibukota Pakuan?" pancingnya.
"Hmmm... Batu Tulis?" tebak Lastri.
"Ya! Batu Tulis!" sahut Ki Argya Resik mengacungkan jempol pada Lastri dan jilbaber itu berseru senang sambil bertepuk tangan.
"Apakah harta trah Siliwangi berada di kelurahan itu?" tukas Parta.
Ki Argya Resik tertawa, "kalau itu saya nggak tahu. Yang jelas ketika Kerajaan Pajajaran runtuh dan ibukotanya ditinggalkan, lama-lama kawasan itu menjadi hutan dan banyak ditinggali oleh harimau."
"Oh, aku tahu sekarang!" seru Lastri kemudian menatap Laras, "itulah yang mendasari mitos tentang pribadi raja Siliwangi yang dikisahkan muksa dan berubah menjadi seekor macan putih!"
Parta menatapi istrinya, "kamu tahu tentang hal itu? Bukankah itu nggak sesuai dengan kompetensimu sebagai sarjana ilmu pemerintahan di UMM Malang?"
"Yeee... si Papa, mah," gerutu Lastri, "apa gunanya aku jadi anggota klub Pojok Baca MCC[1] Malang? Aku nggak perlu ke gedungnya. Kan ada pustaka digitalnya yang bisa kuakses lewat akun surelku," omelnya kemudian menjelaskan kepada Laras tentang ekspedisi yang dipimpin oleh Pieter Scipio van Oostende ke pedalaman Jawa Barat pada Tahun 1687 hingga ke Wijnkoopsbaai (Labuhan Ratu) yang menemukan bekas istana Pakuan yang dihuni sekawanan harimau.
"Lalu, apa hubungannya dengan Kujang Pélong Pakwan itu?" sela Parta menganggukkan dagu ke arah senjata tradisional khas Sunda Galuh yang digenggam Laras.
"Yeee... kok nanya ke saya? Memangnya aku ini arkelolog? Epigrafi dan Numismatik nggak ada dalam disiplin ilmu pemerintahan, Sayangkuuuu..." tangkis Lastri membuat Laras dan Ki Argya Resik tertawa, sementara Parta menggaruk kepalanya karena kesal.
Ki Argya Resik menatap kembali benda pusaka dalam genggaman wanita berambut pendek gaya shaggy bob itu, "Kujang Pélong Pakwan bukan hanya berfungsi sebagai senjata. Benda itu adalah kunci gudang pusaka milik trah Siliwangi."