
Parta melambaikan tangan pertanda terima kasih pada rombongan pangalasan yang mengawal Toyota Kijang Innova itu menyusuri jalan setapak kawasan hutan konservasi itu sampai mereka tiba di jalan utama Kota Watu Karang. Lelaki itu kemudian membelokkan kendaraan itu ke jalan yang mengarah ke Kediri.
Parta kemudian menghubungi majikannya, Lucas Lin Kinnamon melalui saluran video call. Tak lama kemudian dilayar ponsel itu muncul wajah seorang perempuan Tionghoa. Parta langsung menyapa, "Hai Siu Lan."
"Oh, hey kenapa nanti menghubungi sekarang? Kau tahu, majikanmu jadi uring-uringan karena tak mendapat kabar darimu!" omel Siu Lan langsung menyemburkan kekesalannya. Parta hanya mengulas cengiran rasa bersalah.
"Haiyya, Siu Lan. Lo tahu sendiri kalau kawasan pegunungan susah sinyalnya?" tangkis Parta sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Mana Lastri?" tanya Siu Lan.
Parta langsung mengarahkan kamera ke jok tengah, dimana seorang jilbaber sementara tidur nyenyak. Siu Lan tertawa melihat iler yang mengalir dari mulut Lastri yang membuka saking lelapnya dia tidur.
"Wah, Si gendis keterlaluan tidurnya," komentar Siu Lan.
"Bos Lin?" tanya Parta.
"Lagi mandi. Kenapa memang?" tanya Siu Lan.
"Owe mau ngabarin, belum bisa balik ke Malang. Ada urusan penting berkaitan dengan masalah logistik gudang yang harus kukelarin di Bogor," jawab Parta.
"Oh, tentang itu ya? Apakah bermasalah? Kan kamu bilang kawasan itu sudah mengantongi izin usaha?" tukas Siu Lan.
"Bukan soal izinnya, melainkan pengelolanya. Galih Sungkai ternyata hanya makelar, bukan pemilik aslinya," tutur Parta membuat sepasang mata sipit Siu Lan membuka.
"Oh ya? Terus?" tanya Siu Lan.
"Itu yang mau kukelarin, Lan. Pemilik aslinya ternyata disandera sama si makelar itu. Saya kesana mau negosiasi hal itu," jawab Parta.
"Perlu bantuan, nggak?" tanya Siu Lan.
"Kalau Sōngmù bersedia, kirim saja aku lima orang centengnya. Tapi, Lan. Kita tidak boleh pakai peluru tajam ya? Bilang sama sepupumu itu, kita pakai pelor gotri saja," pesan Parta.
"Nanti kubilang sama dia," sahut Siu Lan.
"Bagaimana dengan anakku? Dimana dia?" tanya Parta.
"Lho? bukannya lo tahu kalau hari jadwal latihan Mui-mui memanah?" tukas Siu Lan menyebut nama kesayangannya untuk Galuh Candra Kirana, putri dari sahabat suaminya itu.
"Oh ya, aku lupa!" seru Parta, tertawa.