
Dikamar peraduan itu, Nyai Endah Gumelar duduk disisi ranjang menatap Galih Sungkai yang mondar-mandir dengan raut wajah keruh, berpikir keras merumuskan cara untuk menangkap Laras Prabatmi dan merampas Kujang PƩlong Pakwan itu dari genggamannya. Lelaki parobaya itu sudah punya rencana besar untuk itu. Berbekal pusaka milik Sanghyang Arka PanonpoƩ tersebut, Galih Sungkai hendak menguasai seluruh aset tanah perdikan yang dimiliki oleh trah Kanigoro.
"Kamu pikir, semua rencanamu akan berhasil?" ejek Nyai Endah Gumelar, mengulas senyum sinisnya. Galih Sungkai menghentikan langkahnya dan menatap sang istri.
"Semua sudah kurencanakan dengan baik, Nyai Rabi. Ponakanmu itu tidak akan menyangka kedatangannya akan disambut dengan meriah," jawab Galih Sungkai, datar.
Nyai Endah Gumelar tertawa mendengar jawaban suaminya. Galih Sungkai menghela napas lalu mendekat dan duduk disisi istrinya.
"Seandainya kamu tidak menyerahkan pusaka itu pada Asih, tentu Keluarga Candranegara tidak perlu terlibat sejauh ini, Endah. Kau tidak merasa kasihan pada mereka? Mengapa tidak kita bicarakan baik-baik tentang hal ini? Apa hanya karena kecemburuanmu yang berlebihan terhadap Euis sehingga kau tidak berpikir panjang dengan tindakanmu?" cecar Galih Sungkai.
"Jadi kamu pikir mereka tidak perlu bertanggung jawab untuk menjaga warisan leluhurku?" pancing Nyai Endah Gumelar.
"Kamu tidak berpikir bahwa keturunan-keturunan Ki Ageng Sengguruh itu memiliki andil dalam genosida yang terjadi di abad ke-16 silam. Sultan Demak sudah lama mengincar harta pusaka itu, begitu juga dengan Pajang dan sekarang trah Mataram melalui Istana Solo!" geram Galih Sungkai, kesal.
"Jangan membuatku tertawa, Galih. Sejak kapan Raden Mas Anggabehi tertarik dengan pusaka trah Kanigoro?" sanggah Nyai Endah Gumelar kemudian mengekeh sinis.
"Aku bicara yang sebenarnya, Nyai," tandas Galih Sungkai.
Nyai Endah Gumelar kembali tertawa kemudian memelototi suaminya, "kamu pikir, aku nggak punya mata dan telinga disekitar orang-orangmu?" tukasnya membuat Galih Sungkai terdiam. Nyai Endah Gumelar bangkit kemudian melangkah ke meja rias dan duduk dikursinya.
"Kau melempar tuduhan kepada pihak Mangkunegara Solo, juga trah Mukrib Alawiyyin[1] yang masih merupakan keturunan Prabu Siliwangi agar trah Kanigoro terpancing untuk memulai konflik dengan mereka?" tukas Nyai Endah Gumelar kemudian mencebik, "jangan kau kotori tanganmu terlalu banyak dengan rencana-rencana itu, Galih. Sadarlah!"
Galih Sungkai memicingkan mata sejenak kemudian mengulas senyum. Nyai Endah Gumelar balas menyunggingkan senyuman sinis.
"Ketika kau mengambil Euis Sartika sebagai parekanmu, aku sudah mendesak tetua-tetua dalam trah untuk menyelidikimu. Mereka sudah menemukan buktinya. Kau telah merencanakan hal ini, jauh sebelum pernikahan kita, kan? Apa kamu kira, aku nggak tahu siapa Euis Sartika sebenarnya?" pancing Nyai Endah Gumelar.
"Jika kau tahu, mengapa kau tidak mengantisipasinya?" tukas Galih Sungkai.