PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #32

KHIANAT DIBALIK PUSAKA JAMINAN


Angin malam berembus dingin, membawa debu jalanan yang menari di bawah temaram lampu teplok yang hampir padam. Desa Lembur Tumuwun yang dulu riuh oleh tawa kini berubah seolah menjadi kuburan sunyi. keheningan yang menyimpan jerit tertahan di balik dinding-dinding papan bangunan yang rapuh.

Para penjaga suruhan Galih Sungkai berjalan mondar-mandir di atas tanah berbatu. Langkah sepatu mereka berderap berat, memecah malam dengan angkuh. Di tangan mereka, bilah-bilah senjata tajam berkelebat memantulkan cahaya bulan sabit yang pucat. Mata mereka liar memandangi sekeliling, siap menyergap apa saja yang berani bergerak.

Di dalam rumah-rumah, para warga mendekam dalam gelap. Napas mereka tertahan di tenggorokan. Tubuh mereka gemetar, saling berpelukan erat di sudut ruangan sempit. Tiada suara, tiada tangis, hanya doa yang bergemuruh dalam dada yang ketakutan. Sementara di ujung jalan desa, para pengawal itu berdiri berjajar rapat. Mereka menanti dalam tegang, menatap jalan panjang yang kosong.

Tanpa mereka sadari, di balik selimut gulita yang pekat ketika angin malam berbisik pelan, nampaklah seseorang berdiri tanpa suara menjejak santai di atas dahan tua sambil mengamati desa yang tertidur lelap dalam sunyi, sementara para penjaga bersenjata tajam itu berjalan mondar-mandir, menanti datangnya bahaya. Suasana wengi yang sunyi membawa aroma cemas dari ujung lorong-lorong desa. Para penjaga menatap kosong ke dalam gelap, dada mereka berdegup kencang menahan rasa takut. Tidak ada suara tawa, yang ada hanyalah derit kecil ranting dan napas yang tertahan.

Wanita berambut pendek gaya shaggy bob itu melirik celah pagar bambu yang rapuh di sisi barat desa. Ia menghitung bayangan lampu minyak yang mulai redup di pos pertahanan utama. Jalur air tua tanpa jeruji menjadi jalan sunyi yang mudah untuk disusupi musuh. Setiap sudut gelap kini ia rekam dalam ingatan, menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.

Laras menekan tombol PTT[1] dan terdengar sedikit suara berisik kemudian terdengar suara, "bagaimana?" tanya seseorang.

"Ada dua rumah yang dikelilingi para jawara bersenjata bedhog itu. Satu, kediaman milik Mang Galih, dan yang kedua sebuah rumah beratap jalopong yang berada diseberangnya. Sementara di gerbang desa ada lima orang menjagai kawasan itu." tutur Laras.

"Kelihatannya mereka membuat jebakan," sahut suara lelaki dari balik speaker.

"Terus bagaimana?" tanya Laras.

"Tetap pada rencana, tapi kita rubah sedikit formasinya," ujar lelaki itu, tak lain adalah Parta, "kami berdua tetap ke rumahnya Pak Galih. Suruh yang lainnya mengepung rumah Pak Galih, sementara kau ke rumah beratap jalopong itu, pastikan apa yang ada disana."

"Mas, sampeyan yakin nih? Kok Mbakyu dijadikan umpan? Sudah gendheng kamu ya?" sergah Laras, ketus. Terdengar suara tawa dari balik speaker radio genggam itu.

"Lastri yang minta kok. Katanya seru," kilah Parta kemudian menatap istrinya. Jilbaber itu mengenakan baju rante kemudian dilapisi kembali dengan kaos gamis dan celana kulotnya. Jilbab pasmina yang panjang ikut menyamarkan pakaian pelindung itu.

"Kan ada aku yang menemaninya. Pokoknya kamu lakukan yang kuperintahkan," pungkas Parta, datar.

"Yo wis, serahmu, Mas," sahut Laras kemudian menyimpan radio genggam itu lalu melompat turun dari dahan dan menjejak tanah basah itu. Kelima orang bersenjata angin. Mereka telah diwanti-wanti untuk tidak menggunakan senjata api, karena lawan yang dihadapi hanyalah para jawara bersenjata tajam. Tindakan mereka hanya untuk melumpuhkan, terkecuali jika terancam nyawa.

"Bagaimana sio moi?" tanya salah satu lelaki itu.

Laras menatapnya, "Empat orang dari kalian diperintahkan Parta untuk mengepung rumah itu," ujarnya menunjuk rumah beratap julang ngapak. Lelaki itu mengangguk dan mengarahkan empat rekannya. Mereka berpencar sementara si lelaki tadi tetap mengiringi Laras mengendap-endap menyusuri jalan setapak dibagian belakang pemukiman menuju rumah beratap jalopong.

Wanita berambut pendek gaya shaggy bob itu bergerak trengginas seperti kijang. Untung saja dia sudah mengenakan celana kargo taktis dan kaos singlet untuk mempermudah gerakannya. Berbekal busur Prodigy riser recurve dan sekantung penuh anak-anak panah dalam quiver yang menggantung dipunggungnya, Laras terus mengendap-endap dan sesekali berhenti untuk mengamati keadaan.

Sementara disisi jalan desa, Toyota Kijang Innova terparkir dan sepasang suami istri itu telah bersiap-siap. Lastri menenangkan diri, menatap benda pusaka milik trah Kanigoro dalam genggamannya. Laras mempercayakan Kujang Pélong Pakwan itu, dengan harapan mereka berdua bisa bernegosiasi dengan Galih Sungkai dan pasangan parekannya itu.

"Kau siap, Tri?" tanya Parta, gugup.

"Ya!" jawab Lastri, tak kalah gugupnya.

Lihat selengkapnya