
Laras Prabatmi dan lelaki tionghoa bersenapan lemaudara type AEG-L.85 itu mendekati rumah beratap jalopong. Wanita berambut pendek gaya shaggy bob itu membidikkan anak panahnya, dan...
Swiiinggg... Jleb!!! Aaaakhhh!!!
Seorang jawara yang berdiri didepan pintu halaman, rubuh dengan paha tertancap anak panah. Salah seorang jawara muncul lagi menghambur ke arah temannya dengan panik. Laras kembali menghentakkan tali string...
Swiiiinggg... Jleb!!! Oouuuh!!!
Dua orang jawara kini terbaring di tanah dengan kaki berdarah tertancap anak panah. Mereka berusaha keras mematahkan batang panah itu sambil mengumpat-umpat.
Zip! Zip! Thud! Thumb!! Aaaaaakhhh... aaieeee...
Kembali dua jawara tersebut meraung kesakitan karena kaki mereka yang satunya ditembusi pelet gotri dari senapan AEG-L.85 yang ditembakkan lelaki Tionghoa itu. Keduanya muncul dari kegelapan dan bersamaan dengan itu pula beberapa jawara muncul, menyerang mereka.
"Kutangani mereka Nona!" seru lelaki Tionghoa tersebut sambil menembakkan beberapa proyektil besi bulat ke arah para jawara itu.
"Hati-hatilah!" balas Laras kemudian berlari memasuki rumah beratap jalopong tersebut sambil menyiagakan tiga anak panah dalam genggamannya. Dia masuk dan merubuhkan seorang lagi jawara yang berada di pintu salah satu ruangan. Sampai akhirnya Laras tiba di ruang utama.
Disana, seorang wanita berdiri menempelkan bilah bedhog pada leher Nyai Endah Gumelar. Bibir wanita parobaya itu agak bengkak seperti habis dipukuli. Sementara wanita muda seusia dengannya, berdiri angkuh dibelakang uwa'nya sambil menempelkan bilah golok tersebut.
"Selamat datang, Laras Prabatmi," sapa wanita itu.
"Kau..." gumam Laras, masih menatap siaga.
"Kenapa Laras? Heran melihatku?" ejek perempuan itu.
Laras Prabatmi memicingkan matanya. Perempuan yang berdiri dibelakang Nyi Endah Gumelar itu, adalah perempuan yang muncul pada mimpinya ketika dirinya diperkosa bergiliran oleh Galih Sungkai, Mahendra Danuraga dan Darta Danuarta.
"Pergi Laras, untuk apa kau kemari?" sergah Nyai Endah Gumelar.
"Cicing sia nini-buik kolot!" umpat wanita itu mendamprat Nyai Endah Gumelar, kemudian menatap sinis lagi ke arah Laras, "kuakui keberanianmu kemari. Mana Kujang Pélong Pakwan itu?" tuntutnya.
"Sudah kuserahkan pada Mang Galih!" jawab Laras kemudian meminta, "sekarang, lepaskan uwa'ku!" tuntutnya. Wanita muda itu tertawa lantang.
"Kau pikir dengan menyerahkan pusaka Pélong Pakwan itu, hutang diantara kita lunas, Laras?" cemooh wanita tersebut makin menekankan bilah parangnya ke leher Nyai Endah Gumelar, membuat wanita parobaya itu meringis.
"Bukankah itu yang kalian inginkan? Aku sudah memenuhinya! Tidak ada lagi hutang diantara kita," sanggah Laras.
"Ouw, ouw, ouw... tidak, Laras! Belum! Hutangmu belum lunas!" ejek wanita itu.
"Euis! Sudahlah! Pergilah saja! Kalian sudah mendapatkan pusaka trah Kanigoro! Mau apa lagi kau???" jerit Nyai Endah Gumelar mulai terisak-isak. Perempuan parobaya itu kembali menjerit lirih dan meringis saat merasakan bilah bedhog itu makin ditempelkan ke lehernya.
"Eh, Nini Buik! Dengar ya? Selama ini, aku selalu memendam kesumatku pada kalian! Kalianlah yang membuatku menderita! Gara-gara kalian, Pak Durta memerintahkan Kang Hendra meninggalkanku!" sergah wanita muda itu histeris.
"Ada hubungan apa kau dengan Mahendra?" tukas Laras, lirih.