PAHING 2: BAYANG DENDAM SANG PAREKAN

Kartono
Chapter #34

BONUS CHAPTER: MALAM PANJANG DI KAMAR 34


"Li siao ah? Mengapa tidak menghubungiku beberapa hari??? Kau mau kupecat?" sergah Lucas Lin Kinnamon, sengit saat Partawijaya menghubunginya malam itu. Lelaki itu bersama istrinya saat ini menikmati fasilitas mewah dari salah satu resort di Pancawati, Bogor setelah menyerahkan Galuh Sungkai kepada pimpinan trah Kanigoro.

"Hei, Bos... santailaaaa... bukankah istrimu sudah menyampaikan? Kemarin itu sinyal di pegunungan Watu Karang itu buruk. Kamu pikir aku nggak stress juga kah?" balas Parta, tak kalah sengit.

"Iya, aku tahu! Tapi Siu Lan... ah, sudahlah," ujar Lin kemudian meredakan suaranya, "terus bagaimana dengan masalah di Ligeran itu? Amankah?"

Parta mengangguk saja. Lin akhirnya mengangguk dan menyambung, "baiklah. Istirahatlah kau seminggu, tapi ingat! Pekan depan kau sudah harus masuk kantor! Sudah banyak tugas yang harus kau selesaikan disana! Aku tak mau Hok Lok Siew bangkrut gara-gara CEOnya menghilang entah kemana!" sergahnya, ketus.

Parta tertawa dan menjawab, "okey, pekan depan aku masuk kantor."

Percakapan seluler itu berakhir dan Parta meletakkan kembali meletakkan ponsel itu di nakas kemudian menatap istrinya. Lastri Puspawicitra mengenakan kimono handuk, membiarkan rambut panjangnya yang menggelombang itu terurai dikasur.

"Bagaimana Ta?" tanya Lastri.

"Aman, aku diberi cuti sepekan. Kita masih punya waktu dua hari bersenang-senang lalu pulang ke Malang sambil menjemput Galuh pulang ke rumah kita," jawab Parta mendekati istrinya.

"Eh, eh... mau ngapain, tadi di kamar mandi, sudah lhooo..." goda Lastri berlagak menolak.

"Ah, libidoku naik gara-gara terlalu gembira," kilah Parta langsung menyerbu istrinya. Lastri tertawa-tawa dalam pelukan dan manjaan suaminya. Keduanya kembali saling memagut dan mengulum bibir. Parta melepaskan kimono, membiarkan tubuhnya yang atletis itu hanya dibalut celana kolor itu, mencumbui istrinya yang nyaris telanjang karena kimononya dikuakkan, memamerkan sepasang buah kenyal membulat didada Lastri.

Tok! Tok! Tok!

Tengah asyik-asyiknya keduanya melakukan foreplay, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Lastri mendorong suaminya.

"Kayaknya Laras, tuh," desah Lastri.

Akhirnya Parta bangkit dan meninggalkan ranjang, membiarkan istrinya yang sedang birahi. Lelaki itu membuka pintu, mendapati seorang wanita berambut pendek gaya shaggy bob berdiri didepan pintu mengenakan kebaya gaya encim warna putih menerawang dan jarik. Jemari lentiknya menggenggam wristlet.

Laras sejenak melongok lewat sisi kepala Parta, menatap ke dalam kamar, mendapati Lastri yang setengah telanjang di atas ranjang. Perempuan itu mengangkat alisnya dan tersenyum, "Oh, kalian sedang asyik ya? Maaf deh kalau aku mengganggu."

Laras hendak berbalik pergi, ketika lengannya langsung dicekal oleh Parta, "nggak, nggak apa-apa. Masuk aja," ujarnya kemudian menyingkir, membuat Laras akhirnya melangkah masuk. Lelaki itu juga tak lagi memperdulikan tubuhnya yang hanya dibalut celana kolor tersebut.

"Bagaimana dengan Pak Galih? Apa yang akan dilakukan anggota trah terhadapnya?" tanya Parta sedikit penasaran. Keduanya tiba diruang utama kamar. Laras kemudian duduk di sofa dan meletakkan tas wrisletnya di meja.

"Tidak ada pintu terbuka bagi pengkhianat. Kamu tentu tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap lelaki itu," jawab Laras, datar kemudian menatap Parta yang duduk ditepian ranjang, "sudah... lanjuiin saja kegiatan kalian. Anggap aja aku nggak ada."

Lihat selengkapnya