Malam menghampar gulita kelam di bumantara, hanya selarik cahaya sang rembulan yang sedikit tembus dari celah gundukan awan kelabu yang menghias dalu ketika saat lingsir wengi tiba. Sebuah jalan setapak terbentang membelah rimbunan semak dan perdu yang menghampar di tanah. Kabut menghiasi sekitar membentuk tapir putih transparan melingkupi tetanaman bawah dan pepohonan pinus dibalur hawa dingin menusuk tulang.
Aku mengamati pemandangan disekitarku. Sejak kapan aku menjejaki belantara ini? Jalan setapak lurus membelah hamparan perdu dan semak terpampang didepan dan belakangku sementara kegelapan yang berhiaskan kabut terus bergerak perlahan seperti bala yang berbaris menuju medan perang.
"Kok aku ada disini?"
Tentu saja aku takjub! Tanpa sadar aku berdecak sekali sambil mengamati jalanan itu. Kuarahkan cahaya senter ke depan, kemudian ke belakangku.
"Perasaan, tadi kan di tepi sungai... tapi kok..."
Pertanyaanku menggantung, dan benakku tak sedikitpun memberikan jawaban. Sekali lagi kuamati sekitaran. Aneh! Tak ada satupun suara hewan-hewan malam yang saling bersahut-sahutan layaknya biasa. Keadaan itu sunyi, senyap seperti berada di wilayah hampa udara. Apakah malam ini telah larut ataukah menjelang pagi? Entahlah... aku juga tidak tahu. Kebiasaan jelekku adalah sering lupa mengenakan arloji di pergelangan tangan sehingga kesulitan menandai waktu.
"Apakah aku tersesat di pasetran?"[1]
Aku menebak-nebak sendiri ditengah rasa takut dan penasaran yang bercampur aduk, "apakah para danyang[2] yang membawaku ke sini?"
Kutarik sejenak napasku dan menghembuskannya pelan. Kutenangkan pikiranku kemudian bergumam sendirian seakan kuajak diriku yang lain untuk bicara, "tenanglah... ini bukan apa-apa. Bukankah kamu pernah tersesat beberapa kali dalam pendakian?"
Ah ya! Aku baru ingat tentang perihal tersesat itu. Ketika aktif didunia kemapalaan, aku sudah dua kali menjelajah gunung. Pertama, Gunung Rinjani di Lombok, dan yang kedua Gunung Tilongkabila di Gorontalo. Kedua-duanya selalu diwarnai dengan scene yang sama. Tersesat! Meski tidak sampai sehari.
"Hmmm... jalan mana baiknya yang kulalui?"
Kutimbang-timbang hal itu sambil terus mengamati sampai akhirnya kuputuskan untuk mengambil rute bagian kiri. Kuayunkan kakiku menerobos tabir kabut yang menghalangi jalan setapak yang membentang didepanku. Jalannya landai, tidak naik, bahkan tidak menurun. Aneh...
Kabut seakan membentuk tabir tebal yang membuat cahaya senterku tak mampu menerobos sekat alam itu. Rasa dingin menusuk tulang kembali datang memelukku. Jaket parasut tidak banyak membantu menghangatkan tubuhku, membuatku sesekali bergidik kedinginan. Langkahku pelan namun terayun mantap, sementara jalanan yang tersorot cahaya senter tetap membentang didepan sana. Sampai akhirnya langkahku berhenti. Alih-alih menemukan hewan atau tanaman langka, aku malah menemukan sebuah gerbang.
"Apa ini?" gumamku kembali takjub.
Gerbang didepanku terlihat tua dan rapuh. Sekilas mirip dengan gapura bergaya Candi Bentar yang sudah runtuh sebagiannya. Sulur-sulur tanaman merambat telah banyak menggelayut di dinding-dindingnya yang suram.