PAHING

Kartono
Chapter #2

GAPURA DI TENGAH HUTAN

"Tapi ada baiknya... Sampeyan nggak usah kesana," sambung wanita itu, langsung membuat alisku terangkat.

"Memangnya, kenapa Jeng?" tanyaku, penasaran. Hamdi dan Sutan pun demikian. Wanita itu menghela napas dan memasang senyum datar.

"Aksesnya sulit dan warga-warga disana sulit untuk diajak berinteraksi," tutur wanita itu. Aku manggut-manggut lalu menghela napasku.

"Aku kesana sih karena undangan sahabat," ungkapku. Wanita itu langsung menatapku.

"Sahabat? sampeyan punya sahabat dari Dukuh Kinasih?" tukas wanita itu sangsi. Aku menatapnya dan mengangguk.

"Dia seorang tenaga medis yang mengabdi disana," ungkapku lagi, namun wanita pemilik warung itu malah makin sangsi. Aku mendengus pelan, "kalau nggak percaya juga sih nggak apa-apa, soalnya..."

"Baiklah, Mas. Hati-hati saja," pesannya. Aku mengangguk dan langsung menikmati menu pesananku.

Wanita pemilik warung itu pergi meninggalkan kami. Tak lama kemudian, Hamdi dan Sutan pamit duluan untuk melakukan pendakian. Sementara itu, sayup-sayup kudengar pembicaraan antara dua orang - seorang lelaki dan seorang perempuan - kemungkinannya si pemilik warung.

"Dia mau kesana?" tukas suara laki-laki.

"Iya, Pak'e. Katanya... mau nyambangi temannya yang tenaga kesehatan itu," jawab si pemilik warung itu.

"Yaaaa... mudah-mudahan saja nggak terjadi apa-apa," sahut suara lelaki.

"Ya, Pak'e. Kejadian tujuh puluh empat tahun silam nggak terulang lagi," timpal wanita pemilik warung itu. Aku sudah menyelesaikan rangkaian sarapanku dan menghabiskan setengah gelas Kopi Gula Aren ketika wanita itu muncul lagi.

"Jeng," panggilku.

Wanita itu mendekat. Aku merogoh kantung celana, mengeluarkan dompet dan mengeluarkan selembar uang warna biru. Kusodorkan lembar fiat itu sambil bertanya, "emang kejadian apa waktu tujuh puluh empat tahun lalu?"

Wanita itu tersenyum, menerima lembaran uang kertasku lalu berkelit, "nggak ada, Mas." Dia berbalik menuju meja kasir dan membuka rak, mengeluarkan lembaran uang kembalian lalu kembali mendatangiku.

"Sampeyan tahu letak Dukuh Kinasih?" pancing wanita itu.

Aku tersenyum dan mengeluarkan ponselku, lalu membuka fitur gambar dan memperlihatkan sebuah peta buatan Sadewa yang menggambarkan posisi kampung tersebut. Wanita pemilik warung itu manggut-manggut.

"Mas tahu jalan menuju kesana?" tanya wanita itu lagi.

"Kata teman saya sih, harus melewati dulu Bukit Lokos, terus ke Gunung Senna... terus..." jawabku mengingat-ingat. Kulihat wanita pemilik warung itu tersenyum. Dia kemudian menerangkan jalannya.

"Sampeyan ikuti saja para pendaki yang menyusuri jalur Bukit Lokos. Nanti, menjelang masuk ke Gunung Senna, akan ada persimpangan. Yang kiri itu mengarah ke Lapang Jembar. Nah, Mas nanti belok kanan," tuturnya sambil menyerahkan uang kembalian.

"Terus?" cecarku.

Lihat selengkapnya