Gak salah lagi! Bentuknya persis! sebuah gerbang bergaya Candi Bentar, dindingnya sebagian dipenuhi lumut dan sulur-sulur tanaman merambat. Aku bergegas maju meninggalkan Sadewa dibelakangku. Langsung kucari plang nama yang tertempel di gapura itu, sesuai kejadian dalam mimpi. Semuanya persis!
Plakat beton itu terselimuti lumut. Kusingkirkan hamparan tanaman sewala itu dan akhirnya huruf-hurufnya bisa kulihat. Alisku langsung berkerut melihat abjad aneh yang terpampang pada plakat itu. Kudengar suara langkah mendekat.
"Anda memasuki Alas Talijiwo, itu yang tertulis," jawab Sadewa berdiri disisiku, "Berarti, sedikit lagi, kita akan tiba di Dukuh Kinasih."
Aku menoleh menatapnya. Sadewa balas menatapku dan mengangguk, "Ya! kamu benar! hutan ini, bersama Alas Sanggrahan di Gunung Senna termasuk dalam kawasan konservasi taman hutan raya," ujarnya sembari mengamati sekitaran.
Aku menegakkan diri, "bukan itu yang muncul dalam pikiranku. Kau salah menebak!"
Sadewa tertawa, "sesekali salah, kan nggak apa-apa?" tangkisnya.
"Kamu bisa membaca tulisan ini?" tukasku.
Sadewa membulatkan mulutnya lalu menjebikan sejenak bibirnya. Setelah itu dia menjawab, "itu abjad Jawi, berbeda dengan abjad Hanacaraka."
"Begitukah?" tukasku lagi. Sadewa mengangguk dan mengajakku kembali meneruskan langkah.
"Warga Dukuh Kinasih tidak pandai menggunakan abjad Hanacaraka, apalagi abjad latin. Sejak dulu, mereka menggunakan aksara historis turunan Brahmi tersebut hingga saat ini," tutur Sadewa lalu kembali menatapiku dan mengulas senyum hangatnya, "bahkan, aku sendiri sedikit bisa menulis aksara itu, karena lama mengabdi ditempat ini."
"Nggak kepikiran untuk pindah, Wa? ke Dukuh Tirta misalnya?" pancingku menyebut salah satu pedukuhan di Desa Wehuripan. Sadewa menggeleng dan kembali menatap ke depan.
"Aku sudah terlanjur nyaman disini, Le..." jawab Sadewa pelan.
"Tapi, kata perempuan pemilik warung yang kutemui... warga Dukuh Kinasih tidak suka berinteraksi dengan warga sekitar," ungkapku kemudian mencondongkan tubuhku kepadanya, "apakah itu benar?"
"Nggak juga," sanggah Sadewa kemudian menatapku, "buktinya aku? aku kan bukan asli penduduk sini, masih juga diterima kok."
Perjalanan kami tak terasa menuruni lereng gunung sampai akhirnya aku menemukan sebuah perkampungan... agak ramai, tersembunyi dari dunia luar, berlokasi di lembah lereng Gunung Udarati dan Gunung Goro-Goro.
"Selamat datang di Dukuh Kinasih, Jenar Anggara..." celetuk Sadewa.
***