PAHING

Kartono
Chapter #4

PERTANDA DARI GELIAT TANAH

"Namamu Jenar Anggara, tapi kok tinggalnya di Gorontalo? Apa keluargamu merupakan transmigran?" tanya Bu Mintarsih. Aku tersenyum dan menegakkan tubuhku dalam duduk.

"Tidak, Bu. Saya sebenarnya peranakan Jawa saja. Ayah saya aslinya orang Surabaya, sementara ibu saya adalah penduduk lokal," jawabku membuat istri dari Pak Arya lalu manggut-manggut. Sang kepala kampung menghela napas sejenak dan kembali bertanya - lebih tepatnya menginterogasiku.

"Kamu mau tinggal berapa lama disini, Le?" tanya Pak Arya.

Aku menatap Sadewa sejenak kemudian menatap pemilik rumah, "kalau njenengan tidak keberatan, saya mau menghabiskan cuti akademik saya disini, sekaligus mengenal tradisi dukuh ini."

"Tidak ada yang unik di dukuh ini, Nang. Selain... satu syarat yang tidak boleh kamu langgar," jawab Pak Arya pelan dan datar.

"Jika njenengan tidak keberatan, bisa sebutkan syarat tersebut? Insyaallah saya bisa menepatinya," sahutku. Pak Arya sejenak menatap Sadewa, kemudian menatapku.

"Ketika kamu keluar nanti dari dukuh ini, jangan pernah beritahu pada orang diluar sana tentang keberadaan dukuh ini!" jawab Pak Arya menandas. Aku terkesiap teringat tentang perbantahan kami dengan pendaki di jalur menuju Lapang Jembar dan penuturan wanita pemilik warung shelter itu.

"Ah, rupanya itu... kalau njenengan berkenan, bisakah menjawab pertanyaanku? Maaf, agar hal semacam ini dapat saya mengerti dan tidak menimbulkan pertanyaan dilain waktu," sambutku. Pak Arya sejenak menautkan alisnya lalu kembali datar dan manggut-manggut.

"Silahkan," jawabnya memperkenankan.

"Di warung pendakian, wanita pemiliknya menuturkan tentang peristiwa tujuh puluh empat tahun lalu," tuturku kemudian menatap lagi kepada kepala kampung tersebut, "apakah hal itu berkaitan dengan persyaratan yang njenengan ajukan tadi?"

Kulihat Bu Mintarsih menoleh dan menyentuh lengan suaminya. Pak Arya sejenak menatap istrinya lalu kembali menatapku.

"Memang ada keterkaitannya," jawab Pak Arya kemudian menghela napas dan tersenyum, "namun, hal yang paling mendasar dari larangan ini adalah... kami, warga Dukuh Kinasih memang tidak mengkehendaki orang luar untuk tahu letak kampung ini, semata-mata untuk menjaga kelestarian alam dan kemurnian tradisi."

"Selain itu?" cecarku.

Pak Arya menegakkan tubuh menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tatapannya menerawang, "tidak ada, selain demi kelestarian lingkungan dan adat budaya. Kami, masyarakat Dukuh Kinasih, adalah satu dari sekian perkampungan yang menolak modernitas yang cenderung merusak tatanan."

Sedang asyik kami bercengkerama, tiba-tiba saja sesuatu terjadi...

GREK!!! KREK-KREK-GATA-GATA-GATA-KREK-KREK!!!

Seketika tanah bergetar dan pendopo mengeluarkan suara getaran yang berpadu dengan bunyi retakan material.

Lihat selengkapnya