PAHING

Kartono
Chapter #5

GADIS PENYANDANG BUSUR

"Iya, itu benar. Tapi kalau sekedar melintasi halaman pawon sih nggak masalah," ujar Sadewa menatapku datar. Aku membulatkan mulut dan manggut-manggut kemudian menghela napas dan mengangguk.

"Okey, yang penting nggak masuk ke bangunan pawon ya?" sahutku kemudian berbalik meninggalkan ruang kerja sahabatku itu. Aku kembali masuk ke kamar dan mengambil handuk serta peralatan mandi kemudian melangkah santai menyusuri lorong gedhok tengen sampai akhirnya menemukan lawang butulan yang tembus ke halaman bagian belakang. Disana memang ada sebuah bangunan yang terletak ditengah area berumput sedang sebuah seketheng lagi disisi kanan yang mengarah ke hutan.

Itu pasti pawon yang disebutkan oleh Sadewa. Aku sebenarnya belum paham tentang adat istiadat menumpangi rumah tradisional jawa ini, tapi apapun yang dikatakan sahabatku tentunya aku harus mematuhinya, sebab dia yang sedikit tahu.

Aku melangkah santai menyusuri halaman pawon sampai tiba di area sanitasi. Ada dua bilik disana. Satunya kamar mandi dan satunya jamban. Disisi kamar mandi ada sebuah sumur beton berpancang dengan roda katrol ditengah-tengahnya dilingkari oleh tali penggeret timba. Aku mendekat dan tiba di bangunan sanitasi itu. Kedua pintunya terbuka sehingga aku bisa melihat isinya.

Bak terisi setengah air, jadi aku harus menimba dan mengisinya agar penuh. kuletakkan plastik berisi sikat gigi dan pasta serta pencukur kemudian handuk kusampirkan ke daun pintu. Setelah itu aku berbalik menuju sumur. Setibanya disisi beton pembatas sumur, kulongokkan sedikit kepalaku ke bawah. Airnya terlihat hitam, mungkin saja dasarnya dalam.

Melihat sumur beton berpancang itu, mengingatkanku akan masa kanak-kanakku dimana setiap menarik tali timba, pasti secara reflek menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebagaimana seorang anggota pengibar bendera pusaka.

Kuraih tali dan mulai menariknya, seperti halnya seorang penggerek bendera menarik tali pancang. Timba yang menciduk air perlahan ke atas dan kugenggam pinggirannya. Airnya hangat agak panas, mungkin mencapai suhu 40° celsius. Kutuangkan air dari timba ke lubang inlet. Begitu seterusnya sampai bak air itu penuh.

Aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Kegiatan bersih tubuh menggunakan air hangat alami itu sedikit menyegarkan tubuhku yang penat, menjadi santai dan segar. Nyeri otot akibat perjalanan mendaki pegunungan perlahan sirna dibasuh air hangat yang mengepulkan uap. Aku berasa menikmati air hangat di area pemandian umum, bedanya yang kuhuni sekarang adalah kamar mandi.

Urusan bersih-bersih sudah selesai. Kulingkarkan handuk ke pinggangku dan menggenggam pakaian ditangan kiri, dan peralatan mandi ditangan kanan. Aku keluar dari kamar mandi sambil bersiul-siul senang, namun...

JELB!!!

HM?

Langkahku terhenti dan aku tertegun. Sebatang anak panah menancap nyaris diujung jemariku yang menjepit tali sandal. Kuangkat kepala dan menatap seorang perempuan muda, mengenakan kemben dan stagen yang melilit perut dibalut sabuk angkin bergesper, memperketat wastra yang melingkar dipinggang dan ujungnya menjuntai hingga ke betis.

Wajahnya ayu dan tubuhnya cerah, kuning langsat. Rambut perempuan itu panjang sepunggung, sebagiannya disanggul dan diberi hiasan sementara ditangannya tergenggam busur tradisional, Gandewa terbidik dengan ujung panahnya padaku. Kantung endhong berisi beberapa batang jemparing tersampir dipunggungnya diikat oleh selempang ketat yang melingkari pundaknya.

Kecantikan alamiahnya seperti fajar yang menyapa bumi, tetesan embun di ujung kelopak mawar, dan melodi senja yang menenangkan. Kecantikannya terlukis dalam aksara tanpa ujung, tak bisa kueja hanya dengan pandangan mata, melainkan terasa lewat degup jantung yang sabar. Aku terpesona benar.

"Delok apa kowe???" sergahnya memelototkan mata.

Lihat selengkapnya