PAHING

Kartono
Chapter #6

PENJELASAN LOGIS TENTANG GEMPA

"Kita diundang ke pringgitan," ujar Sadewa, mengajakku.

Aku baru saja menyelesaikan ritual sholat Maghribku dan duduk bersila diatas sajadah melantunkan dzikir. Keberadaannya membuatku terpaksa menghentikan sejenak rutinitas itu.

"Ngapain?" tanyaku, menatapnya.

"Ya, ajakan mangan bengi," jawab Sadewa.

Aku kembali manggut-manggut lalu bangkit kemudian meraih sajadah dan melipatnya, meletakkan benda itu disisi ranjang. Aku keluar mengiringi Sadewa menyusuri lorong gendhok menuju depan.

"Lho? kok ke depan? bukannya kalau makan malam mestinya ke pawon?" tanyaku, heran.

"Kamu kan tamu," jawab Sadewa tanpa menoleh, "kecuali kalau kamu sudah dianggap dekat semacam kerabat begitulah..." sambungnya lalu menatapku, "barulah kamu diajak makan di pawon."

"Kamu sendiri?" cecarku lagi.

Sadewa tersenyum jenaka, "aku sudah sering gabung dengan keluarga Ndoro Polo makan di pawon," ujarnya kemudian mengedipkan mata lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku, "berhubung kamu sahabatku, maka aku temani kamu makan di Pringgitan."

"Pringgitan, apa itu?" cecarku lagi.

"Ruangan luas di belakang pendopo," jawab Sadewa kemudian berhenti, membuatku ikut menghentikan langkahku. Kami saling berhadapan. Sejenak sahabatku itu memperhatikan sekitar kemudian menatapku lagi.

"Ada banyak adat istiadat sekitar tradisi joglo yang harus kamu tahu," ujar Sadewa.

"Okey, katakan saja padaku," pintaku sembari memasukkan keempat jemariku ke kantung celana. Sadewa menghela napas sejenak lalu menerangkan lagi.

"Selama disini, jangan pernah punya niat memasuki bangunan utama. Kamu terlarang untuk itu! Begitu juga dengan area pawon. Kamu hanya bebas mengunjungi pendopo saja. Selebihnya, itu tidak boleh," ujar Sadewa, serius.

"Berarti, aku hanya bisa bermain-main di area gendhok, halaman depan dan pendopo, begitu?" tukasku dan Sadewa menganggukinya. Lama aku diam sampai akhirnya suara langkah kaki membuat kami menoleh ke arah suara. Laki-laki yang kemarin menyambut kami didepan jalan mendekat kemudian membungkuk.

"Sampeyan kabeh sudah ditunggu," ujar lelaki itu memberitahu.

Kami tersadar dan segera mengikuti lelaki itu menyeberang lorong gendhok menuju ke serambi depan bangunan utama yang menjadi sekat transisi antara area publik ke area privat rumah. Tempat itu agak luas meski tak seluas pendopo. Disana telah menunggu Pak Arya dan dua orang pemuda, juga beberapa wanita parobaya yang duduk bersimpuh dengan sopan.

Didepan mereka tergelar kloso mendong. Di atas tikar anyaman dari bahan daun pandan duri itu terpampang dua potong daun pisang yang telah diletakkan gundukan-gundukan nasi yang mengular sepanjang daun tersebut, sementara ditengah-tengahnya terdapat sebakul nasi dan berbagai jenis kuliner khas yang mendekam dalam piring dan baskom. Tak lupa dua buah kendi dan gelas terbuat dari potongan bambu hitam yang dihaluskan.

Lihat selengkapnya