RANI
Setelah aku kembali ke Kota Rovaniemi, Jakarta bukan lagi hantu.
Sebelas tahun lalu, ketika kusampaikan keinginan merantau ke Finlandia, orang-orang menganggap aku Rani, si pemimpi besar yang tidur di siang bolong.
Keluarga inti, dan keluarga dekat, tak memberi dukungan padaku. Berbulan-bulan mereka menyampaikan berita dari negeri yang terdengar sangat khayali.
Setiap ada kesempatan mereka mengisahkan sebuah negeri yang sebentar lagi tenggelam oleh kepungan Laut Utara. Dari cerita mereka, penduduk aslinya senang menculik orang asing untuk dijadikan tontonan di dalam rumah. Konon semak belukar hampir menutupi seluruh negeri, buah apel beracun tersebar di tepi jalan, ada ratusan danau dengan ular tersebar di pinggiran danaunya, ada orang makan orang.
Saat mereka menjelma pendongeng dengan kisah-kisah menggelikan, entah di mana negeri dongeng itu berasal, saat itulah Jakarta seperti momok bergentayangan dalam ingatanku.
Beberapa saudara dan sahabat datang ke bandara untuk mengacau di hari keberangkatanku ke Finlandia. Mereka merampas satu-satunya koper yang aku bawa ke bandara.
*
Ketika aku meninggalkan kota Jakarta sebelas tahun lalu, untuk sekadar mengucap sumpah tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kota itu pun aku tak sudi. Aku tak ingin kehilangan apa-apa lagi, meski hanya mengumpat dan bersumpah untuk kota itu.
Untuk semua hal remeh itu, aku tak mau kehabisan tenaga. Hanya amarah dan rasa getir tercampur aduk di dalam diriku. Aku pergi, berharap tak akan pernah kembali.
Frank Setiawan, tamu dari Jakarta, membawa sebuah kabar saat aku sedang mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan di sebuah hospice. Masa kontrak kerjaku tiga tahun sebagai perawat lansia di hospice itu sudah habis. Aku ingat sekali. Sebulan yang lalu, pihak panti perawatan lansia menawarkan perpanjangan kontrak. Pikiranku dan suasana hatiku kacau, aku belum mempertimbangkan kelanjutannya.
Frank menyampaikan bahwa kondisi kesehatan Bapak dan Ibuku di Jakarta dalam keadaan buruk. Keduanya berbarengan sakit.
“Rani. Kamu harus segera pulang ke Jakarta,” kata Frank saat itu.