Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #2

2

RANI  

Sebelum tinggal di Rovaniemi, aku menghabiskan separuh gajiku untuk biaya tempat tinggal di Helsinki. Sepuluh tahun, tujuh bulan, aku menyewa satu kamar di apartemen besar yang mempunyai dua kamar. Lima tahun terakhir ini, aku sharing dengan Aisyah Camara, Pelaksana Harian Kebersihan Kota di Helsinki. Dia berasal dari Mali, Afrika. 

Aisyah menempati kamarnya bertepatan dengan ujian akhir kursus bahasa Suomi di jenjang mahir. Saat itu aku baru belajar bahasa Suomi secara mandiri, kata per kata.  

Senyatanya dia memang fasih berbahasa Suomi. Bicaranya ekspres. Wasweswos, tanpa kendala. Aku selalu senang mendengar dia bicara bahasa Suomi dengan cepat.  

Sejak kecil dia penutur bahasa Prancis. Sebagai bahasa resmi di Mali, bahasa Prancis memberikan pengaruh besar pada pola ucap orang asli Mali, termasuk dia. 

Cara dia menuturkan kata per kata bahasa Suomi mempunyai intonasi lebih ekspresif. Seperti juga kebanyakan migran asal Afrika pada umumnya di sini, penutur dari beberapa negara Afrika cenderung menggunakan naik turun nada yang lebih hidup dibandingkan penutur asli Finlandia, yang umumnya berbicara dengan intonasi lebih datar. Dia dengan bicara penuh gairah. 

Aisyah selalu memperkenalkan diri sebagai Orang Gurun. Dia ingin orang tahu bahwa hidup tanpa laut seperti memanggang daging rusa tanpa garam.   

Dia besar di landlocked – negara dataran tanpa garis pantai. Konflik etnis dan perang saudara menyebabkan Aisyah tidak mempunyai kesempatan berenang di Sungai Niger dan Sungai Senegal yang mengalir di negaranya. Sebenarnya dua sungai itu menjadi denyut kehidupan negara tandus itu, akan tetapi tak ada satu pun masyarakat sipil berani menceburkan diri ke dalam sungai itu. 

“Pasukan ekstremis dan etnis militer menguasai sungai di sana. Mereka tahan di dalam air, seperti ikan trout yang menguasai danau-danau di negeri ini,” terang Aisyah memberi alasan, mengapa tidak bisa berenang. 

Dia tidak bisa berenang, tapi anehnya ingin kursus menyelam. 

Ketika dia mengajak kursus menyelam, aku sempat menolak.  

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “En halua! No! No! No!” 

“Saya punya imbalan untukmu. Saya kasih kamu privat bahasa Suomi di apartemen khusus untukmu. Gratis!” Aisyah berbahasa Suomi, kata per kata. Tangannya ikut memperagakan isyarat untuk mempermudah pembicaraan. 

“Gue logika yang berpikir. Lu adalah keajaiban yang bertindak. Dari gurun Mali merantau mendekati kutub utara. Enggak bisa berenang, mau kursus menyelam. Kita adalah tim yang sempurna, Aisyah!” 

Okei” katanya menyatakan setuju.  

Dia akan memberikan privat gratis di apartemen. Tak perlu biaya transportasi,  sehari satu jam, waktu atas kesepakatan. Kami berdua sepakat.  

Berenang bukan masalah besar untukku. Tidak semahir atlet renang, tetapi aku bisa berenang di kolam renang. Aisyah meminta lebih. Aku harus ikut kursus berenang sejak tingkat dasar seperti dia. 

Aisyah memperagakan huruf ‘V’ dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Nanti saya akan sulap kamu seperti penutur asli.”    

Aku tak berdaya. Tawaran itu terlalu menggugah selera. Aku sepakat. 

Untuk kursus renang tingkat mahir dan kursus menyelam sampai tingkat divemaster, aku menghabiskan waktu lima bulan, dengan modal tabungan satu setengah tahun. 

Aku harus berhenti dari pekerjaanku sebagai perawat lansia di panti jompo. Aisyah lebih beruntung, dia bisa mendapatkan cuti selama sampai kursus selesai.  

Lihat selengkapnya