Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #3

3

RANI 

Rusa yang banyak ditemui di Kota Rovaniemi dan seluruh kawasan Lapland selalu mengingatkan aku pada Aisyah Camara. Sebagian besar orang menyebutnya rusa kutub. Di sini orang menyebutnya metsäpeura.  

Beberapa kali Aisyah mengatakan bahwa rusa kutub itu sebagai rumah kehidupan.  Sebagai Orang Gurun, dia sangat menaruh harapan besar terhadap kutub utara, termasuk binatang serta tumbuhannya. Baginya, mereka adalah harapan untuk langit tetap menurunkan hujan. 

“Bumi masih berputar, jika rusa-rusa itu masih ada di sana,” kata Aisyah padaku saat itu, menambahkan alasan. 

Sudah dua kali dia menolak ajakanku untuk mengadu nasib di kota ini. Dia tidak merasa yakin bisa bekerja di kota yang sangat dingin ini.   

“Rani, kamu harus tahu, tanah kelahiranku sangat gersang. Seperti langit dan bumi dengan Helsinki. Apalagi Rovaniemi.” terang Aisah padaku. 

“Jangan ingat kotanya, ingat pekerjaannya. Penyelam bola golf itu pekerjaan mulia.” 

“Rani, kamu pasti ingat uangnya besar, ya. Ha ha ha.” 

“Ya. Ha ha ha.” 

“Kamu punya simbol untuk perbedaan suhu dingin antara Rovaniemi dan Kota Bamako? yang sangat besar ini?”  tanya Aisyah kepadaku saat ikut mengantar sampai terminal bus Helsinki. Aisyah kelahiran Bamako, Mali, zona paling kering dan panas di bumi. 

Dari rusa kutub, aku ingat kota ini. Kota yang aku harapkan bisa mengubah arah hidupku yang begini-begini saja. Nyaris tak ada tabungan sama sekali selama delapan tahun bekerja.  Helsinki memang mahal, tetapi aku tidak konsumtif. Membeli buku dua bulan sekali pun belum tentu.  

Aku harus bergerak. Harus berubah!  

Aku harus mencari peruntungan lain. Setidaknya, aku bisa mendapatkan suasana yang sedikit berbeda.  

Setelah menyelesaikan kelengkapan administrasi dan tanda tangan kontrak kerja penyelam bola golf, di Santa Claus Golf di Rovaniemi, aku merasakan sesuatu yang khas. Tiba-tiba hawa dingin salju mulai terasa kuat. Di penciumanku, aroma tipis mentol dan kayu lapuk mulai merayap pelan. Bulan September masih setengah badan, belum mendekati kepala bulan Oktober.  

Saat bergegas pulang ke Helsinki, aku melihat sosok yang sangat kukenal sejak lama. 

“Santi!” aku memekik gembira saat itu.  

Seorang perempuan muda dengan kucir ekor mencari sumber suara. Dia menemukan aku dan membalas dengan seruan yang serupa. “Kak Rani!” 

Kami berpelukan. 

“Santi, lu mimpi apa ketemu gue di sini?” 

“Kak Rani ngapain di sini?” pipi Santi bertambah merah, saat itu juga. 

“Cari kerja di golf. Lu ngapain di sini, San? ” 

Lihat selengkapnya