Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #4

4

RANI  

Selamat tinggal Jakarta. Selamat datang Rovaniemi.  

Tadi malam, aku kembali berdiri dengan tegak di Bandara Helsinki Vantaa. Bandara dipenuhi para penjemput, pengantar, dan penumpang yang baru kembali ke tanah Nordik.  Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Di saat yang sama, kesebelasan Norwegia dan Brasil masih berlaga di lapangan hijau Piala Dunia 2026.   

Beberapa orang duduk menghadap giant screen. Mereka adalah warga Norwegia dan sebagian kecil fans kesebelasan The Vikings. Mereka duduk di lantai berjajar-jajar, menyesuaikan seadanya tempat, membuat gerakan seolah-olah sedang mendayung perahu Viking.   

Jiwaku terasa hidup kembali. Bandara terasa semarak.  Saya melihat kepala Santi dari arah belakang, hanya kucir rambut ekor kudanya malah. Dia menepati janjinya untuk menjemputku di bandara.  

Dari bandara kami pulang menuju apartemen, di Rovaniemi. Kami punya banyak pilihan, tapi Santi sudah memasukkan nama kami ke mesin debit bus ekspres semi panoramik dari perusahaan transportasi terkemuka di negeri ini, Matkahuolto. Bus itu andalan para pelajar dan mahasiswa. Meski demikian, kondisi penumpangnya jauh dari gambaran mahasiswa dan pelajar di negara-negara lain. Penumpang di sini tampak pendiam, dan anteng dengan dirinya sendiri.  

Seluruh kursinya berukuran besar. Bisa dijamin, penumpang yang duduk bersebelahan tidak akan saling senggol. Setiap baris ada dua kursi. Ada jarak satu telapak tangan orang dewasa antara kursi yang bersebelahan.  

Baik kenal, atau tidak kenal, warga lokal di sini tidak saling menyapa jika bertemu di jalan. Menyapa untuk berbasa-basi ibarat jalan menanjak penuh bebatuan. Semua orang pasti akan menghindarinya.  

Namun, sebenarnya mereka bukan pendiam, akan tetapi lebih menghargai ruang pribadi. Apalagi di ruang tertutup seperti bus. Mereka juga sangat menghindari basa-basi. Maka pantas saja bila bus ini terasa lengang dan tenang. Aku sering merasa risi sendiri saat perutku keroncongan.  

Mereka duduk tenang di kursi, pandangan lurus ke depan. Warga lokal sangat menjaga jarak dengan siapa pun. Tidak ingin diganggu, dan tidak mengganggu. Hanya kami berdua yang duduk bersebelahan dalam satu baris, dan menyisakan suara (tentu suara Santi, siapa lagi?). Selain kami, baris kursi yang lain diduduki satu orang penumpang. Semua kursi dekat kaca kosong.   

Calon penumpang lain, yang belum mendapatkan duduk menganggap bus sudah penuh. Sopir paham kondisi seperti itu. Para penumpang rela menunggu jadwal bus berikutnya.    

 ***  

SANTI  

“Santi!” pekik Rani dari arah belakang saya.   

Tadi malam saya menjemput Rani di Bandara Helsinki Vantaa sesuai kesepakatan bersama, sesaat sebelum keberangkatannya ke Jakarta, tiga minggu lalu.  

Dari bandara, kami bergegas pulang. Saat di dalam bus menuju apartemen, Rani nyaris tak bersuara.  

Bus yang kami tumpangi dari bandara menuju Rovaniemi membelah sinar keemasan yang jatuh di jalanan sunyi. Langit masih terang. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ini hari pertama musim panas. Matahari tengah malam masih akan terjadi seminggu ke depan. Saat itu, kami akan menikmati malam-malam yang  panjang dengan sinar terang.  

*   

Sejak kami naik bus, belum ada obrolan yang berarti. Rani menghabiskan perjalanan ini dengan melamun. Tidak seperti biasanya, kali itu Rani lebih banyak diam.   

Saya canggung. Saya dibuat bingung olehnya. Apakah saya melakukan hal yang salah? Saya memikirkan kesalahan apa yang saya perbuat hari ini.   

Tidak ada. Tidak ada kesalahan kecil pun yang saya perbuat hari ini.   

Sejak di bandara, saya belum bertanya apa-apa, tetapi dia sudah merengut dengan wajah ditekuk-tekuk. Kalau saja kebaikan boleh dihitung, bisa dikatakan, justru saya sudah berbuat baik padanya.   

Tanpa dipinta, saya membawa barang bawaannya berupa satu koper, dan salah satu tote bag dari tiga tas yang dia bawa. Satu cup kopi hitam yang saya berikan untuknya seperti rangkaian bunga mawar salah warna untuk situasi yang berbeda. Meski sama harumnya, tetapi bisa salah alamat. Mawar salah warna yang cantik tidak dibuang, tetapi diletakkan di halaman belakang rumah, seperti tidak dianggap.   

Lihat selengkapnya