Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #5

5

RANI 

Sesampainya di apartemen, aku lebih banyak menyendiri di dalam kamar. Aku rebah di kasur, memandang langit-langit dengan perasaan hampa.  

Untuk sarapan, Santi ingin membuatkan bubur gandum dengan taburan keju, tapi aku menolak.  

“Gue belum lapar, San.” 

Aku harus jaga perasaan Santi, tak elok sudah dijemput malah seperti bersembunyi di dalam kamar. Pintu kamar kubiarkan terbuka. Cahaya keemasan menyebar di langit tanpa menyisakan warna gelap sedikit pun. Matahari menggantung rendah di ufuk utara, seolah lupa cara tenggelam. 

Tiba-tiba aku merasa lesu dan penat saat melihat dua koper berjajar, dan tumpukan tote bag di bawah tempat tidur.  

Tote bag. Ini bisa jadi biang masalah. Aku baru menyadari salah satu dari tote bag itu lambat atau cepat akan jadi masalah besar. Tote warna hijau lumut itu bisa membuat seorang gadis merasa seperti kebakaran hutan, menghanguskan apa saja yang ada di sekitarnya. 

Santi pasti tahu sejarah tote bag itu. Dan aku yakin, Santi sudah menduga dari mana aku mendapatkan tas kain kanvas itu. Siapa lagi yang bisa dijadikan tertuduh, kalau bukan Frank Setiawan? Dari dugaan itu, Santi akan lebih mudah mencari tahu, bagaimana aku mengenal Frank, yayasan sekolah milik kedua orang tuanya, Mama dan Papa Santi. Meski aku tahu, hubungan Santi dan kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.  

Berengsek! Frank sengaja memberi tas itu sebagai wadah oleh-oleh supaya Santi bisa melihatnya dengan mata telanjang. Frank sepertinya malas berdebat. Dia tak ingin keluar energi menerangkan hubungan kami berdua pada Santi.  

Lamunanku pecah ketika mendengar suara Santi sekali lagi menawarkan makanan dan minuman. Dia menawarkan dua menu sarapan lain. Tetap saja, belum ada yang bisa membangkitkan selera makanku pagi itu. 

Musim panas hari kedua, jauh sebelum subuh, sinar matahari lebih terang dari kemarin.  

Tubuhku lejar, tak seirama dengan otak dan mata yang begitu terang. 

Setelah itu aku diserang rasa gelisah. Perut terasa begah. Kaki terasa kaku. Hatiku kacau, tidak menentu. Pikiranku disesaki pertanyaan dan peristiwa yang tidak membetahkan. Rasanya badan begitu lelah, ingin tidur, tapi mata  belum mengantuk. Sumpek.  

Di dalam kamar, aku coba merenung. Aku butuh sendiri. Sekarang pintu kamar kututup. Tak lama setelah itu terdengar bunyi daun pintu kamar diketuk seseorang.  

Itu pasti Santi. Siapa lagi?  

Santi mengetuk pintu kamarku sekali lagi. Sekali lagi.  Berkali-kali, lalu senyap.  

Tak apa, biarkan saja. Nanti dia akan diam dengan sendirinya. Aslinya dia pengertian, kalem, bukan hama, bukan pemberontak. Anak baik-baik, tidak gampang marah. 

Senyap lenyap sudah. Serangan kedua dengan tiga kali ketukan di pintu. Di dalam kamar aku mendelik. Memikirkan perubahan yang terjadi dalam dirinya. Aku memilih diam karena sedang malas mengoceh tentang apa pun.  

Dengan sendirinya daftar pertanyaan (yang kira-kira akan ditanyakan Santi) muncul dalam benakku.  

Tentang Jakarta, tentang keluargaku, tentang kebiasaanku lebih memilih lari sore Graha Bung Karno ketimbang CFD di Monas, warung tegal kesukaanku, tentang berkardus-kardus buku sastra yang kutinggal di kamar bapakku. Terutama tentang sofa panjang tempatku tidur saat masih tinggal di Jakarta. 

Dari dalam kamar, aku berteriak kencang, mempersilakan Santi masuk ke kamarku. “Pintu tidak dikunci. Nyt! Tule! Tule! Tule!” Sengaja menggunakan bahasa Suomi yang sangat umum dalam pergaulan, meminta tamu yang berada di luar untuk segera masuk.   

Meski aku sudah memintanya masuk ke kamarku berkali-kali, tetapi tamu paling istimewa itu tak juga masuk ke kamar. Membuka pintu pun tidak.  

Sabar! Aku harus bisa menahan sabar. 

Mungkin suaraku tidak terdengar jelas. Kamarku berbeda dengan kamar Santi yang memiliki lubang angin.  

Badanku terasa berat, tapi aku coba bangkit dari kasur, membuka pintu, dan melihat Santi cengar-cengir di depan pintu. Sialan. 

Dia masuk, lalu duduk di kursi meja rias. Entah kenapa, dia tampak berapi-api pagi itu. Waktu menunjukkan pukul enam pagi.  

Dia makin bersemangat. Dan akhirnya dia membuka ucapan dengan pertanyaan pertama, “Apa kabar orang-orang rumah di Jakarta?” 

Justru pertanyaan pertama itu yang paling aku hindari. Malas. Aku malas menceritakan kabar yang dia tanyakan itu.  

Sejak kemarin malam, saat dia menjemputku di Bandara Helsinki Vantaa sudah memberikan sejumlah pertanyaan. Bisa ditebak. Dari mulutnya keluar pertanyaan lain yang membuatku merasa begitu lesu.    

Dia memandangi aku dengan mata bulatnya, seperti sedang membiarkan aku terkejut atas perubahan sifatnya. Mata kami seakan sejurus. Dia mendadak punya banyak pertanyaan. Seperti orang usil, terkesan kepo. Belum pernah aku lihat dia seperti ini sebelumnya. 

Saat itu, semua pertanyaannya kujawab dengan ogah-ogahan. Sesekali hanya anggukan. Kulempar senyum bila dia menjawab sendiri pertanyaannya. Kuharap dia mengerti apa maksud senyuman itu. 

Kemudian dia bertanya bagai dentuman mesiu di tengah malam, membuat telinga gatal.  

Lihat selengkapnya