Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #6

6

SANTI  

Dengan tiga alasan saya masuk apartemen tanpa membunyikan bel terlebih dahulu. Keset di depan pintu tidak sejajar dengan garis pintu. Keadaannya tidak lurus seperti letak tadi pagi. Beberapa gumpalan tanah liat dan ruas patahan rumput menyangkut di antara coarse wool rug–permukaan kasar keset dari rajutan benang wol. Selain Rani, saya yakin, ada laki-laki di berada dalam.  

Dan memang sudah dua pekan ini, setiap saya pulang ke apartemen, dan mengetahui ada Rani di dalam, saya sengaja tidak membunyikan bel.  

Rani. Seperti ada rasa mual saat saya menyebut nama itu. Perempuan penuh amarah. Orang yang tidak tahu diuntung. Dikasih harga sewa kamar murah, bukan terima kasih, malah mau menampar saya. Najis! Mulut saya jadi menyampah jika memikirkan dia kembali. Jadi buat apa mengingat-ingat kejadian itu lagi? Apa ada pentingnya buat saya? Namanya sudah saya coret dalam susunan paras ystävä—daftar nama bestie dalam budaya popular remaja di Finlandia.  

Sebenarnya saya sangat malas mengingat dia. Masih terbayang dalam ingatan saya, bagaimana Rani meluapkan amarahnya pada saya, saat kejadian dia hampir menampar saya dua pekan lalu. Sampai detik ini, saya masih enggan menyapa Rani. Saya tidak sudi menyapanya lebih dulu.  

*  

Hanya dengan sekali lirik, saya tahu siapa yang sedang bersama Rani di balkon. Dan saya tahu persis, mengapa lelaki itu berada di sini.  

Apo Linario Santos. Lelaki ganteng bertangan kekar itu berasal Filipina. Sehari-hari dia bekerja sebagai penyanyi band di cafe padang golf. Namun, dia juga bisa menyelam dan mengerti cara mereparasi alat selam. Saya mengenalnya sebagai Kuya Apo. Kuya adalah sebutan kehormatan untuk kakak laki-laki dalam budaya pinoy.  

Setengah tahun lalu, saya mengenalnya saat mendaftarkan Mama dan Papa di padang golf Santa Claus melalui offline. Saat itu akhir musim semi, Rani sedang mudik ke Jakarta.  

“Mengapa tidak mendaftar melalui online saja?” tanya Apo pada saya, dalam bahasa Suomi yang tertata rapi.  

“Selama ini saya hanya bisa membayangkan, seperti apa padang golf pada musim semi," sahut saya memberi alasan. "Ternyata lebih indah dari yang saya bayangkan.”  

Apo mendekati saya. "Fantasia! Jangan biarkan imajinasi membatasi kebahagiaanmu. Sesuatu yang tampak indah dalam pikiran, akan terasa berkali-kali lipat lebih menakjubkan saat kau rasakan sendiri keasliannya."  

Mataku memandang lanskap padang golf sampai jauh. Dataran hijau menyelimuti seluruh pandangan. Hijau menyejukkan. Seakan ada larangan bunga tumbuh di sini.  

Apo semakin mendekat ke arah saya. “Jadi tunas muda bunga bakung lembah yang membawamu ke padang golf ini rupanya,” seraya menunjuk ke tumpukan bunga liar yang sengaja ditanam di ujung lanskap padang golf ini. Bunga bakung liar itu sangat dihormati di negeri ini.  

“Lebih indah dari yang saya bayangkan,” kata saya memuji.  

“Kapan-kapan kalau sempat, ajaklah kedua orang tuamu ke sini saat musim semi dan gugur.”  

“Saya tidak bisa mengharapkannya,” kata saya sambil menarik napas panjang.  

Mama dan Papa sangat ingin menikmati permainan golf pada jam dua belas malam saat matahari tengah malam. Saya kenal mereka. Belum tentu saat kejadiannya berlangsung, mereka ingat akan niatnya main golf tengah malam. Untuk segala perilaku angot-angotan mereka, saya mendaftarkan mereka menjadi anggota padang golf itu.  

Kuya Apo berjanji mengantar saya ke club house sampai proses administrasi keanggotaan Mama dan Papa selesai. Saya bertemu Kuya Apo di tempat yang tidak tepat. Di belakang panggung dia sedang memperbaiki alat selam milik temannya yang rusak.  

“Garis kehidupan ini rusak,” kata Apo dalam bahasa Suomi, sambil menunjukkan regulator oksigen alat selam itu pada saya. “Ini bukan pekerjaan yang rumit, nanti saya lanjutkan kembali.”  

Saat Kuya Apo mengantar saya ke club house dia bertanya tentang saya, lalu saya tidak sanggup berbohong ketika dia bertanya mengenai Rani.  

“Ya, saya kenal, bahkan satu tempat tinggal di apartemen Wueeiin Iinkaa di belakang kampus Lapland,” kata saya, berharap tidak ada lagi pertanyaan tentang Rani pada saya.  

Namun, saya salah duga. Dia justru bertanya macam-macam mengenai Rani. Tidak ada yang saya jawab dengan tepat. Saya enggan melakukan kesalahan lagi pada Rani.  

“Ya, semacam itu,” jawab saya selalu seperti itu setiap ada pertanyaan Apo mengenai Rani yang membutuhkan penjelasan panjang lebar. Terus terang, saya malas berhubungan dengan Rani.  

Kuya Apo seperti tidak mau peduli. Setiap ada pertanyaan, dia lantunkan pertanyaan itu menjadi sepotong lagu.  

“Setahu saya, Rani sudah punya pacar,” kata saya pada Apo.  

Lihat selengkapnya