RANI
Lebih dari dua pekan lamanya, aku dan Santi tidak bertegur sapa. Kami saling menghindar satu dengan yang lain. Tak ada suara, tak ada tatap muka, tak ada masak bersama di dapur. Jadi jangan harap ada makan bersama seperti dulu. Bilik sauna seperti kedinginan, sejak kami saling menahan diri untuk tidak sauna.
Aku menganggap apartemen ini bukan lagi rumah, setelah merasa jalan kaki saat pulang kerja menuju apartemen terasa berat. Seperti menyeret-nyeret kaki. Sejak kemarin, aku mulai berpikir untuk mencari tempat tinggal baru.
Santi memulai kembali pertemanan kami tanpa sepatah kata maaf. Dia bersikap seolah-olah kami baru saling mengenal. Seperti di antara kami tidak pernah ada peristiwa apa pun, dia menghampiriku di balkon dengan langkah terjaga dan penuh ketenangan.
Dia masih menyisakan sebaris lirik dari lagu yang dinyanyikannya sejak tadi, demi menceritakan kampus Universitas Lapland mulai sepi karena beberapa hari lagi libur musim panas.
Selama ini dia tak pernah bercerita tentang kampusnya padaku. Setiap aku bertanya tentang kampusnya, hampir selalu dia tampak cemberut, lalu masuk ke dalam kamar. Di sisi lain, dia tidak pernah melarang atau mencegah saat aku bertanya tentang kampusnya. Selama ini dia selalu memberi jarak dengan tema itu. Kadang dia membuang pandangan ke lain arah, kadang-kadang mengganti tema pembicaraan.
Sesekali aku menilai dia tidak mempunyai rasa memiliki pada kampusnya. Di lain waktu aku merasa tema kampus adalah bagian yang sangat sensitif untuknya. Barangkali seperti pertanyaan tentang keyakinan hidup sesudah mati pada warga lokal di sini.
Kali ini dia sendiri yang membawa tema obrolan kampus. Meski aku tidak pernah kuliah, tema kampus yang sepi menjelang libur musim panas masih bisa kutanggapi.
Tidak seperti sepekan lalu, hari ini Santi tampak lebih tenang. Perkataannya tidak menyebalkan. Jippii!
Kebiasaannya jalan kaki setengah berlari di dalam apartemen sudah muncul kembali. Kecuali jika dia hendak meminta tolong, aku bisa menandai cara dia jalan lebih teratur, anggun, atau berirama.
Sebenarnya sejak pagi tadi, aku merasakan dia sudah tampak sangat rileks. Dia yang aku kenal benar-benar telah kembali. Dia seperti sengaja menghadangku di dekat kamar mandi, di dekat dapur. Kami berpapasan. Dia tersenyum dan seulas salam, “Selamat pagi Rani!” Saat itu aku heran setengah mati.
Aku juga mulai mendengar kembali dia menyanyikan lagu anak-anak saat di kamar tidur dan kamar mandi. Dan saat ini, dia tidak menderu-deru saat bertanya. Dia bertanya sekaligus mau mendengarkan.
Dan yang sedang hot saat ini dia sudah mau menceritakan kampusnya, meski hanya sekilas. Pagi cemerlang dengan langit kemilau, seibarat porselen dipoles crystal plating agent. Sebening dua gelas air putih di kedua tangan Santi. Saat Santi ke menghampiriku di balkon dengan gelas-gelas kristal itu laksana legenda Dewi Luonto di hutan eigendom orang-orang Nordik. Dewi Luonto pembasuh wajah putra matahari hingga memancarkan sinar berkilatan.
Pagi ini begitu damai. Tak ada yang kurang.
Apalagi di mulut Santi masih tersisa sebaris nyanyian. Dia selesaikan nyanyian itu sampai ketukan terakhir, dan tersenyum. Dia manis sekali. Semua terasa pas. Aku rela melayani segala pertanyaannya kalau begini.
Dia mendekatiku. Aku bisa membaca gelagatnya. Kalau sudah begini, artinya obrolan sebelumnya bukan yang utama. Tema kampus mulai sepi adalah sampiran, bukan itu yang mau dia sampaikan.
Hari ini aku masih dalam jadwal kerja penyelaman malam. Dia punya keperluan di kampus, sementara temannya sebentar lagi datang ke apartemen. Tanpa harus dijelaskan, aku sudah paham kelanjutannya. Bukan hal yang mengejutkan, beberapa kali ini terjadi.
Jika ada tamu di apartemen, lalu terdengar bunyi bel satu sampai empat kali, berarti bukan teman Santi. Aku punya pilihan untuk mengintip siapa pun orang asing di depan pintu melalui peephole. Aku boleh membiarkan orang asing itu mengambil satu-satunya pilihan: pergi menjauh.
Pilihan lain. Aku boleh bertanya kepada orang asing di depan pintu dengan nada tinggi sambil menggerendel pintu. Aku juga boleh bicara dengan nada ketus di antara chain guard. Aku punya kesempatan untuk bertanya apa saja. Bahkan sedetail mungkin. Sesudah itu aku banting tutup pintu dengan keras.
Tak perlu aku bersumpah atas nama apa pun, pada kenyataannya tidak pernah ada orang asing yang bertamu ke sini. Yang datang ke sini orang yang sudah kami kenal. Setidaknya kenal muka.
Yang datang hanyalah satu orang temanku, dan teman Santi terutama. Teman kenal muka. Tidak ada tamu yang tidak mengenal salah satu dari kami. Tamunya, ya itu-itu saja.
Tak pernah ada orang asing yang menyentuh tombol bel pintu kami. Tak perlu aku mengintip orang asing melalui peephole, karena tidak ada orang asing yang perlu diintip. Tak pernah ada riwayat kriminal di apartemen ini. Namun, Santi selalu mengulang-ulang pesan itu setiap ada sempat. (Menurutku dia terlalu banyak menonton crime movie.)
Untuk kasus lain. Bunyi bel di pintu terdengar lima kali. Tak perlu berkata ketus, tak penting bertanya yang tidak ada gunanya, apalagi rasa curiga. Bel bunyi lima kali, langsung buka pintu. Itu pasti teman Santi. Pasti. Aku tidak punya pilihan, selain mempersilakan tamu itu masuk. Cuma itu.
*
Peraturan diciptakan manusia untuk menjaga keteraturan, tetapi selalu ada celah tersembunyi yang dapat ditelusuri oleh manusia lain, yang menjadikan kelemahan sistem sebagai ladang keuntungan. Itulah yang aku lakukan.
Santi lupa menjadikan ketukan di daun pintu sebagai salah satu dalam aturannya. Dia hanya fokus pada jumlah bel yang terdengar.
Ada satu tamu yang sudah dua kali datang ke apartemen ini tanpa memencet bel. Dia mengetuk daun pintu, dan aku menemuinya dengan suka cita.
Tamu itu datang dari Jakarta. Beberapa kali dia ditugaskan ke negeri ini. Setiap ke sini, dia membawa sejumlah agenda pekerjaan. Aku tidak peduli dengan segala tetek bengek tugasnya.
Bagiku kehadirannya ke apartemen ini selalu membuat aku kesulitan menginjak bumi. Aku merasa terbang saat melihat gerak-geriknya. Pikirannya sangat terbuka. Virtus. Mulutnya mini kata. Sorot matanya dalam. Aku selalu ketagihan dengan bau lavender yang melekat di pakaiannya.
Jika mengingat dia, sebenarnya aku merasa berdoa kepada Santi. Awal mula aku mengenalnya karena dia mengetuk pintu dengan ketukan random. Saat aku buka pintu, dia nyengir. Aku langsung suka.
Setelah dia masuk ke dalam, kami duduk di ruang tamu, mengobrol macam-macam tema. Tema obrolan kami bertambah luas karena saat aku bertanya kenal kedua orang tua Santi dan pernah bekerja untuk yayasan sekolah itu, dia menanggapi dengan senyum hangat. Dan saat dia menceritakan tengah bertugas untuk yayasan sekolah orang tua Santi, aku membalas dengan reaksi serupa.
“Dua hanya selebar lesung pipit kamu,” katanya.
Mati-matian aku menahan rasa gemas bercampur bahagia di hadapannya.
Dia pamit hanya dengan dua pesan. Pertama menurutnya, aku tidak perlu menyampaikan ke Santi bahwa dia datang hari ini. Kedua memberi nomor seluler untukku.