SANTI
Saya mengamati jam dinding. Sejak sore berlangit terang, sampai malam bercahaya cemerlang, Rani berada di dalam kamarnya dengan pintu terbuka.
Seperti lokan berlumur lumpur saat tahu ada belut mencari mangsa, nun jauh entah di mana. Lokan berdiam di dalam cangkang sampai hilang segala ancaman.
Di masa lalu lokan pernah hampir di buru belut. Namun nasib mujur masih berpihak pada lokan. Apakah lokan menyimpan dendam pada belut? Apakah saya seperti seekor belut yang sedang mengancam pihak lain?
Masih teringat semua kata-katanya saat ingin menampar saya saat itu. Saya akui saat itu saya memang lancang. Lidah yang lancang bisa memancing badai, tetapi hati yang terus menyimpan dendam akan membuat badai itu tak pernah benar-benar reda.
Rani tampak sangat terusik saat saya bertanya tentang naturalisasi. Dia mau pindah kewarganegaraan mana pun itu hak dia, mestinya saya ungkapkan saat itu. Saya justru ingin mengingatkan dia kembali, melalui sofa panjang. Ada bapak dan ibunya yang sangat membutuhkan dia di Jakarta. Meski dia sudah mudik, bisa dipastikan dia bertemu bapak dan ibunya, akan tetapi, saya lihat dan amati dia tetap melengkapi proses dan syarat naturalisasi.
*
Saya tidak berminat mengusik Rani, meskipun saya memiliki informasi penting untuknya.
Informasi tentang peluang kursus bahasa Suomi gratis di Perpustakaan Pusat Oodi, dan tentang lowongan pekerjaan di Perpustakaan Nasional Helsinki untuk posisi kirjastovirkailija – staf administrasi perpustakaan yang merapikan buku di rak, serta melakukan perawatan dan pembersihan sehari-hari pada buku. Saya yakin, dua informasi ini sangat penting untuknya. Dua informasi dari perpustakaan itu, saya adalah sumber informasinya.
Informasi yang ketiga mengenai proses naturalisasi dari MIGRI–Finnish Immigration Service. Informasi terakhir ini datangnya dari Niken Suprapti, teman baik Rani.
Niken seorang petugas kebersihan di sebuah coffee shop, di Helsinki. Dia berasal dari Lampung Timur. Dia dan Rani berteman sejak sama-sama kursus bahasa Inggris, di Jakarta. Rani mengikuti kursus bahasa Inggris selama enam bulan, sebelum merantau ke sini. Sedangkan Niken meneruskan kursusnya sampai jenjang mahir.
Mereka berdua mempunyai karakter yang jauh berbeda. Niken sangat terbuka dan apa adanya, sedangkan Rani tidak demikian. Untuk hal apa pun, yang satu langit, lainnya bumi.
Dua minggu lalu Niken datang ke apartemen kami dengan membawa kopi bubuk, dan informasi untuk Rani, termasuk berkas-berkas beserta buku-buku.
Saya menduga, Niken tergolong orang yang go show, termasuk saat ingin mengunjungi rumah teman. Jika dia ada keperluan, tak perlu berpikir dua kali, tancap gas, langsung berangkat ke rumah yang dituju. Dia ingin bertemu Rani, langsung datang ke sini.
Saat Niken datang, Rani masih mudik ke Jakarta. Saya seorang diri di apartemen, berarti menjadi tuan rumah untuk Niken. Saat dia berkunjung ke apartemen, di situlah saya bisa mengenalnya lebih dekat.
*
Sejak Niken merantau ke sini enam tahun lalu hingga sekarang, dia terbilang baru menguasai Suomi di tataran bahasa pasaran, 128 Kata Paling Umum di Helsinki.
“Habis, saya sehari-hari ngumpul sama orang Indo juga,” terang Niken memberi alasan.
“Mestinya enggak masalah, asal sesama kita ngomong Suomi.”
“Ah. Maunya sama native,” ungkap Niken dengan gaya sedikit merajuk.
“Enggak gampang cari warlok yang mau jadi native suomen kieli, Kak Niken. Penutur asli orang sini mana mau small talk.”
“Betul banget, San. Heran juga saya, tadinya enggak betah di sini. Eh, sampai juga enam tahun di sini.”
Dia sadar, untuk melewati proses naturalisasi harus memenuhi syarat menguasai bahasa Finlandia atau Swedia minimal kemampuan Tingkat Kemahiran Berbahasa Menengah atau dalam tataran level B1, dan tinggal di Finlandia selama 8 tahun berturut-turut.
Artinya selain memperlancar bahasa Suomi, dia harus menunggu dua tahun lagi, jika ingin mengajukan permohonan pindah kewarganegaraan.
“Jadi, belum pernah sampai belajar mata pelajaran astevaihtelu?” tanya saya sedikit bergaya intellectual flexing.
Inilah ranjau yang sesungguhnya. Astevaihtelu adalah fenomena bahasa dalam bahasa Suomi, pelajaran kursus yang memperlihatkan proses perubahan gradasi huruf konsonan dengan banyak sekali aturan pengecualian. Menurut saya pelajaran ini paling sulit sepanjang kursus bahasa itu. Seperti terpanggang saat pertama kali mempelajarinya di kursus.
“Boro-boro, Santi!”
“Rasanya seperti kepala di kaki, kaki di kepala ya, Kak Niken?”
“Ho-oh! Puyeng!”
Pada kenyataannya, sampai saat ini, dia masih di tingkat rendah untuk tata bahasa Suomi. Dan pada akhirnya, dia meminta tolong Rani untuk mencari kursus online yang berkualitas, dan masih berjuang untuk mendapatkan kursus gratis bahasa Finlandia, atau kursus kelas karyawan di malam hari.
“Kak Rani ikut kursus lagi?”
“Loh, buat apa? Dia sudah tingkat mahir. Jalannya dia sih sudah mulus. Tinggal duduk manis.”
Saya mengacungi jempol dengan seulas senyum di bibir. Namun, di hati saya mulai tersimpan sejumlah tanya.
*
Niken pencerita ulung. Tema obrolannya tidak bisa dibendung. Dari yang renik sampai kelas ikan paus, semuanya kena jaring, dan kami lahap bersama. Dia penghibur sejati, gampang membuat kami tertawa bersama.
Niken gemar melucu. Dan memang benar-benar lucu gayanya bercerita. Kecuali tentang naturalisasi, dia amat serius.
Kami bicara tentang apa saja. Sering kali dia keceplosan tentang ini itu. Terkadang menyerempet tema sensitif. Tak jarang hal remeh-temeh. Saya biarkan saja, dan tak perlu diingat-ingat, jika saya mampu untuk melupakannya.