Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #9

9

RANI 

Saat aku duduk santai di ruang tengah dengan segelas air putih, bunyi bel sebanyak lima kali terdengar. Dari arah kamar Santi berlari menuju pintu sambil memanggil-manggil nama Minna Enniina dengan irama lagu anak-anak.  

Lima bunyi bel terdengar yang lebih singkat. Seperti ketukan lima per delapan. Hatiku mengatakan yang datang bukan Miina Enniina. Ketukan bel tadi ada biramanya. Miina tidak seperti itu.  

Dan ternyata benar. Niken datang untuk menemuiku. Ruang tengah jadi saksi, betapa wajah Santi sungguh tidak sedap dipandang mata. Campuran antara terkejut dan kecewa menghiasi wajahnya. Dia duduk di ruang tengah tanpa kata-kata, tanpa suara. 

Menurutku, Santi tidak mengenal Niken. Mereka hanya teman kenal muka. Sepertinya hanya sebetas itu. 

Tadi Niken tidak sedang bergurau. Dia memang sering merasa akrab dengan siapa pun. Tadi dia menekan bel sebanyak lima kali mungkin karena sudah merasa akrab dengan Santi. Meskipun begitu, Santi bersikap lain.  

Sore yang cerah. Awan putih di langit seperti menyelimuti lampu pijar yang menyala terang. Seperti biasa, Niken muncul di apartemen tanpa memberi kabar sebelumnya.  

Sesungguhnya aku sudah yakin Niken akan datang ke sini karena ada hal penting yang harus kami berdua bicarakan segera. Sudah terlalu lama tertunda, apalagi aku sempat mudik ke Jakarta selama tiga minggu. Kami enggan mengulangi kesalahpahaman saat berdiskusi dengan seluler. Kami sama-sama kesulitan berkomunikasi lewat teks WA, misalnya. Seperti tidak pernah bisa tuntas dan menemui titik temu.  

Tadi pagi aku menghitung jadwal kerja dan libur Niken. Dia punya jadwal libur dua hari: hari ini dan besok. Feeling-ku mengatakan dia pasti datang hari ini. 

“Kok kamu tidak cemberut melihat saya datang?” tanya Niken padaku. 

“Gue yakin lu pasti datang.” 

“Rani, kamu memang cerdas. Makanya saya tidak perlu kasih kabar mau ke sini.” 

Obrolan itu bukan rahasia. Semua orang mungkin tahu, Niken demikian adanya. Jadi tak perlu kami menggunakan bahasa lain untuk menyamarkan. 

Aku mengajak Niken ke balkon, sebab ruang tengah sudah dikuasai Santi. Pintu balkon kubiarkan terbuka lebar. Aku memperkenankan siapa pun boleh mendengar apa yang kami bicarakan.  

Niken tersenyum-senyum tanpa suara, kepalanya bergoyang-goyang, matanya melirik ke arah ruang sebelah, lalu membulat. Aku tahu, dia minta aku memberi arahan, apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini. Dalam sekejap, seakan-akan apartemen menciut.    

Kami duduk-duduk di patio chairs. Tak perlu aku melirik ke ruang sebelah, Santi pasti sedang menguping.   

Sekarang bagaimana caranya kami bisa bicara dengan leluasa bila kondisi sepeti ini? Duduk-duduk pun kami tak tenang. Kami saling lempar informasi lewat seluler, ditambah lewat kode tangan, dan gerakan kepala seadanya.  

Aku dan Niken harus segera mengambil keputusan. Urusan kami juga penting. Saat aku melongok ke ruang tengah, Santi tampak tak segan memantau kami, tanpa mencuri pandang. Akhirnya terdengar suara yang cukup terang. Niken bertanya perihal kabarku, yang semestinya tak perlu dia tanyakan lagi. 

Tak lama setelah itu bunyi bel lima kali terdengar lagi. Kami melongok ke ruang sebelah. Setengah menari Santi jalan menuju pintu.   

Miina Enniina sang penyelamat!  

Di balkon aku dan Niken duduk-duduk lebih santai. Kami meneruskan tanya jawab lewat seluler. 

Di ruang sebelah Santi dan Miina duduk santai di sofa panjang. Mereka bicara dengan bahasa Suomi.  

Karena terkejut mendengar suara was-wes-wos dari ruang sebelah, mataku membeliak. Niken mendelik ke arahku. 

Santi dan Miina bercakap-cakap dan tertawa tanpa beban. Mereka abai pada kami. Namun pada akhirnya kami mendengar bahasa pergaulan yang masih bisa ditebak orang kebanyakan. Masih satu dua kata sulit yang mereka ucapkan. Tema obrolannya enteng. Bukan hal penting. Yang terpenting tidak membicarakan tentang hal yang sensitif mengenai aku dan rencanaku.  

Niken datang ke sini untuk menemuiku, setelah sebulan lebih kami menunda banyak hal yang harus diselesaikan. Namun, ada juga hal besar yang harus kami rahasiakan. 

Tentang kursus bahasa Suomi untuk Niken. Kami sepakat untuk tidak membicarakannya dengan sembarang orang. Aku dan Niken paham, perihal kursus bukan rahasia, toh semua pekerja migran di sini punya peluang yang sama untuk belajar bahasa Suomi, juga bahasa kedua Swedia.  

Meski nantinya yang kursus hanya Niken, tetapi aku tak mau semua orang tahu. Enam tahun silam, saat aku kursus pun tidak banyak orang yang tahu. Bahkan Niken pun baru dua tahun belakangan ini.  

Menurutku, tidak kepada semua orang kami bisa membicarakan itu. Santi salah satunya.  

Beberapa bulan lalu, Niken protes, “Ada alasannya?”  

“Enggak ada.” 

“Tidak bisa begitu. Saya harus tahu kenapa Santi enggak boleh tahu?” tanya Niken masih penasaran.   

“Ya pokoknya Santi enggak boleh tahu.” 

“Kenapa untuk hal lain kamu tidak se-sensi ini. Lagian yang kursus kan, saya. Kamu kan baru lulus ujian bahasa.” 

“Santi enggak boleh tahu. Titik.” 

“Kamu itu loh, sudah lulus B2, saya tidak perlu membawa-bawa namamu, Rani. Mestinya kamu duduk manis.” 

Aku menggelengkan kepala. “Enggak. Tetap enggak.” 

“Masalah kursus bisa jadi bibit pertengkaran kita, loh, Ran?” 

“Gue enggak mau kalau Santi tahu. Lu mesti ingat itu. Dia bisa cerita tentang itu ke Mama sama Papanya. Terus bisa merambat ke mana-mana. Bikin pusing. Terbayang semua orang akan tahu dalam sekejap. Orang-orang di sana itu kan enggak ada kerjaan.” 

“Takut Ibu sama Bapak kamu tahu soal itu? Kamu belum izin?” 

Waktu itu aku bertolak pinggang. “Gue enggak suka omongan lu yang ini. Lu enggak perlu bahas sampai ke situ.” 

“Tapi Santi, Ibu sama Bapak kamu bisa tahu dari orang lain, toh?” 

“Terserah!” 

“Kamu pasti tahu, info kecil kalau sampai di Jakarta cepat nyambernya.” 

Lihat selengkapnya