RANI
Aku dan Santi mengajak Miina Enniina berdiskusi bersama. Ada dua hal yang akan kami bicarakan padanya. Namun, Miina menolak karena harus segera berangkat ke Helsinki, naik bus keberangkatan paling pagi dari terminal bus Rovaniemi.
“Kita bisa bicara dari hati ke hati,” pinta Santi pada Miina.
“Saya tidak ada waktu,” kata Miina dalam bahasa Indonesia yang terang.
“Ini tak akan lama. Kita bisa mulai sekarang!” Santi duduk di dekat Miina.
“Santi. Saya sangat sibuk,” kata Miina tegas.
“Ini urusan rumah kita. Urusan kita,” kata Santi masih berusaha.
“Saya hanya menumpang.”
“Tapi kamu sudah saya anggap keluarga, Miina.”
“Kalau urusan pribadi, jangan libatkan saya,” kata Miina.
“Miina, ini tentang rumah kita. Kamu harus terlibat. Ini tentang kita.”
"Saya harus segera berangkat. Sebelum jam tiga siang saya harus tiba di sana,” sahut Miina.
Mestinya Santi mengutarakan niat itu sejak kemarin, supaya kami bisa mengikuti jadwal kesibukan Miina. Saat Miina sedang mempersiapkan travel bag, Santi membahas status rumah bagi warga negara Finlandia.
Santi seperti bicara sendiri. Pandangan matanya hanya lurus ke arah jam dinding, tidak tertuju kepada siapa pun.
Santi bicara seperti monolog. Lebih tepatnya semacam monodrama. Suaranya membahana, bergetar, santer.
Santi mengingatkan Miina bahwa warga negara Finlandia akan mendapat predikat Tunawisma Status Baru bila menginap di rumah teman dalam jangka waktu tertentu. Warga yang mendapat status dari pemerintah itu karena tidak memiliki rumah pribadi, atau tidak mampu menyewa rumah atas nama sendiri.
Miina tampak acuh tak acuh, terus saja mempersiapkan barang bawaannya. Dia sudah menginap di sini, dan untuk seterusnya. Aku mengetahui Miina berniat menginap dalam rentang waktu yang panjang, Santi sendiri yang memberitahu barusan.
“Saya tahu. Saya yakin semua orang Finnish tahu itu. Dan saya siap dengan status itu,” akhirnya Miina menyahut. Entah Miina bicara kepada siapa, matanya juga tertuju pada jam dinding. “Saya harus segera pergi. Saya tidak mau ketinggalan bus pagi.”
Satu tema diskusi lain adalah tentang sofa panjang yang kembali melintang di dekat dapur. Kebetulan aku dan Miina sama, menarik napas panjang.
“Ini penting kita bicarakan!” seru Santi pada Miina.
“Saya tidak ada masalah dengan itu,” kata Miina menunjuk sofa panjang.
Aku dan Miina yang tidak mempermasalahkan letak sofa panjang. Sepertinya tema itu terlalu remeh temeh bagi semua orang, kecuali Santi. Makin hari, makin tidak suka aku pada Santi.
*
Santi mengakhiri kalimatnya, “Kamu boleh tinggal di sini sampai pemerintah memberimu rumah.”
Miina terdiam di dekat travel bag besarnya.
Aku menghampiri Santi untuk mengingatkan kerepotan terkait status Tunawisma Status Baru yang akan diterima Miina. Santi kelak akan disibukkan dengan mengisi formulir-formulir, dan diwawancarai. Apartemen ini akan didatangi pekerja sosial secara rutin dan dadakan. Aku bisa bernapas lega saat Santi menyatakan sudah mengetahui itu semua.
Di negeri ini musim dingin lebih panjang dari musim lainnya, jadi rumah digolongkan sebagai kebutuhan paling penting. Suhu pada musim dingin pun terbilang sangat rendah dibandingkan dengan negara Eropa lain pada umumnya.
Aku melihat kejadian langka. Seperti kakak yang sedang menguatkan adiknya, Santi terisak lalu memeluk Miina. Santi seperti sedang memastikan Miina baik-baik saja, suaranya penuh getar. Semoga kelak akan diberi rumah yang bentuk dan lokasinya sesuai dengan keinginannya, begitu kira-kira isi doa yang terucap oleh Santi.
Keduanya membuatku terkejut untuk kedua kalinya. Kali ini mereka bercakap-cakap dalam bahasa Suomi dengan dialog yang lebih panjang dan menantang. Di situlah aku mendengar sendiri cerita Miina sesungguhnya.
Miina menjual rumahnya, dua tahun setelah kedua orang tuanya wafat karena Covid 19. Merasa kesepian, Miina menjadikan uang penjualan rumah itu untuk biaya berkelana ke negara-negara Asia, seperti Burma, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Di Bali akhirnya dia menetapkan diri selama setahun, sambil kursus bahasa Indonesia. Di sanalah Miina bertemu Santi beserta keluarganya.
Santi tak bisa diremehkan. Pengucapan kosa kata Suomi begitu terang, tak tampak dia menghafal sesuatu di kepalanya. Terdengar jelas, dia mengerti apa yang Miina katakan.
*
Miina: En välitä, vaikka minua pidettäisiin kodittomana (saya tidak keberatan dianggap tunawisma).
Santi: Todellisuudessa minun on vaikea hyväksyä sitä (sebenarnya saya yang berat menerima itu).
Miina: Elän niin kuin virtaava joki (saya jalani, seperti sungai mengalir).
Santi: Kodittomuuden status on minulle todella pelottava (status tunawisma itu sangat menyeramkan buat saya).
Miina : Voi ei! Täällä rikkaiden ja köyhien välillä ei ole suurta eroa. (oh tidak! Di sini jurang perbedaan orang kaya dan miskin tidak terlalu jauh).
*
Mengamati mereka berdua berbahasa Suomi, aku gelagapan. Saat menyaksikan dengan mata sendiri, bagaimana Santi begitu paham apa yang dikatakan oleh Miina, aku langsung merasa tertipu selama ini. Tak pernah aku tahu ternyata Santi menguasai bahasa Suomi, yang mungkin setaraf dengan kemampuanku.
Dari mana skenario itu berasal? Mengapa aku yang harus menyaksikan ini semua? Apakah ini sungguh-sungguh?
Setengah mati aku menyembunyikan perasaanku saat itu. Dan bagaimana Santi selama ini bisa melakukan tipuan ini dengan mulus?
Miina Enniina berangkat ke terminal bus Rovaniemi dengan membawa travel bag besarnya. Pandangannya lurus ke depan. Dia pergi tanpa pamit, juga tidak berbasa-basi dengan lambaian tangan.
Santi membuka pintu, melongok ke kanan dan ke kiri, memastikan Miina sudah pergi.
Santi seperti tak tahan ingin mengatakan sesuatu padaku. “Kamu pasti sudah tahu siapa pelakunya,” kata Santi setengah berbisik sambil menunjuk sofa panjang.
Aku belum bisa seratus persen melupakan lancangnya perkataan Santi waktu itu. Di sisi lain, aku harus berusaha menjadi orang teman yang baik setidaknya, jika menjadi kakak yang baik terlalu sulit. “Ya, gue tahu sejak hari pertama.”
“Rani! Kamu tahu, tapi kok kamu diam saja?”