RANI
Saat memasuki gerbang padang golf, aku menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Belasan buggy terparkir di mulut gerbang. Mestinya mobil semi terbuka itu menunggu pegolf di depan toko golf dan cendera mata, tak jauh dari kantor club house.
Jangan menengok ke belakang. Tak perlu celingukan. Itu bukan siulan catcalling lelaki iseng penggoda perempuan jalanan. Di antara deretan mobil listrik itu terdengar siulan yang melagukan Dahil Sa Iyo. Lagu klasik dari Filipina itu seakan-akan hanya dimiliki oleh seorang lelaki di sini.
Aku tahu itu Apo Linario Santos. Langkah kakiku semakin cepat, siulannya semakin pesat.
Petugas taman, superintendent, landscaper, spesialis rumput, caddy, dan para penyelam yang ditemui sepanjang jalan akan dilibatkan selama Apo bersiul-siul.
Kepada siapa pun Apo akan bertanya tentang kabar hari ini. Siapa saja yang Apo tanya dipastikan akan menjawab dengan senyuman penuh kehangatan.
Sebelum Apo bertanya pada mereka, Apo sudah memuji baju, parfum, tatanan rambut, dasi yang mereka pakai. Prinsipnya memuji dahulu, baru kemudian bertanya.
Setiap saat dia berharap ada seseorang bertanya langsung padanya: “Untuk siapa lagu cinta semerdu itu dikumandangkan?”
Dia akan mengambil napas panjang, matanya mengerjap-ngerjap, lalu menyematkan kedua telapak tangannya di dada: “Aku terlahir untuk menemani seorang perempuan yang sejak sebelum lahir sudah menuliskan riwayat nasibnya. Perempuan itu adalah ibu dari anak-anakku kelak.” Begitulah kurang lebih Apo menjawabnya.
Dia Filipina sejati. Kental sekali cara dia bertutur menggunakan ritme pengucapan dan durasi yang kurang lebih sama.
Menurutku, dia biduan kesepian yang membutuhkan panggung. Aku dilibatkan untuk memeriahkan pementasannya.
Aku tidak merasa dirugikan. Diuntungkan pun tidak. Aku ingin menghormati dia, apalagi dia sudah banyak membantuku. Aku tak perlu jadi savage, atau menampiknya di muka umum. Itu tidak akan pernah aku lakukan.
Mulanya Apo membuat banyak orang berasumsi bahwa kami adalah migran sejoli. Namun, lama-kelamaan orang-orang menjadikan kami gurauan. Sikap Apo lebih menonjolkan bakat ketimbang memberikan pengertian yang benar pada khalayak di sini. Banyak penyelam hafal riwayat hidupnya.
Sejak kontrak kerja tahun pertama, dia dikenal sebagai Penyelam Bersuara Tenor. Julukan salah tapi benar itu sampai sekarang masih melekat pada dirinya.
Di tahun kedua dia tidak lagi bekerja untuk perusahaan penyelaman. Sampai bekerja di tahun kesepuluh, perusahaan golf telah menjadikan dia pegawai tetap. Di atas panggung cafe dia tampak licin dengan pantalon, collarless suit – jas tanpa kerah, serta topi fedora. Dia menyanyi empat hari seminggu, kerja tiga jam, untuk dua belas lagu. Perusahaan memberinya honor eksklusif setiap pertengahan bulan, dan bonus libur empat hari setiap bulan.
Musim berganti musim, kontrak kerja di tahun ketiga dia semakin dikenal sebagai soloist, ketimbang diver.
Aku sempat merasa kehilangan dia. Dia jadi sulit dijumpai di antara danau-danau golf. Kami seperti di dunia yang berbeda.
Saat aku mulai mengais bola golf berlumpur di dasar danau, mungkin dia sedang sibuk latihan vokalisasi. Saat aku mencuci dan memilah-milah bola yang akan di daur ulang, tidak mustahil dia sedang sibuk mematangkan microphone technique.
Seluruh awak full band, apalagi pelayan cafe sangat menyukai cara dia menghibur penonton. Saat menyanyikan lagu Dahil Sa Iyo, dia tak segan berteriak memanggil namaku saat di atas panggung. Sebagian penonton penasaran padaku. Sebagian penonton ikut mencariku.
Di tempat, Apo melantunkan lagu dari cerita rakyat Filipina bertema cinta. Selama menungguku melepas peralatan menyelam, dan membersihkan diri, dan mandi, cerita cinta terus mengalir. Aku tak menyangka, saat itu aku ditunggu banyak penonton. Ketika menyanyi dia butuh tanganku untuk dikecup.
“Pilipino meets Indon.”
“Pinoy bebs Putri Jawa.”
“Ha ha ha.”
“Ha ha ha.”