RANI
Dari halaman apartemen, Skoda Auto warna hijau rawa berjalan lambat di belakangku. Saat menyusuri jalan menuju terminal Helsinki, Skoda itu menghadangku.
Pengendaranya turun dari mobil, tersenyum lebar, lalu membukakan pintu depan. Aku sangat mengenalnya. Si ganteng. Si wajah gwapo, Apo! Ini pertemuan kedua antara aku dan Apo.
*
Saat wawancara kerja tahap pertama berupa tes menyelam, beginilah kisah pertama kali aku mengenal Apo.
Apo sedang mencari pelamar migran asal Filipina. Yang dia cari sebenarnya Juan Ciola Dela Cruz, satu-satunya migran asal Filipina yang kebetulan satu kelompok tes menyelam denganku. Akan tetapi, seorang perempuan berambut model bondol asal Jakarta yang dia tegur.
Tanpa ragu Apo menghampiriku, tersenyum, dan menjabat tanganku. “Kamusta ka na, Sister?" Apo menanyakan kabarku dalam bahasa Tagalog.
Aku tak perlu kelabakan, atau mencari alternatif aplikasi penerjemahan di seluler, misal saja, setiap mendapat salam perkenalan oleh orang yang pertama kali menyapa dengan bahasa asing. Terutama orang asing dari benua Asia dan Afrika, terutama, sangat menyukai salam perkenalan dengan sedikit basa-basi. Ucapannya pasti berkisar menanyakan apa kabar. Namun jangan harap warlok melakukan itu juga. Apo pun melakukan itu.
Dia mengira aku diaspora sangley–campuran antara Filipina dan Tionghoa. Mungkin juga ada alasan lain. Dia tak tampak asing di mataku. Mudah akrab. Gerak-geriknya menandakan orang ramah. Mestinya aku tak perlu tahu apa pun alasannya.
Aku menjawab perkenalan itu dengan menunjuk ke arah seorang pelamar yang sedang melengkapi dokumen medical statement dan surat izin dari dokter. Para pelamar termasuk aku dan Juan Ciola Dela Cruz akan menjalani open water dive test.
Setelah tes menyelam, aku mampir ke kedai kopi kecil di sebelah kantor penyelaman ini. Aku butuh segelas kehangatan. Bayanganku menjelma sebuah siulan sebuah lagu. Aku tahu, ada Apo yang kembali mengikutiku dari arah belakang. Saat memesan kopi, di situ akhirnya kami mengulang kembali perkenalan dari awal.
Pertemuan kami seolah-olah perjumpaan kembali dua sahabat kental yang sudah lama tidak bertemu. Cara dia berteman mengingatkanku pada Niken sahabatku asal Lampung Timur, migran yang bekerja sebagai petugas kebersihan. Saat kali pertama kenal Niken, aku ditempatkan di posisi sebagai sahabat lama. Tipikal orang yang mudah lengket kepada siapa pun, meskipun baru kenal. Begitu pun Apo.
Apo mengajak aku duduk di taman terbuka di depan coffee shop. Bahasa Inggrisnya relatif sederhana. Dia akui belajar bahasa Inggris melalui syair-syair lagu cinta dari Barat. Dialek Taglish—Tagalog dan Inggris dengan vokal datar tanpa penekanan suku kata yang ekstrem—terasa jelas.
Kami bicara tak kenal arah. Akhirnya dia mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya berbicara ke tema yang lebih serius. Jemarinya terus mengaduk kopi yang sudah lama kehilangan uap panasnya, seolah mencari keberanian di dasar cangkir.
“Kami bekerja dari pagi sampai malam, membayar pajak, berharap hidup sedikit lebih baik,” katanya dengan suara yang beberapa kali tercekat.
Sepertinya dia tidak menunggu aku memberi komentar. Dia lanjut membuka galeri foto di selulernya, dan memperlihatkan beberapa gambar perkampungan tempatnya tinggal. Kawasan padat penduduk. Miskin. Pengangguran di mana-mana.
Di Indo juga parah, anjay! jeritku dalam hati.
Jalanan berlubang, rumah kumuh di bantaran kali, bangunan sekolah yang kusam, dan atap rumah yang nyaris roboh diterpa hujan. “Kami selalu diberitahu anggarannya sudah disetujui, beritanya ada di mana-mana,” ucapnya sambil menggeser foto demi foto. Wajahnya tampak keruh. “Tapi yang datang ke desa kami hanya papan proyek dan janji.” Jemarinya berhenti bergerak, lalu ia mematikan layar ponselnya dengan gerakan pelan, seolah tak sanggup melihatnya lebih lama.
“Rasanya seperti mau menangis sekali setiap mendapatkan berita seperti itu lagi, itu lagi.”
“Ya, gue paham apa yang lu rasa.”
“Dalam sebulan, ada saja berita tentang korupsi di negara kami.”
“Negeri yang gue cintai, setiap hari selalu punya berita tentang korupsi.”
“Serius, Rani?”