Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #13

13

RANI 

Dari halaman apartemen, Skoda Auto warna hijau rawa berjalan lambat di belakangku. Saat menyusuri jalan menuju terminal Helsinki, Skoda itu menghadangku. Apo membuka pintu depan mobilnya dan mempersilakan aku masuk. Ini pertemuan kedua antara aku dan Apo. 

Pikiranku terus melayang ke Kota Rovaniemi. Di sana wawancara kerja tahap kedua sudah menunggu.  Aku terdiam, tak lantas masuk ke dalam mobil itu. Campur aduk yang kurasakan: Canggung, cemas, dan ragu. Sekali lagi, aku tak sengaja melihat wajahku di kaca jendela mobil. 

Astaga! Mirip orang gila. 

Tampak jelas mata panda di wajahku. Wajahku Kuyu. Seperti kaleng penyok. 

Apo kembali memintaku masuk ke dalam mobil. Lebih dari tiga kali dia mengulang kalimatnya yang sama. “Otak kita harus dilatih terus untuk mengatakan: Kita selalu punya waktu.” 

Apo pasti tahu, berkendara dari Helsinki ke Rovaniemi seperti perjalanan membelah negeri ini dari arah selatan ke utara.  Jarak 810 kilometer bukan perkara ringan. Sungguhpun demikian, dia sangat yakin kami bisa sampai lokasi tujuan sebelum pukul dua. Dia mempunyai keyakinan yang sulit aku terima.  

Sebelum perjalanan dimulai, dia meletakkan sepotong roti dan air kemasan di pangkuanku. 

“Selamat berpesta!” kata Apo penuh semangat.  

Selama dia mengebut, aku merasa melayang di sebelahnya. Sambil terus menderu Apo bercerita bagaimana rasanya menjadi pegawai terbaik selama dua tahun berturut-turut.  

“Berat! Saya harus mempertahankannya.” Pandangan Apo lurus, melihat jalan tak menoleh ke arahku sama sekali. 

Aku tidak menanyakan prestasinya. Mungkin saja apa yang dia katakan itu benar, tetapi untuk apa dibahas di saat begini runyam. Dan tidak ada untungnya buatku.  Baiknya aku biarkan saja dia mengoceh sepanjang jalan. Mungkin itu caranya melepas ketegangan.  

“Mulanya saya dikontrak kerja tiga tahun, sekarang jadi enam tahun.” Apo melanjutkan ceritanya dengan suara bergetar-getar.  

Setelah dia menyelesaikan ceritanya, Skoda berhenti di tepi jalan. Dia keluar dari mobil, seperti melihat-lihat kolong mobilnya. Tak lama kemudian dia masuk kembali ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi, lalu menghela napas panjang. 

Dia memperlihatkan batu kerikil kecil, lalu meraih tanganku.  

“Maharani, tolong kepal sekuat tanganmu. Luka sedikit tak apa.” 

“Apa-apaan sih, Apo?” 

Apo memberi isyarat agar aku jangan banyak bicara. Mulutnya monyong ke arah mulutku. Dia Filipina yang santun, tidak menunjuk dengan jari tapi dengan mulut. 

“Pas wawancara nanti, baru lepaskan kepalan tanganmu,” Apo menjelaskan dengan penuh kesabaran.  

“Gue lakukan semuanya, Apo. Tapi lu harus jelaskan untuk gue lalukan ini semua?”   

Apo tidak menjawab pertanyaanku. Dia punya cara sendiri untuk membuatku merasa tenang, menyanyi dengan cara bergumam. 

“Kuatkan kepalan tanganmu, Maharani. Katakan dalam hati: Kita selalu punya waktu,” kata Apo dengan intonasi lembut. 

Aku ikuti petunjuknya. Meski aku belum benar-benar paham, mengapa dia memberiku batu kerikil jalanan, lalu memintaku untuk mengepal sambil merapal ucapannya itu.  

Lihat selengkapnya