SANTI
Mata saya segar seperti matahari tengah malam yang merekah sepanjang hari. Malam begitu terang, kamar ini tak lagi terasa dingin. Barangkali yang berubah bukan ruangan ini, melainkan saya.
Ingatan tentang laki-laki beraroma obat nyamuk datang tiba-tiba. Bagaimana dia bisa begitu setia mengisi ruang kosong di hati saya? Ingatan itu seperti sinar matahari yang langsung membakar hangat dada saya.
Saya terlanjur lupa, kapan kali pertama saya mengenali bau itu dari dirinya. Waktu berlalu, namun baunya tetap sama. Tidak romantis.
Meskipun demikian, saya ingat pertama kali akhirnya memberitahu dia saat berdekatan dengannya, ingatan saya langsung tertuju pada lotion pengusir nyamuk. Melihat saya cengar-cengir menahan tawa, dia bertanya, “Apa yang aneh?”
“Kamu tidak anggap saya nyamuk, kan?” tanya saya waktu itu.
Sebentar. Saya menunggu reaksinya. Sepertinya ini bukan perkara besar, dia hanya mendengus, pelan, sebentar.
Tak ada jadwal khusus baginya saat datang menghantui saya. Kapan pun bayangan semunya bisa menclok di mata saya. Setelah itu, saya berlekas-lekas ingin bertemu dengannya. Nyaris tak tertahankan. Ingin saat itu juga.
Entah di mana dia sekarang berada. Saya hanya bisa mengandalkan seluler, dan bertanya padanya, jika itu bukan hal mustahil.
Dia bukan tipe orang yang membalas chat. Kadang, membacanya pun sama sekali tidak. Dia pernah mengatakan sesuatu dengan enteng, tapi bisa membikin saya gondok. Kami berselisih karena pesan WA yang belum dia baca karena selulernya kehabisan baterai.
"Saya lupa kapan terakhir kali mengisi baterai seluler,” katanya saat itu. Dia selalu membawa selulernya di dalam sling bag-nya.
Dia memperlakukan seluler seperti saya melihat baliho caleg saat masih di Jakarta, dua tahun lalu. Ada, tapi tidak penting.
Meski tidak sering, saya pernah menghubunginya melalui WA. Sekali lagi, itu bukan jalan terbaik. Dan selalu membuahkan penyesalan sampai sekarang. Dia tak membuka pesan yang saya kirim, apalagi membalasnya.
Besar kemungkinan dia tetap bisa membacanya lewat tangkapan layar tanpa membuka isi pesan saya. Anak kecil pun bisa melakukan itu, bukan keahlian yang luar biasa.
Saat itu, kami masih sama-sama di Jakarta. Saya baru selesai ujian akhir SMA. Saya mengirim pesan WA bahwa saya kangen bau obat nyamuk.
Lewat setengah hari setelah itu, dia datang ke rumah saya dengan membawa cerita tentang lututnya. Mengapa jalannya sedikit pincang, apa pasal dia ingin menghentikan program cold exposure training-nya. “Mahal. Bikin badan remuk,” katanya sambil menyingkirkan debu yang menempel di celananya.
Setelah menduga saya akan mengambil kuliah di Finlandia, (bukan Amerika Serikat), dia mendaftar di sebuah klub pemulihan suhu kontras atas kemauannya sendiri. Di mata saya, dia mempunyai paket lengkap: dia sendiri yang membayar pelatihan itu, dia juga yang ingin menghentikannya, tapi dia puji-puji setinggi langit manfaat pelatihan air dingin itu.
Setelah keluh kesah itu hilang, dia membicarakan urusan pekerjaannya. Wajahnya kembali seperti semula. Kaku. Datar. Akhirnya saya yakin, dia sama sekali tidak peduli dengan semua pesan yang masuk ke selulernya. Setidaknya pesan dari saya.
Setiap kali hati saya kesal, dia semakin menakjubkan. Hati saya hangat. Di kejauhan, entah di mana, saya merasakan dia semakin menggetarkan. Saya langsung ingat rambut ikalnya. Ya, gaya sombongnya. Apa saja, asal dia.
Saya suka duduk berdekatan dengan dia dengan segala baunya. Dan dia tahu itu.
Yang menggemaskan, bunyi napasnya terdengar jelas melalui hidung, Apalagi saat dia dalam keadaan meradang oleh sesuatu, entah apa. Suara dengusannya terasa keras sekali.
Dada saya berdebar kencang tatkala mendengar suara seperti kuda mendengus.
Suara itu selalu menerbitkan harapan. Begitu menggairahkan. Bunyi dengusnya membuat pikiran saya mengembara ke mana-mana.
Saya selalu menaruh harapan menyaksikan dia seibarat bronco–kuda hitam yang mengamuk, atau memberontak.
Bila itu terjadi, saya butuh pegangan. Gejolak yang datang lebih dahsyat dari angin yang masuk ke dalam perut, dia memabukkan tanpa sebab. Saya tidak kuasa. Ingat dia selalu membuat rasa nyeri tiba-tiba menghantam ulu hati saya. Dalam keheningan, tubuh saya menggigil hebat, menjadi saksi bisu bahwa seluruh tenaga saya telah terkuras habis. Benar-benar payah.
Jam dinding selalu jujur. Tanpa jarum pendek dan jarum panjang itu, saya bisa kehilangan segala-galanya. Hanya jam dinding yang bisa mengingatkan saya, banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena memikirkan orang yang sudah bisa dipastikan tidak memikirkan saya.
Saya selalu mengulangi kesalahan saat mengingat dia. Saya lupa makan. Saya lupa pelajaran kursus, lupa jogging, lupa minum susu almon, lupa janji menelepon Mama dan Papa, lupa jalan santai ke hutan pinus.
Dia membuat saya lengah saat berenang di danau es, memulangkan buku ke perpustakaan, membersihkan kamar, sauna. Saya bisa abaikan semua itu tanpa alasan.
Kepada semua orang, saya selalu berhasil menutup-nutupi apa yang tengah saya rasakan. Mereka mengira saya tidak betah tinggal di sini. Saya biarkan saja. Terserah apa kata mereka.