SANTI
“Frank! Gila kamu!” jerit saya ketika membaca Whatsapp dari Frank Setiawan.
Tadi di tengah kepanikan saya menghubungi Polisi Nasional Kantor 112, beberapa notifikasi muncul di seluler saya. Salah satunya dari Frank. Ternyata dia sudah mengirim kabar melalui WhatsApp bahwa dia akan datang ke apartemen saya pada pukul delapan. Dan dia sudah menepati janjinya.
Darah kembali berdesir panas. Saya yakin, wajah saya memerah.
Saya kangen Frank. Namun saya kesal. Saya ingin dia mengajak saya makan malam, tapi mana mungkin. Saya ingin bercerita banyak padanya. Saya ingin jalan-jalan di Hutan Nasional Lapland dengannya. Jika dia mau, saya akan ceritakan padanya bahwa di musim panas, hutan salju Lapland menjelma semak penuh bunga berry liar yang harum. Namun saya enggan mengatakannya, jika tidak dia tanya. Siapa tahu dia belum tahu, yang pernah dia lihat seperti gurun salju, di saat musim panas telah menjelma semak belukar dan bunga-bunga liar.
Pintu masih tertutup, tapi saya sudah mengetahui siapa yang sejak tadi memukul-mukul daun pintu. Frank masih berada di luar, di balik pintu. Sebelum membuka pintu untuknya, saya harus memastikan raut wajah seperti apa akan saya perlihatkan untuknya. Tampak marah? Suntuk? Air muka yang keruh? Kegirangan? Atau, bahagia?
Saya membuka pintu. Setengah mati saya berpura-pura gusar saat menemuinya.
“Orang jahat mau apa kemari?” tanya saya pada Frank.
“Itu disimpan dulu,” kata Frank menunjuk pole spear yang melintang di dekat kaki saya.
“Ini urusan saya.” Saya ambil pole spear yang melintang di lantai.
“Aku tak bisa lama-lama di sini, hanya mampir sebentar.”
Kalimat itu mulai akrab di telinga saya. Tadi Miina juga mengatakan kalimat itu.
“Frank, kamu itu kalau takut tombak kenapa datang ke sini?”
Frank tidak menggubris pertanyaan saya. Dia masuk ke dalam apartemen tanpa saya pinta. Seperti biasa, dia selalu fokus dengan pekerjaannya. Dia duduk di sofa panjang.
Sudah lima tahun dia bekerja di yayasan sekolah milik kedua orang tua saya. Saya tak perlu terlalu merasa percaya diri. Tak perlu. Apalagi mengira dia datang ke sini mau mengajak saya jalan-jalan di Hutan Nasional Lapland. Itu khayalan yang terlalu ketinggian.
Dia datang ke sini bukan untuk urusan perasaan. Bukan juga datang dengan rasa rindu yang membuncah. Dia datang ke sini membawa pesan dari Mama dan Papa saya. Ini pekerjaannya.
Minggu depan, selama libur musim panas, Mama dan Papa meminta saya untuk pulang ke Jakarta. Saya menolak Frank mengurus tiket Jakarta Helsinki PP, dan pengiriman paket di awal.
“Saya sibuk,” kata saya ketus.
Frank melihat saya dengan wajah tanpa doa, tidak memberi komentar apa-apa.
Hati saya cemas. Saya tidak senang mendengar kabar ini. Saya berharap mereka punya jadwal rapat atau kesibukan lain sehingga berhalangan untuk menemani saya libur di Jakarta.
“Berita kayak begitu, kan Mama Papa bisa kirim WA langsung ke saya. Tidak perlu menghabiskan 26 jam pesawat terbang. Buang-buang uang saja. Kamu bisa mengerjakan hal lain.”
“Aku sedang bekerja.”
“Kamu bisa cerita yang lain, dengan WA kan segalanya jadi murah dan mudah.” pinta saya pada Frank.
Dia menggelengkan kepalanya. “Bukannya kamu anti banget sama Whatsapp?”
Sialan. Dia memutarbalikkan kenyataan.
Dia memulai obrolan. Ceritanya tidak membosankan, segar malah. Namun, membuat saya terpojok, seakan-akan saya tidak pernah tahu berita pilu dari tanah.
Dia bercerita tentang jembatan di sebuah desa roboh, lalu anak-anak berenang untuk sampai ke sekolah. Pekerjaannya bertambah. Dia sedang mengurus keperluan ke desa itu. “Yayasan akan membantu desa itu,” kata Frank.
“Apa?”
“Beberapa puluh anak sekolah di yayasan.”
“Di mana mereka akan tinggal?”
“Asrama?”
Ya. Yayasan sedang bangun asrama.”
“Hebat! Saya bahagia mendengarnya.”
“Kebetulan, kalau kamu tidak mau liburan ke Jakarta, aku bisa harus urus banyak keperluan untuk desa itu.”
“Yes! Jadi Frank kapan mau ke desa itu?”
“Segera.”
“Oh, ya sudah! Jadi kapan kamu mau pulang ke Indo? Sekarang?”
Frank mendelik. Dia seperti menahan suara di mulutnya.
“Lalu kenapa Frank justru malah kemari?” kata saya, sengaja membuatnya bertambah kesal.
“Aku sedang bekerja. Besok, lusa, tulat, aku mampir lagi sebentar.”