Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #16

16

SANTI 

Dengan menyisakan pendar keemasan di ufuk barat daya, matahari pulang ke sarangnya lebih awal. Siang terlalu cepat luntur, sebentar lagi gelap akan tiba, membawa hawa dingin yang membekukan kulit. Musim gugur akan segera berakhir. 

Menjelang akhir November, ketika dua musim peralihan nyaris tuntas, maka efek polar night menjadi lambang musim dingin. Peralihan dari musim gugur ke musim dingin adalah simbol bagi kesempurnaan hidup seorang perantau yang merelakan keindahan masa lalu, matahari menyengat setengah tahun, setengah tahun sisanya diguyur hujan. Saya merasa cukup tangguh untuk menghadapi masa depan yang sunyi dan beku di sini, sambil tetap menyimpan kenangan hangatnya surya tropis di dalam dada yang tak pernah padam.  

Peralihan dua musim bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan jeda panjang yang mengajarkan saya mengingat kembali apa yang telah saya perbuat selama ini. Mana teman yang masih setia. Mana teman yang akhirnya menjadi musuh abadi. Dan mana teman yang tidak perlu lagi ditolong. 

Musim dingin akan datang, dan saya menyambutnya bukan sebagai musuh, meski memang bukan sahabat karib yang hangat. Hujan salju tebal adalah guru yang mengajarkan bahwa di balik setiap kedinginan yang mematikan, tersembunyi benih musim semi yang hanya akan tumbuh bagi mereka yang berani bertahan dalam diam. Saya berdamai dengan kondisi yang senyatanya memang harus saya lewati. Saya kesepian, harus saya akui. Namun, saya tak punya jalan lain. 

Saya tidak membayangkan akan pulang ke Indo selama musim dingin. Saya bukan pecundang. Saya belum memasuki dunia kuliah sama sekali. Jujur saya belum menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan . Bahkan kursus bahasa Suomi pun baru memasuki tahap tingkat mahir di tahun ini. Jika saya pulang ke Jakarta, saya kalah sebelum bertanding. 

Apalagi kedua orang tua saya belum mengetahui selama ini saya baru bisa menempuh kursus, belum menjejak masa perkuliahan Fakultas Ilmu Pendidikan. Semua bisa runyam dan berantakan. Saya tak bisa mundur. Panas dan dingin, rumah saya sekarang di sini.  

Saya yakin Rani tidak tahu menahu tentang rahasia saya itu. Saya tidak pernah membicarakan urusan kampus padanya. Saya pun tidak pernah mengajak teman satu kursus ke apartemen. Teman yang pernah saya ajak ke apartemen hanyalah teman-teman pekerja paruh waktu di Santa Claus Village. Sengaja saya membuat Rani kedap terhadap informasi mengenai kampus Lapland. Saya merasa beruntung tidak jadi memberikan informasi mengenai kursus bahasa Suomi gratis di kampus.  

Angin di penghujung musim gugur selalu memberi kejutan. Kadang terasa seperti badai lumut yang terkelupas, kadang berdesing tajam seperti jarum. Tak terasa, sebentar lagi musim dingin kembali hadir. Ini musim dingin ketiga selama saya merantau di sini. Pohon-pohon sepanjang jalan di seberang apartemen mulai menunjukkan tanda. Daun-daun kuning beterbangan sampai jauh, satu dua daun seperti berkunjung ke ruang tamu ini.  

Seperti juga Apo yang saya anggap seirama dengan dua musim peralihan. Apo dan daun-daun gugur yang jatuh ke tanah memberi tanda pada saya agar tidak terlalu lama tidur dalam kesedihan dan kesepian. Memang tidak enak terdengar, tapi harus saya katakan. Saya belajar melepaskan hal-hal yang sudah selesai demi menyambut babak baru kehidupan. Kuncup bermunculan. Bersemi di lain musim. 

Apo mengirim sebaris Whatsapp kemarin malam, tepat saat angin berubah dari tajam seperti jarum, lalu melunak seperti badai lumut yang memburai. 

Entah dari mana dia bisa merasakan bahwa saya sedang sedih karena merasa kesepian. Namun, saya enggan terlalu membahas persoalan perasaan saya ini. Saya berhasil mengalihkan ke lain.  

Apo dalam keadaan siap-siap kembali ke sini. Dari Manila dia berangkat pukul sembilan malam lewat. Dia akan sampai sehari sesudah itu.  Setelah berhasil mendapatkan jadwal saya berjanji menjemputnya di bandara. 

Ada yang diam-diam merayap di dalam hati saya. Ingin saya keluarkan dan saya tanyakan langsung pada Apo, tapi saya belum yakin betul, apa yang membuat saya jadi terlalu berlebihan menilai sebuah pertemanan. Apakah ada larangan Apo menghubung saya? Tak akan mungkin Rani mengetahui Apo sedang menghubungi saya saat ini. Jikapun itu terjadi, Rani sebagai teman satu kantor melarang Apo berhubungan berteman dengan saya, itu hak Rani.  

Mengingat itu, saya merasa geli sendiri. Untuk kasus yang serupa, saya melarang Miina Enniina berteman dengan Rani. Namun demikian saya tak perlu merasa bersalah dan mendadak jadi insaf, menyesali tindakan saya. Tak perlu. Buat apa saya menyesali apa yang sudah saya perbuat. Tidak lulus kursus bahasa di Helsinki pun saya tidak menyesal, toh akhirnya saya menemukan Kota Rovaniemi yang molek, lagi sunyi. Kota yang tepat untuk belajar. 

Jauh di dalam lubuk hati saya sebenarnya, saya sangat membutuhkan Rani sebagai teman sekaligus kakak. Dia mampu memberi saya sesuatu yang hangat tanpa melakukan apa-apa. Asal ada dia di dalam apartemen, saya merasa terjaga. Padahal dia diam, bertanya pada saya pun belum tentu. Saya di kamar, dia di ruang tamu, misalnya, saya tetap merasa terjaga 

Namun, saat saya mengetahui Rani sedang mengikuti proses naturalisme semuanya berbeda. Saya merasa dia berubah. Bukan lagi Rani yang bicara apa adanya. Saya tahu persis, dia sangat menguasai bahasa Suomi.  

Pada satu waktu, saya menjebaknya. Baru seminggu Rani tinggal di sini sudah mencurigakan. Dia tak sengaja menerima telepon dengan bahasa Suomi. Setelah sadar saya perhatikan, lekas dia sudahkan perbincangannya. Aneh. Saat itu tampak tidak wajar. Mengapa harus malu. Bukankah justru zaman sosial media ini semua orang berlomba-lomba memamerkan kebisaannya? Lalu mengapa justru dia begitu menyembunyikannya pada saya. 

Pada satu kesempatan lain. Saya dan Rani sedang duduk santai di balkon di awal musim semi tahun lalu. Saya berteriak secara mendadak sambil menunjuk ke arah langit, seolah-olah ada sesuatu yang mau jatuh.  

"Varo!" pekik saya, saat itu.  

Kata seru itu adalah jebakan, seolah-olah ada suatu yang gawat terjadi di langit yang saya tunjuk. 

Dengan lekas Rani Jika dia refleks melihat ke arah atas. Lalu bertanya, apakah ada jatuh dari angkasa. “Varo he-eh?” 

Saya menggelengkan kepala.  

Sudah setahun lewat saya tahu, dia berbohong pada saya. Setidaknya tidak mau berterus terang.  

Itu memang haknya. Di sisi lain, saya merasa itu bukan hal yang wajar untuk ditutup-tutupi. 

Dia menguasai bahasa Suomi, dan saya harus menandinginya. 

Kemarin malam Apo menghubungi saya dari Manila sehari sebelum kembali ke sini. Saya menyambutnya sebagai teman.  

“Saya selalu bahagia, dan besok malam waktu 22.48 Eastern European Time akan kembali ke sana.”  Tulis Apo dalam bahasa Suomi yang gamblang. 

Lihat selengkapnya