Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #17

17

RANI 

Saat Apo pulang ke kampung halamannya di Quezon City, Filipina, aku yakin dia akan kembali lagi ke sini dengan banyak alasan. 

Dalam acara di mulut gerbang padang golf empat bulan tahun lalu, aku merasa keramaian itu acara santai belaka. Orang di sini menyebutnya välipala, obrolan sore dengan sajian sederhana dan serba cepat. Tak ada meja makan. Jangan harap ada makan tengah saat itu. Apa lagi makanan besar.  

Meja di samping panggung terhampar camilan berupa roti pita, roti asin, telur rebus cincang keju, buah aneka berry segar, air minum, bergelas-gelas susu, dan aneka roti tradisional karelian piee. Makanan dan minuman itu pertanda, bukan karena irit anggaran. 

Para tamu undangan yang hadir saat välipala hanya membincangkan hal-hal yang menggembirakan. Bukan omongan basa-basi, bukan juga berita sedih.  

Aku ingat, saat itu Apo hanya menyanyi dua lagu dalam satu medley yang dinyanyikan dengan gaya flamenco. Yang aku dengar, dia membawakan lagu-lagu cinta. Dia menyanyi, sambil bergoyang di atas panggung. Gaya asyiknya tidak berkurang.   

Dua lagu selesi dinyanyikan, waktu tersisa masih terasa banyak. Semuanya menikmati waktu dengan obrolan santai. Tak ada yang melenceng saat itu. 

Apo sebagai host sekaligus penyanyi tidak tampak sedih. Dia tidak menyebut “paalam”, atau “moikka”, atau “good bye”, atau “farewell”. Tak ada satu kata perpisahan terdengar saat dia atas panggung. Begitu yang aku lihat. Pesta camilan itu menyisakan banyak tanda tanya di benakku. Namun, aku tidak merasa sedih sedikit pun. Karena aku yakin, Apo pasti kembali.  

Dan benar saja, saat ini dia berada di depan pintu apartemen kami di lantai dua. 

Dengan dua cangkir kopi hitam, aku menghampiri Apo yang tengah duduk di ruang tamu memandangi tumpukan buku-buku dan kain-kain di atas meja tamu. Uap kopi mengepul tipis di antara kami yang sama-sama sedang bertahan hidup di negeri orang menuntut ketahanan setangguh lumut kutub. 

Dengan bahasa Suomi yang terang, Apo menggeser posisinya ke arahku tempat dudukku. Aku salah tingkah dibuatnya. 

“Kamu baik-baik saja, Rani?” 

“Apo, lu sudah lihat sendiri. Kondisi gue dalam keadaan enggak baik-baik saja.” 

“Pikiran dan kondisi saya juga kacau.” 

“Apo, lu lebih beruntung.” 

“Ya, saya selalu merasa kaya raya sebab semua teman mencintai saya.” 

Saat Apo pulang ke kampung halamannya di Quezon City, Filipina, aku yakin dia akan kembali lagi ke sini dengan yang baru saja dia katakan barusan.  

Orang bilang, semakin jauh seseorang pergi, semakin banyak hal baru yang akan ditemukannya. Terlalu banyak yang Apo dapatkan, saya yakin saya tidak salah duga. 

Dan pada akhirnya, dia akan mencari satu tempat yang membuatnya bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura-pura. Dia mau menyanyi, bersuaralah dia dengan lantang.  

“Rumah bukan selalu tempat kita dilahirkan, melainkan tempat hati kita memilih untuk pulang,” kata Apo melempar jauh jari telunjuknya ke arah belakang kepalanya. 

“Quezon City?” tanyaku, gelagapan. 

Dia hanya membuang senyum ke arah awan. Katanya dengan matanya berkaca-kaca, “Sampai sekarang saya belum melengkapi prosedur dan administrasi naturalisasi.” 

Di kota ini dengan langit yang tak pernah sama, aku menyadari bahwa jarak hanyalah ilusi belaka.  

"Kamu bisa mengganti pemandangan, tapi kau tak akan pernah bisa mengganti akar yang menahanmu," bisik Apo, hampir untuk diri sendiri. 

Ternyata itu sebuah peribahasa dari Filipina. Aku penasaran, dari mana dia bisa mendapatkan kata-kata sebagus itu. Aku yakin, apa yang dikatakan Apo bukan sebuah sindiran. 

Kecuali untuk mengomentari kasus-kasus korupsi di Indonesia, Apo jarang bersikap abu-abu, aku suka pada sikapnya. Untuk kasus korupsi di tanah air, dia merasa sungkan. Dia tak mau menilai negara tetangga sementara di negaranya pun masih ada kasus korupsi. Yang sebenar-benarnya, aku akan merasa rela jika siapa pun memberi komentar dan kritik terhadap kasus korupsi yang semakin meningkat di sana. 

Tiba-tiba Apo tertawa lebar saat mendengar komentarku tentang kembalinya di ke sini. 

“Mengapa kembali lagi ke sini?” tanyaku padanya. 

“Perjalanan pulang ke sini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian tertinggi yang sering disalahartikan.” Dia masih menyisakan tawa di mulutnya.  

“Jadi, lu itu balik ke sini karena...?”  

"Ombak pun selalu kembali ke laut setelah berdebur di pantai. Saya tidak salah. Mengapa kita malu untuk kembali ke pangkuan kita?" Katanya. 

Untuk pertama kalinya Apo tidak merayuku dengan rayuan gombalnya. Dia duduk mendekat di sebelahku. Dan ini juga untuk pertama kalinya aku merasa nyaman di duduk di sebelahnya, bahkan ingin lebih lama lagi. 

“Saya mau mengucapkan terima kasih. Maaf waktu itu tergesa naik pesawat,” katanya menatap ke arahku seperti ingin berbohong.  

“Soal apa, Apo?” 

“Uang. Apa pun alasanmu, uang yang kamu berikan jelang pulang ke Filipa sesuatu yang aneh, ganjil, tapi saya menikmatinya.” 

“Di Indo biasa seperti itu. Orang mau mudik, dibekali uang. Orang mau pergi dibebani permintaan oleh-oleh.” 

Lihat selengkapnya