Pahit Lebih Manis

Yesno S
Chapter #18

18

SANTI 

Ibarat rumah, Rovaniemen adalah taman kecil di halaman rumah yang asri.  Negeri ini dipenuhi hujan pinus dan kawasan hijau. Namun, buah hati di Kota Rovaniemi itu dirawat. Tanaman pinggirnya setiap hari disiram setiap hari, selama tiga musim setahun. Pada saat musim dingin semua terhenti, semua akhirnya memutih. 

Saya berjalan dari kampus menuju apartemen di antara burai salju. Berakhirnya musim gugur menjejak di musim dingin mengajarkan saya bahwa melepaskan segala sesuatu bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari keteguhan untuk menghadapi hari-hari yang lebih berat. 

Sesampainya di apartemen, saya menyadari angin di penghujung Desember tadi berderak disertai salju buntal. Rak prlu lagi saya mengingat musim gugur yang sudah lama lewat. Saat ini derai salju membuat padang rumput kering jadi putih kelambu. Mereka tidak pernah datang untuk menghapus jejak musim gugur, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap akhir selalu menyimpan kemungkinan lahirnya awal yang lebih bijaksana. Hati saya menyebut sejumlah nama. Mana teman yang patut diperjuangkan. Mana teman yang harus dikubur karena merugikan. Tak perlu dicatat, tapi perlu diingat-ingat. 

Saya duduk di sofa panjang di dekat jendela kaca. Saya mulai terbiasa menepis ingatan tentang lelaki berbau obat nyamuk, sambil membiarkan jendela terbuka lebar. Tak lama kemudian, bel berbunyi lima kali dengan jarak waktu ketukan yang terukur. Itu pasti Miina Enniina. 

Lama dia menghilang dalam kehidupan saya. Dua bulan lebih dia tidak tidur di sofa panjang ini. Bisa-bisa hampir tiga bulan lamanya kami tidak bertemu. Saling berkontak dengan seluler pun tidak.  

Miina bukan tipikal orang yang ke mana-mana mengantongi seluler. Kecuali satu hari di masa lalu. Saat itu, selulernya menonjol di dalam saku celana sebelah kiri.  

Beberapa kali saya berpapasan dengan Rani, Niken, dan salah teman mereka yang lain. Kadang di lapangan parkir, kadang di lantai dasar di dekat lift, dan pernah juga di mini market di dekat apartemen.  Yang cukup aneh, saya belum pernah bertemu dengan Miina bersama mereka. Saya sering berharap bisa bertemu dengan Miina di lantai dasar, seperti saya bertemu dengan Rani dan kawan-kawannya.  

Tidak ada informasi yang mengatakan bahwa selama ini Miina menginap di apartemen Rani dan kawan-kawannya. Hanya insting saya sendiri yang mengatakannya. Tidak mungkin tidak. Selama ini Miina pasti menginap di sana. 

Memang Minna tidak menyukai ke sana kemari secara bersamaan dengan teman-teman. Dia lebih senang sendiri. Kalaupun ada kesempatan jalan bersama, dia pasti menghindar dengan berbagai cara.  

“Miina. Kita bisa jalan bersama. Kita bisa ngobrol banyak hal yang seru-seru,” kata saya waktu itu. 

“Justru saya tidak pernah mau ngobrol sambil jalan bersama.” 

“Kenapa?” 

“Berisik di seperti telanjang di tempat umum.” 

Saya tidak bisa berkomentar apa-apa saat itu. 

Saat itu saya hendak ke Helsinki untuk menemui lelaki beraroma obat nyamuk. Miina juga harus ke terminal Rovaniemi, naik bus menuju Kota Mariehamn, kota paling jauh dari Rovaniemi. Tanpa pamit, Miina jalan terlebih dahulu mendahului saya. 

Di pihak lain, saya tidak melihat Niken, terutama Rani, seperti kehilangan Miina. Tidak ada salah satu pun dari mereka yang menanyakan Miina pada saya. Saya yakin, Miina ada di sana. Mungkin dia bepergian di luar waktu kebiasaan saya keluar masuk apartemen. Sempat terpikir meminta rekaman CCTV pengelola apartemen, tapi apa alasannya? Saya merasa mulai berlebihan untuk urusan ini. 

Jika Miina tidak tinggal di sana, Rani sudah tampak kelabakan sejak lama. Dia pasti mencarinya ke apartemen saya. Saya yakin itu.  

Dari yang saya lihat, Rani sangat menghormati Miina. Rani memberikan atensi yang besar setiap Miina bicara, saya tahu persis itu.  Rani tak perlu mengatakannya, saya cukup tahu dari gerak tubuhnya yang sangat menghargai Miina. 

Misal pun saya bertanya Rani tentang Miina bisa saja. Rani pasti akan menjawab tanpa ada yang perlu disembunyikan. Hanya saja saya yang enggan menanyakan Miina pada Rani. Saya malas melihat gayanya merapikan baju, saat merasa besar kepala. 

Miina tak akan bisa lama menghindar dari saya. Itu pasti. Terlalu banyak urusan yang belum selesai di antara kami berdua. Beberapa potong pakaian serta alat-alat pancing masih tersimpan di sini, tapi itu urusan sepele. 

Saya masih menyimpan hasrat yang besar terhadap proyek yang diberikan kedua orang tua saya pada Rani. Inilah yang saya perjuangkan selama ini. Kedua orang tua saya akan memberikan beasiswa bagi guru yang berminat menimba ilmu pendidikan di negeri ini. Rani menjadi ketua proyek ini. Mana bisa saya tidak cemburu mendengar ini semua. 

Oleh sebab itu, saya mesti tahu, apakah Rani sudah pasti dan benar-benar akan pindah kewarganegaraan, atau tidak. Jika tidak, saya harus mencari cara lain untuk merebut proyek ini. Namun jika dia benar-benar pindah, maka jalan saya akan terbuka mulus. 

Saya sama sekali tidak menduga, Rani mengambil keputusan untuk pindah dari apartemen ini. Dia dan Niken dan seorang teman lagi asal Afrika, memilih tinggal bersama di lantai dua. Saat itu tiga bulan yang lalu, di puncak musim gugur.  

Dan sekarang lihat! Miina datang, siapa tahu bisa menjadi kubu lawan bagi orang-orang di lantai dua. 

Melihat saya duduk di sofa panjang, Miina Ennina meminta saya pindah duduk di sofa tunggal.  

“Hari ini saya ingin merasakan sofa panjang,” kata Miina sambil menjentik-jentikan bagian sambungan jok sofa panjang itu dari debu. Bahasa Indonesia Miina semakin terang.  

“Oh, kenapa bilang begitu? Ini toh punya kamu?” kata saya sambil menunjuk ke arah sofa panjang. 

“Bukan. Ini milik kamu.” 

“Ya, tapi sudah saya berikan buat kamu, toh.” 

“Saya pikir sofa panjang ini kamu beli untuk Rani.” 

“Masa saya pernah bilang begitu?” 

“Mestinya sofa panjang ini untuk Rani.” 

Lihat selengkapnya