RANI
Angin malam menggigit kulit, tetapi Frank Setiawan tak tampak ingin menyudahi permainan saljunya. Gundukan salju dibentuk gunung-gunung lalu disiram cokelat panas dalam kotak metal kedap. Beberapa rupa setan, cacing, dan awan sudah terbentuk. Sebagian dia makan sendiri. Sebagian dia simpan di kotak makan. Dia masih mau mengulangi sekali lagi.
Aku membiarkan dia bermain untuk mengusir rasa penasarannya pada titik batas suhu dingin. Dan benar. Frank menyatakan belum ingin segera masuk ke dalam. Rencana kami tertahan sejenak di antara hamparan salju, di jauh luar halaman hotel. Salju menjelang akhir tahun turun begitu melimpah. Malam ini seperti banjir salju di Lapland, hanya sedikit menyisakan suasana hening.
Aku tahu, di hotel kecil itu, Mama dan Papa Santi sudah menunggu sejak tadi. Tampak jelas Frank sampai sekarang masih ingin berlama-lama di luar, di antara pohon pinus yang dipenuhi uban putih.
Aku mengamati bagaimana tangannya gemetar saat menyingkirkan ranting pinus rapuh yang baru saja rontok, jatuh di depannya. Kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya. Lapangan rumput luas menjadi padang kelambu putih yang dingin mencekam. Untuk kali kedua Frank mengulurkan tangannya padaku. Kali ini aku tidak bisa menolak. Udara dingin memberi tanda bahaya, seperti ingin membunuh siapa saja yang masih hidup.
Dia ingin menyimpan pemandangan itu di dalam ingatannya, karena dia tahu suatu hari nanti mungkin sulit mencari peluang liburan di Lapland saat banjir aurora di langit. Setidaknya, dia akan segera kembali menjadi seorang pekerja di Jakarta, sibuk, kemeja lepek, udara panas, macet, polusi, berita tentang korupsi, menonton tayangan ratusan video pendek tentang jajanan yang viral, hidup jauh dari ketenangan, dan hanya memiliki satu-satunya tempat yang istimewa: rumah, sebagai satu-satunya kenangan paling sunyi untuk pulang.
Dia menganggap Jakarta ibarat gym center dengan pendingin udara yang rusak dan bau kencing. Tempat yang tangguh untuk berlatih, seperti berserah hidup dan mati. Sedangkan di sini, menurutnya, sebagai tempat untuk menumbuhkan kulit ari yang sudah usang dan mengelupas. Dia memang lelaki yang pintar bersolek.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa salju bisa mengubah cara seseorang memandang dunia. Sebagai perempuan Indonesia yang tumbuh di negeri tropis, dingin bagiku dahulu hanyalah udara dari pendingin ruangan atau hujan deras yang membuat tubuh menggigil sesaat. Namun ketika aku bekerja di sini, musim dingin memperkenalkan dirinya dengan cara yang jauh lebih santun.
Langit menjadi pucat seolah matahari sedang belajar berbicara dengan suara yang pelan. Pepohonan kehilangan daun-daunnya, menyisakan ranting-ranting yang tampak seperti tangan tua yang sedang berdoa. Salju turun perlahan, tanpa suara, menutupi jalan, atap rumah, bangku taman, bahkan jejak langkah manusia yang baru saja tercipta beberapa menit sebelumnya.
Saat pertama kali aku menginjak hamparan putih itu, terdengar bunyi kecil berderak di bawah sepatu. Aku tersenyum sendiri. Rasanya seperti sedang berjalan di atas halaman kosong yang menunggu ditulisi cerita baru. Di negeri ini aku belajar bahwa putih bukan hanya warna, melainkan juga kesempatan untuk memulai lagi.
Di langit kelam, mulai tampak cahaya hijau luntur. Kupandangi aurora yang begitu banyak diburu orang. Kupandangi terus seperti tak mau lepas. Puluhan turis menyebar di antara pepohonan pinus. Mataku menyaksikan langit yang seperti sedang memaafkan bumi. Aku memasukkan ponsel kembali ke saku. Tidak semua keindahan harus dibagikan kepada dunia. Sebagian cukup disimpan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa harapan pernah benar-benar melintas di atas kepala.
“Kamu ditunggu Bapak yayasan dan Ibu di dalam,” suara Frank memecah keheningan. Dia menunjuk hotel butik di belakangnya.
“Mestinya gue yang ngomong begitu dari tadi” aku melepas genggaman tangannya.
Aku pikir, semua sudah aku selesaikan pada Mama dan Papa Santi dengan seluler sejak kemarin. Dari komunikasi itu aku berharap mereka mengerti apa yang aku mau. Jadi aku anggap malam ini hanya temu kangen sebelum tamu istimewa pulang tulat ke Jakarta.
Di lobi hotel mungil itu, Mama dan Papa Santi sudah menunggu. Beberapa kali mereka menawari aku makan malam. Dua kali aku jawab dengan anggukan kepala dan senyuman paling manis. Kuharap mereka tahu apa maksudnya.
Lalu lalang turis makin menjadi. Mereka saling memberi usul, untuk segera pindah agar bisa bicara lebih santai. Aku tak berharap diajak masuk ke dalam hotel, atau pindah ke kahvila—kedai kopi yang juga menjual aneka roti gandum khas Nordik. Sayangnya, mereka sudah mencuri start dengan makan malam pada lebih awal, sehingga sejak tadi sangat ingin minum kopi di kahvila, dan aku yakin perbincangan ini tak bisa sebatas dua cangkir kopi hitam.
“Saya ingin minum suoda tinkahvi. Kamu juga mau?” kata Mama Santi sambil menutup buku menu. Dia menunjuk ke arah muck up gelas kopi filter.
“Terima kasih, Tante.” Aku menggelengkan kepala. Tak kuat rasanya langsung bertemu kopi di malam dingin dengan perut kosong. Aku memesan shake dan satu paket roti Nordik yang berisi tiga potong roti gandum yang terdiri dari beraneka isian keju, kacang, selai, buah kering, daun kering, dan kismis. Kopi hitam ronde berikutnya. Menurutku itu lebih aman. Percayalah, Malam ini bukan ronde tunggal.
Papa Santi tampak tak tahan menunggu obrolan. Dia menggeser tempat duduknya, sedikit menjauhi kursiku, dan saat ini lebih dekat ke arah istrinya.
Tak disangka-sangka, Miina Ennina datang dari arah dalam hotel. Dia memanggil namaku dengan sapa miskin kata, gaya seperti biasanya, ala kadarnya. Dia duduk, tepat di sebelah Mama Santi. Tak ada sebaris kalimat basa-basi untuk semua orang, lalu melipat kedua tangan seperti siap mendengarkan sebuah diskusi paling penting di dunia ini.
Aku perlu meralat pikiranku sendiri. Sepertinya malam ini tidak perlu bergelas-gelas kopi hitam. Aku lupa. Aku telah menyelesaikan semuanya melalui seluler. Sejak tadi malam sampai tadi siang, aku terus berkomunikasi dengan Mama Santi.
Aku telah jelaskan semuanya dengan rinci bahwa aku tidak berkenan keluarga Santi membeli rumah keluargaku. Itu satu-satunya rumah kami di Jakarta. Jika itu dijual, langit mana lagi yang bisa menaungi seluruh keluarga besar kami? Ada empat keluarga yang tinggal di sana. Semuanya bernaung di rumah yang sama. Rumah milik Bapak. Jadi tak ada diskusi apa pun untuk menjual rumah itu.
Dalam Whatsapp, Mama Rani menulis.
Mama Santi: Justru kami ingin menolong keluargamu, Rani. Dengan rumah itu, utang Bapakmu lunas, dan masih ada sisa untuk hidup mengontrak di pinggiran Jakarta.
Sebenarnya aku tak ingin membalas bagian ini. Namun aku pikir-pikir lagi, tak elok jika aku diamkan dialog yang sesungguhnya aku juga membutuhkan kesempatan untuk bicara pada mereka.
Dengan tegas aku tulis balasan atas pernyataannya, dengan harapan apa yang aku sampaikan tidak membuatnya tersinggung, namun mereka mengetahui betapa pentingnya rumah buluk itu untuk keluarga kami. Aku menyanggupi pembayaran utang Bapakku pada mereka. Hati-hati aku menulis pesan Whatsapp untuk mama Santi.
Aku: Dua bulan ke depan, utang Bapak mulai dicicil.