Namaku Raka. Kata ibu umurku sembilan tahun. Kata Ayah, umur tidak penting. Yang penting adalah tetap sekolah—walau perut sering berbunyi saat pelajaran berlangsung.
Ayahku adalah seorang guru honorer di sekolahku sendiri. Kata Bu Guru, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi kenapa pahlawanku setiap malam selalu duduk di atas tikar kusam sembari menghitung lembaran uang ribuan yang sudah lecek? Kenapa pahlawan di buku cerita punya baju besi, tapi Ayah cuma punya sepatu hitam robek yang solnya diikat karet gelang?
"Yah, kenapa nggak beli sepatu baru?" tanyaku suatu sore ketika kami berjalan pulang melewati jalan berbatu. Aku melihat langkah Ayah sedikit pincang karena sol sepatunya hampir terlepas.
"Sepatu Ayah masih bisa diajak jalan, Nak," jawabnya sambil tersenyum.
Aku bingung. Kalau jari kaki Ayah sudah mengintip dari balik robekan kulitnya, kenapa Ayah bilang masih bisa berjalan? Apa sepatu orang dewasa memang punya keajaiban yang tidak dimengerti anak kecil?.