pahlawan bersepatu rusak

Farhan Bashori Hasan
Chapter #2

Kontak Mewah dan Kerupuk Ibu

Suatu pagi, suasana sekolahku berbeda. Sejak bel masuk belum berbunyi, banyak orang sibuk mondar-mandir. Ada yang memasang spanduk besar bergambar anak-anak tersenyum sambil mengangkat kotak makan. Ada pula petugas yang mengecat ulang tiang gerbang yang biasanya penuh lumut. Bahkan rumput liar di halaman yang selama ini dibiarkan tumbuh tinggi mendadak dipotong hingga rapi.

Bu Guru berkata hari itu sekolah kami kedatangan tamu penting.

"Anak-anak, nanti duduk yang rapi. Jangan ribut. Kalau difoto, semuanya harus tersenyum, ya."

Aku mengangguk, walau tidak benar-benar mengerti.

Tak lama kemudian, beberapa mobil hitam berhenti di depan sekolah. Turunlah bapak-bapak berbaju safari yang licin dan mengilap. Di belakang mereka ada orang-orang membawa kamera besar, mikrofon, dan lampu yang sangat terang. Mereka berjalan sambil tersenyum, tetapi senyum itu terasa aneh. Mereka baru kulihat hari itu.

Kotak-kotak makan mulai dibagikan. Ketika kubuka tutupnya, mataku terbelalak. Ada nasi putih hangat, telur rebus, sepotong daging ayam berbumbu, tumis sayur berwarna hijau, buah, dan sekotak susu. Harumnya membuat perutku langsung berbunyi.

Aku makan perlahan. Sudah lama aku tidak melihat lauk sebanyak itu dalam satu piring. Di rumah, makan dengan telur adalah kemewahan. Kadang Ibu hanya menggoreng satu kerupuk yang dipatahkan menjadi beberapa bagian agar terlihat banyak. Beliau selalu bilang sudah kenyang, padahal aku tahu beliau hanya ingin aku dan Ayah yang makan lebih dulu.

 

Saat kami mulai menyuap makanan, kamera-kamera itu langsung mengarah ke wajah kami.

"Tersenyum... ya, bagus!" teriak seseorang.

Lihat selengkapnya