Beberapa minggu setelah Program Makan Bergizi Gratis berjalan, keadaan sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada lagi kamera besar. Tidak ada lagi mobil hitam yang memenuhi halaman. Yang tersisa hanya spanduk besar bergambar anak-anak tersenyum sambil mengangkat kotak makan.

Suatu malam, Ayah pulang lebih larut dari biasanya. Langkahnya pelan, bahunya terlihat semakin membungkuk. Tas lusuh yang selalu dibawanya diletakkan begitu saja di sudut ruang tamu. Aku melihat wajahnya pucat dan matanya merah seperti orang yang sangat lelah.
Aku pura-pura mengerjakan PR di ruang depan, padahal telingaku mendengarkan percakapan Ayah dan Ibu di dapur.
"Dana sekolah dipangkas lagi, Bu," bisik Ayah lirih.
Ibu berhenti mengaduk air panas.