pahlawan bersepatu rusak

Farhan Bashori Hasan
Chapter #4

Badai di Ruang Kelas

Titik nadir itu hadir pada hari Kamis yang kelam.

Sejak pagi langit berwarna abu-abu pekat. Angin berembus kencang, membuat jendela kelas berderit tanpa henti. Bu Guru sempat berkata hujan mungkin akan turun sebentar saja. Namun beberapa menit kemudian, langit seolah pecah.

Air turun begitu deras hingga suara kami tenggelam oleh gemuruh hujan. Tetesan air mulai merembes dari sela-sela atap yang sudah lama rusak. Mula-mula hanya satu titik. Lalu dua. Tak lama kemudian, air mengucur dari berbagai arah seperti keran yang dibuka bersamaan.

"Anak-anak, pindah ke pojok!" teriak Ayah.

Kami berhamburan membawa buku dan tas. Meja-meja digeser sekuat tenaga, tetapi percuma. Air terus mengalir hingga membanjiri lantai kelas. Ember-ember bekas yang biasanya dipakai menampung bocoran sudah tidak mampu lagi menahan derasnya air.

Tiba-tiba terdengar suara kayu patah.

KRAAAK!

Sebagian atap kelas tiga runtuh. Pecahan genting berjatuhan, disusul potongan plafon yang menghantam meja guru. Air hujan langsung masuk tanpa penghalang. Papan tulis berubah basah, kapur-kapur larut menjadi lumpur putih, sementara buku-buku pelajaran mengambang di lantai yang mulai tergenang.

Pelajaran berhenti total.

Kami bertumpuk di sudut kelas yang masih sedikit kering. Beberapa teman menangis ketakutan. Ada yang memeluk tasnya erat-erat, seolah tas itu bisa melindungi mereka dari badai.

Di tengah riuh hujan, Ayah masih berusaha menenangkan kami.

Lihat selengkapnya