Hujan belum juga reda ketika Ayah dibawa ke Puskesmas.
Aku berjalan di belakang Ibu sambil memeluk tas sekolahku yang basah. Sepatu Ayah yang solnya sudah terlepas ditinggalkan di depan ruang kelas. Aku kembali berlari mengambilnya. Entah kenapa, rasanya aku tidak tega membiarkan sepatu itu sendirian di tengah genangan air.
Sepanjang perjalanan, Ayah tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru karena kedinginan. Guru-guru bergantian memayungi Ayah dengan jas hujan yang sudah robek di sana-sini.

Di ruang tunggu Puskesmas, orang-orang duduk berdesakan. Bau obat bercampur dengan bau pakaian basah memenuhi ruangan.
Dokter segera memeriksa Ayah. Aku melihat Ibu menggenggam ujung kerudungnya erat-erat, seolah hanya itu yang masih bisa dipegang.
Tak lama kemudian seorang perawat keluar dari ruang obat.
"Maaf, Bu," katanya pelan. "Obat yang dibutuhkan sedang kosong."
Ibu berdiri.
"Kapan ada lagi, Mbak?"
Perawat menggeleng.
"Belum tahu. Pengadaan obat dari daerah sedang ditunda."
"Kalau beli di luar?"
"Bisa... tapi harus di apotek."
Ibu membuka dompetnya. Isinya hanya beberapa lembar uang yang bahkan tidak cukup membeli satu kotak obat.
Beliau menatap uang itu lama sekali.
Lalu perlahan duduk di lantai.
Tidak ada suara tangis. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang jatuh satu demi satu ke lantai keramik yang dingin.
Aku belum pernah melihat Ibu sekecil itu.
Dokter kemudian keluar menghampiri kami.
"Suami Ibu terlalu lelah," katanya lirih. "Tubuhnya kekurangan gizi. Lambungnya juga sudah lama kosong. Beliau sering menahan lapar."
Aku menoleh ke arah ruang perawatan.
Ayah...
Ayah yang setiap pagi menyuruh murid-muridnya sarapan.
Ayah yang selalu berkata, "Kalau lapar, belajar jadi susah."
Ayah ternyata sering mengajar dengan perut kosong.
Dadaku terasa sesak.
Aku tidak mengerti.
Katanya negara ingin anak-anak tumbuh sehat.
Lalu kenapa guru yang mengajari anak-anak justru kelaparan?
Aku duduk di samping ranjang Ayah hingga malam tiba. Lampu kamar perawatan redup. Hanya suara hujan yang masih terdengar dari balik jendela.
Di pangkuanku ada sepatu Ayah.