Malam di awal tahun 2000 itu dibungkus jelaga tebal dan dingin yang menusuk tulang. Di sebuah lembah terpencil di kaki Gunung Merapi, kabut tebal turun membawa abu tipis yang tersisa dari erupsi kecil beberapa bulan sebelumnya. Suara serangga malam tenggelam oleh deru angin yang menyapu dedaunan pohon pinus. Namun, di tengah bentang alam yang liar dan terisolasi itu, berdiri sebuah bangunan mewah megah bertingkat dua—sebuah monumen kesombongan bertembok tinggi dengan arsitektur gaya kolonial modern yang sangat kontras dengan sekelilingnya. Di lantai atas bangunan itu, terkurung seorang pejabat tinggi negara. Pejabat itu disekap dalam kamar berjeruji besi, tubuhnya dipenuhi lebam, pakaian dinasnya terkoyak, dan napasnya tersengal akibat siksaan berhari-hari oleh kelompok orang-orang yang tidak dikenal.
Bangunan tersebut dirancang sebagai benteng yang tidak tertembus. Selain tembok setinggi lima meter yang dipasangi pecahan kaca dan kawat berduri, benteng ini dikelilingi oleh parit melingkar selebar enam meter. Parit itu bukan diisi air biasa, melainkan kolam buatan yang dihuni oleh belasan buaya muara. Di dalam air yang keruh dan tenang itu, monster-monster bersisik tebal laksana melayang tanpa suara di dalam air, mata kuning mereka yang memantulkan cahaya lampu taman menanti dengan ganas setiap pergerakan yang jatuh ke air.
Di balik kegelapan semak belukar di seberang kolam, lima sosok berdiri seperti patung. Mereka adalah para Pajineman—pasukan rahasia yang bergerak di balik bayang-bayang. Seluruh tubuh mereka terbungkus pakaian ringkas berwarna hitam kelam dari bahan kain tebal yang fleksibel, dirancang agar tidak menimbulkan bunyi gesekan. Wajah mereka tertutup kain hitam rapat, hanya menyisakan segurat celah mata yang tajam dan dingin.
Di punggung dan pinggang kelima sosok terlatih ini, terikat senjata-senjata tradisional yang telah dimodifikasi untuk efektivitas mematikan. Sang Pemimpin memegang ganco bertali—sebuah kait besi tempa melengkung ganda yang tersambung dengan tambang serat nanas yang sangat kuat namun ringan. Pajineman kedua menyilangkan sepasang pedang kembar pendek di punggungnya. Pajineman ketiga memegang tombak pendek berkepala dua dengan mata bilah beracun. Pajineman keempat menyelipkan belasan pisau kecil bergerigi di sabuknya, sementara Pajineman kelima menyimpang botol-botol kaca berisi bom molotov yang dibungkus kain goni bersumbu pendek.
Pajineman Pemimpin memberi isyarat tangan. Kode jari yang ringkas namun dipahami sempurna. Pajineman pembawa pisau kecil melangkah tanpa suara ke tepi kolam buatan. Matanya memindai air kolam yang tenang. Sesekali, moncong bergerigi buaya muara muncul di permukaan air, memutus pantulan bulan setengah. Dengan gerak yang cepat, ia mengorek kantong kecil di pinggangnya, lalu melempar sebongkah daging segar yang diambil dari kantongnya ke arah sudut jauh kolam.
Cipratan air membuncah hebat. Dua buaya muara berukuran empat meter saling berebut, memicu rantai reaksi ganas di antara belasan reptil lainnya. Air kolam bergolak sengit, mencuri perhatian para penjaga berlaras panjang yang berada di atas pos menara.
"Ada apa di bawah?" teriak seorang penjaga di menara, memajukan tubuhnya sambil menyorotkan lampu senter besar ke kolam.
Saat perhatian penjaga teralih, Pajineman yang membawa kait memutar ganco bertali di udara tanpa suara, lalu melemparkannya. Kait besi itu meluncur mulus melintasi kolam, menancap tepat pada balok kayu di bawah selasar lantai dua.
Klak.
Suaranya hampir tak terdengar, tenggelam oleh gemericik air kolam dan kegaduhan buaya.