Semarang, XX September 1995
"Berhenti di sini, Pak!"
Angkot warna kuning melambat sebelum akhirnya berhenti begitu saja di pinggir jalan raya. Tidak ada penumpang yang naik ataupun turun dari sana. Satu-satunya penumpang, seorang pria, menggeser tubuhnya ke depan. mengulurkan beberapa lembar uang. Nilainya sepuluh kali lipat dari tarif biasa.
"Lima menit ya, Pak!" kata sopir itu memperingatkan.
Pria itu mengangguk. Tapi tak benar-benar memperhatikan. Matanya nyalang ke segala arah. Kiri. Kanan. Depan. Belakang. Kendaraan yang berjalan berlawanan arah. Terlebih kendaraan dari arah belakang. Matanya redup dan raut mukanya menunjukkan kegelisahan. Seolah takut sesuatu akan datang.
Setelah merasa sedikit aman, pandangan pria itu jatuh menatap jauh ke sebuah rumah di pinggir jalan. Kaca mata yang dipakainya tampak berkilat. Kumisnya yang tumbuh tak beraturan karena dicukur asal-asalan bergerak tipis.
Halaman rumah itu luas. Seorang anak laki-laki sedang belajar sepeda sendirian. Umurnya mungkin baru tujuh tahunan. Dia tampak kesusahan menyeimbangkan tubuh kecilnya di atas sepeda. Tapi, dengan sedikit usaha, roda sepeda berhasil maju ke depan beberapa meter.
Lalu, tiba-tiba anak itu jatuh. Pria yang memperhatikannya itu meringis. Sedikit berjingkat dari duduknya. Tapi segera kembali ke posisinya. Tangannya mengelus benda yang sedari tadi dia kepal dengan kedua tangan. Sebuah boneka kecil dari kayu yang berbentuk beruang seukuran telapak tangannya. Itu hasil ukirannya sendiri.